Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVI/C/2016

 Am 6:1a.4-7 1 Tim 6:11-16 Luk 16:19-31


PENGANTAR

    Bagi kita yang sungguh sadar sebagai orang yang beriman, Yesus selalu ingin mengatakan sesuatu kepada kita, lewat ceritera atau suatu perumpaan. Hari ini Ia berbicara tentang orang yang bergembira dan tentang orang yang sedih, namun sementara sifatnya, tetapi harus dihubungkan dengan hidup abadi.

HOMILI
     Di tengah keramaian dunia kita sekarang ini, sambil melihat dan mengalami hal-hal atau keadaan sehati-hari yang tampak dan nyata, kita selalu diajak untuk mengadakan refleksi atas fakta-fakta, baik yang positif maupun negatif dalam hidup kita, untuk menemukan kehendak Tuhan di dalamnya.

     Dalam perumpamaan Injil Lukas hari ini disebut tiga pribadi: seorang pengemis, yaitu Lazarus; seorang yang kaya, tidak disebut namanya; dan Bapa Abraham. Abraham ini menyampaikan kebijaksanaan Allah. Orang tanpa nama itu menggambartkan pandangan, pemikiran, ideologi yang dominan di zaman itu. Sedangkan Lazarus menggambarkan pengalaman dan ungkapan kaum miskin, yang kuatng atau tidak diperhatikan dalam masyarakat di zaman Yesus dan juga di segala zaman sampai sekarang ini juga.

     Situasi si orang kaya dan si orang miskin merupakan suatu situasi ekstrim nyata dalam masyarakat: kekayaan serba ada luarbiasa, tetapi juga kemiskinan yang luar biasa: tidak mempunyai hak apapun, tidak ada yang memperhatikan, kecuali anjing-anjing yang menjilati boroknya. Yang memisahkan kedua orang itu ialah pintu rumah yang tertutup rapat. Si kaya tidak berbelas kasih dan tidak menghubungi apalagi menerima di miskin itu. Si miskin itu mempunyai nama, sedangkan di kaya tidak ada namanya. Itu berarti secara alkitabiah, bahwa nama si miskin tertulis dalam "Kitab Kehidupan", dan Lazarus artinya "Allah menolong". Nama di kaya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan tersebut.

     Ternyata Allah menolong si miskin sampai kekal. Tetapi Allah mau menolong semua orang, juga orang-orang kaya. Kalau si kaya mau menolong si miskin, Allah akan menulis juga nama si kaya dalam Kitab Kehidupan. Tetapi saying si kaya tidak mau namanya juga tertulis di buku hidup itu, sebab ia malahan menutup pintu rumahnya! Perumpamaan Yesus itu menggambarkan kondisi dan situasi di zaman Yesus, tetapi juga dimasyarakat kehidupan Lukas, bahkan mencerminkan kondisi dan situasi dalam masyarakat dunia kita sekarang ini juga!

     Si miskin mati lebih dahulu karena kondisi hidup tak mampu memperjang hidupnya. Tetapi langsung dibawa malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Si kaya juga mati lalu dikubur. Si miskin mati lebih dulu. Nah, inilah suatu peringatan bagi si kaya. Ketika si miskin masih hidup dan berada di hadapan rumahnya, tersedialah bagi si kaya itu untuk ikut berudaya upaya untuk juga diselamatkan! Tetapi sesudah si miskin mati, hilanglah pula kesempatan yang diberikan Allah untuk diselamatkan. Si miskin adalah anak Abraham, yang langsung diterima dalam pangkuan-Nya. Si kaya pun yang juga mengakui dirinya sebagai anak Abraham ternyata tidak disambut dan dibawa kepangkuan Abraham!

     Setiap agama yang benar dan baik pasti mengajak segenap pemeluknya untuk dalam hidupnya bersikap dan berbuat baik terhadap sesama. Untuk saling menolong, saling berbagi, saling bertanggungjawab. Sebab Allah menciptakan manusia untuk dibawa-Nya kepada kebahagiaan segenap umat manusia, bukan hanya kebahagiaan pribadi/peroangan, melainkan seluruhnya.

     Dalam ajaran Yesus dalam perumpamaan tentang sikap dasar si miskin dan si kaya menurut Lukas hari ini, kita diingatkan untuk makin memahami dan menyadari ajaran Injili untuk menentukan dan melaksanakan sikap dasar kita sebagai orang kristiani sejati. Kebahagiaan kristiani sejati bukan individualistis, tetapi selalui disertai keinginan agar sesama kita, siapapun juga berbahagia. Individualisme, atau lebih secara lebih mendasar egoisme, itulah latar belakang sikap dasar orang si kaya dalam perumpamaan Injil Lukas. Meskipun ada kesaksian para nabi seperti Musa, orang-orang Yahudi tidak akan selalu bersedia mendengarkan. Kita semua masing-masing sebagai orang kristiani dewasa sejati, harus sungguh menggunakan kehendak bebas kita untuk menentukan sikap dasar otentik kristiani.

     Dalam perumpamaan hari ini Allah memperkenalkan diri sebagai Lazarus, yang duduk di muka pintu, untuk menolong kita melihat dan memahami jurang sangat dalam yang diciptakan oleh orang-orang kaya. Yesus adalah juga Lazarus, Mesias yang miskin dan sebagai hamba, yang ditolak dan dihukum mati, namun pada dasarnya dengan kematian-Nya Ia telah mampu mengubah total segalanya. Kemiskinan dan kematian hina Kristus memperlihatkan perubahan total hakikat agama dan iman yang otentik! Si kaya yang dimaksudkan dalam perumpamaan itu, meskipun mengaku dirinya beragama dan beriman, namun dalam kenyataannya ia tidak mengakui Allah, sebab ia tidak membuka pintu untuk menerima si miskin. Bertentangan dengan Zakheus, yang dianggap masyarakat sebagai orang berdosa, ternyata mau menerima Yesus (lih. Luk 19:1-10). Bagaimanakah hidupku sebagai orang beriman kristiani? Hidup sebagai si miskin Lazarus atau sebagai si kaya? Kita ingat akan pesan Paus Fransiskus, bahwa Yesus adalah wajah kerahiman Bapa-Nya. Maka Gereja-Nya yakni kita semua harus berusaha menampakkan wajah belaskasih Allah Bapa seperti Yesus dalam sikap, kata dan perbuatan-Nya.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/