Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXVI/A/2014

Yeh 18:25-28   Flp 2:1-11   Mat 21:28-32

PENGANTAR             
     Seorang bapak menawarkan kesempatan bekerja kepada kedua anak-nya. Yang pertama berkata bersedia melakukannya, namun tidak melaku-kannya. Anak yang kedua tidak bersedia, tetapi kemudian melakukannya juga! Perumpamaan itu sekarangpun ditujukan kepada kita. Artinya kitapun mengalami tawaran dari Tuhan, untuk melakukan apa yang diajarkan kepada orang-orang Yahudi sezaman-Nya. Mendengar perumpamaan yang disampaikan Yesus ini, bagaimanakah tanggapan kita sekarang ini.

HOMILI     
     Perumpamaan  hari ini (Mat 21:28-32) diberikan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu. Maksud mereka ialah dengan kuasa apakah Ia menyembuhkan orang, mengusir setan dan sebagainya.Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?(lih.Mat 21:23-27, khususnya ay. 23). Yesus tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi menjawab kembali dengan pertanyaan ini kepada mereka: “Dari manakah baptisan Yohanes (Pemandi)? Dari surga atau dari manusia?” (ay.25). Inilah latar belakang perumpamaan yang disampaikan Yesus dalam Injil hari ini!

     Dalam Injil itu Yesus menegaskan: “Yohanes datang untuk menun-jukkan jalan kebenaran, dan kamu tidak percaya kepada-Nya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan pelacur percaya kepada-Nya” (ay. 32).   

     Perumpamaan hari ini tampaknya sederhana, tetapi sangat dalam isinya! Pada hakikatnya Yesus mau menerangkan sikap dasar setiap orang yang mau beragama . Beragama dalam arti luas: bukan sekadar memeluk suatu  agama, tetapi sungguh beriman, bersikap dan berbuat sesuai dengan imannya itu secara sungguh-sungguh, dan bukan sekadar resmi dan lahiriah belaka. Para pemimpin agama Yahudi tahu, bahwa yang dilakukan Yesus berasal dari Allah sendiri, seperti Yohanes Pemandi, tetapi mereka bersikap dan  berbuat  seperti anak  yang dimaksudkan  Yesus yang berkata “ya,ya”, namun tidak melakukannya! Tetapi sebaliknya orang-orang yang mereka anggap rendah, sebagai “sampah masyarakat”, yakni pemungut cukai dan perempuan sundal (masih banyak lagi golongan orang-orang yang dianggap “kelas rendah”) justru seperti anak, yang sebelumnya menolak permintaan ayahnya, namun kemudian menyesal dan melaksanakan permintaan ayahnya!

     Seperti  pada waktu itu, perumpamaan hari ini dipakai untuk menunjukkan sikap tidak serius atau tidak jujur dari pimpinan maysarakat Yahudi dalam hal kerohanian atau batiniah. Maka pemungut cukai dan pelacur lebih beruntung, sebab mereka itu berani dan mau mengubah sikap hidup mereka! Kedua golongan itu dianggap paling berdosa dan tidak taat kepada ajaran agama. Pemungut cukai dibenci orang, karena bekerja untuk sistem pajak orang asing (kekuasaan Romawi) dan memeras bangsanya sendiri. Pelacur dilihat sebagai tak punya harga diri, tidak setia dan sanggup menjual diri. Tetapi kedua golongan itu percaya kepada warta pertobatan Yohanes Pemandi, sedangkan para pemimpin agama, juga kaum Farisi, itu tidak! Jadi, sebenarnya mereka ini lebih memeras bangsanya sendiri dan tidak setia pada inti ajaran agama atau imannya yang sebenarnya!  

     Apa pesan Injil hari ini kepada kita? Kita diminta selalu jujur, tulus dan setia akan ajaran agama kita.  Dengan lain, kita harus sungguh memiliki dan menghayati iman kristiani kita yang sejati. Kita yang mengaku bahwa kita ini  beragama, bahkan mengaku beriman akan Yesus Kristus, tidak boleh bersikap dan memerlihatkan diri kepada Allah dan sesama secara bertopeng atau pura-pura! Baptis kita, sakramen-sakramen lain apapun yang telah kita terima, harus tercermin murni dan utuh dalam sikap, dalam berpikir, dalam berbicara, dalam bertindak, dalam segenap tingkah laku kita.

     Tawaran menerima dan melaksanakan kehendak Allah terus menerus ditawarkan kepada kita. Marilah kita menjawab tawaran kelesamatan Allah itu dengan jujur, kendati kita adalah manusia yang lemah.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/