Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVI/B/2015

  Bil 11:25-29   Yak 5:1-6   Mrk 9:38-43.45.47-48


PENGANTAR
     Gereja yang didirikan Yesus sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada-Nya sebagai Penyelamat sudah berada selama 20 abad! Ternyata keadaan dengan masalah-masalahnya, yang dihadapi Yesus dengan tanggapan, ajaran dan sikap-Nya, seperti kita dengar dari Injil Markus hari ini, kini pun tetap aktual dan relevan. Di tengah perubahan luarbiasa yang terjadi dalam masyarakat di dunia kita ini selama 2000 tahun, terdapat juga sesuatu yang tetap sama dan tak berubah. Ada yang hakiki dan baik, yaitu ajaran dan perbuatan Yesus; ada yang tidak baik, yakni kelemahan, kesombongan, egoisme manusia. Dengan latar belakang ini, marilah kita berusaha menangkap pesan Yesus, yang disampaikan Markus kepada kita dalam Injilnya, yaitu: mawas diri (introspeksi atau kritik diri) dan kerendahan hati.

HOMILI
     Dalam Injil Markus hari ini diceriterakan, bahwa murid-murid Yesus heran dan berkeberatan bahwa ada orang, yang bukan termasuk golongan mereka sebagai murid atau pengikut Yesus, ternyata dapat mengusir setan “demi nama”-Nya. Reaksi Yesus sungguh di luar dugaan: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:40)! Inilah salah satu pesan Yesus kepada lewat Injil Markus hari ini!

     Dewasa ini dalam masyarakat kita, jiwa dan semangat kristiani antar sesama seperti diajarkan Yesus menghadapi masalah dasar yang sama seperti dihadapi oleh Yesus sendiri 20 abad lalu. Dengan menggunakan bahasa modern atau kontemporer, kenyataan ini disebut sebagai suatu sikap eksklusifisme. Sikap merasa tersendiri, berbeda dari orang lain sebagai kelompok khusus dan sebagainya dapat berakar pada kesamaan darah/keluarga, suku, ras, jabatan, kedudukan, kekayaan dan sebagainya. Sikap itu merupakan suatu formalisme. Sebenarnya bagi setiap orang yang tulus, jujur, polos dan sederhana, sikap, kata, perbuatan  formal semacam itu tidak dikenal, terasa asing! Orang-orang yang tulus dan jujur ini, baik  sebagai secara resmi karena dibaptis, maupun orang kristiani yang anonim, bagaimana pun keadaan dan kedudukannya, akan tetapi sederhana dan tulus hati, dan selalu menghargai sesamanya, siapapun orang itu.

     Murid-murid Yesus yang diceriterakan Markus hari ini adalah orang-orang sederhana juga. Mereka bukan golongan orang terkenal, terpelajar atau berkedudukan penting dalam masyarakat, namun kesederhanaan mereka itu ternyata belum sungguh sederhana seperti dimaksudkan oleh Yesus. Ternyata mereka juga merasa lebih tinggi dan istimewa daripada orang-orang yang tidak termasuk murid-murid Yesus. Kita umat Kristen, pengikut Kristus, sekarang juga, sadar atau tidak sadar, banyak yang keadaan dan sifatnya seperti murid-murid Yesus dahulu. Sering juga merasa lebih tinggi daripada orang-orang lain, yang menurut keyakinan kepercayaan masing-masing tidak memeluk agama kita. Tetapi ternyata orang-orang yang beragama lain itu hidup, bersikap dan melaksanakan dan menghayati apa yang diajarkan dan dikehendaki oleh Yesus! Sementara itu ada orang-orang yang resmi adalah kristiani, tetapi corak hidup dan sepak terjangnya terhadap sesama berlainan dengan dari ajaran Yesus Kristus sendiri.

     Yesus dengan tegas berkata: “Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk 9:39). Di sini jelaslah bahwa segala yang baik selalu dikehendaki oleh Yesus. Tahu atau tidak tahu tentang Yesus, sesuai dengan agama menurut putusan hari nurani masing-masing, apabila ia berbuat baik, itu berarti ia berpihak pada Yesus! Di sinilah letak bahaya adanya eksklusifisme yang disertai oleh formalisme di setiap bidang hidup kita, termasuk sikap hidup kita sebagai orang beragama kristiani.

     Tuhan tidak melihat apa yang melulu resmi atau formal, melainkan yang benar dan baik. Orang yang berbuat baik, itu berarti ia berbuat baik “demi nama Yesus”. Tetapi meskipun mengakui dan percaya kepada Yesus secara formal, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran-Nya, ia tidak hidup dan bertindak “demi nama Yesus”! Sebaliknya barangsiapa hidup dan berbuat apapun yang benar dan baik, walaupun tidak mengenal Yesus, Yesus mengakui, bahwa ia berbuat “demi nama-Nya”. Mengenal dan mengakui Yesus secara benar bukankah hanya dibaptis secara formal, dan menjadi anggota Gereja, melainkan dengan berbuat secara nyata, realistis, apa yang dikehendaki Yesus sesuai dengan ajaran-Nya, bahkan dilaksanakan-Nya jugaa. A m i n .

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/