Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXV/C/2013

Am 8:4-7  1 Tim 2:1-8  Luk 16:1-13

PENGANTAR
          Naskah Injil Lukas, yang dipakai pada Hari Minggu ini, ada yang panjang, yang memuat dua perumpamaan(Luk 16:1-13): 1) tentang seorang bendahara yang tidak jujur , dan 2) tentang orang yang setia dalam perkara kecil, dan karena itu setia dalam perkara besar. Dalam Misa ini kita mendengarkan sabda Yesus tentang dalam naskah Injil yang pendek (Luk 16:10-13). Kesetiaan yang dimaksudkan Yesus itu diungkapkan-Nya dengan kata-kata ini: Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon”.

HOMILI
          Kita semua telah menerima milik jasmani/material dari Tuhan untuk dipelihara dan digunakan. Akan menghendaki agar kita memelihara dan menggunakan milik kita  sesuai dengan kehendaknya. Kita memang berhak menggunakan harta milik kita sesuai dengan kehendak kita, namun kehendak kita itu harus senantiasa sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai ciptaan Allah kita tidak memiliki otonomi mutlak atas segala hidup dan milik kita.

          Dalam situasi dan kondisi hidup kita masing-masing penyesuaian kehendak kita dengan kehendak Allah ini tidak selalu mudah kita sadari dan laksanakan. Kehendak kita dalam hidup kita sehari-hari dan dalam melaksanakan pekerjaan kita masing-masing, secara tahu atau tidak tahu sering jauh atau lepas dari hubungan kita dengan kehendak Allah. Pada umumnya kepentingan kita pribadi atau kepentingan kelompok kitalah, yang menentukan sikap kita dalam memiliki dan menggunakan harta milik atau kekayaan kita.

          Ajaran dan nasihat yang diberikan Yesus kepada kita sebagai murid-murid-Nya secara singkat ialah ini; Bila kamu mempunyai milik banyak, lebih baik janganlah kamu terlalu ingin memiliki makin lebih banyak lagi, melainkan lebih suka memberikannya kepada orang lain. Makin rela dan makin banyak kamu menolong dan memberikannya  kepada orang lain, khususnya kepada mereka yang membutuhkannya, akan  makin besarlah anugerah yang akan diberikan Allah kepadamu.

          Derma atau sedekah di zaman kita sekarang sekarang ini makin kurang disukai orang. Memang bisa dimengerti.  Mengapa? Pekerja atau buruh dan siapapun, yang bekerja dengan baik dan tulus, tidak menginginkan derma atau sedekah,  melainkan menerima balasan kerja yang adil, singkatnya mereka merindukan  perlakuan atas dasar keadilan. Justru dewasa ini perasaan sosial, suara hati sosial, sangat perlu dipupuk dan dihangatkan lagi. Makin tampak  hasil kemajuan dan perkembangan pembangunan yang kita lihat dewasa ini, makin tampak adanya perbedaan bahkan kontras antara rakyat yang berpotensi materiil/jasmani dan yang  nyaris bisa hidup sesuai dengan kebutuhan, apalagi mampu menikmati  hidup dengan gembira dengan fasilitasnya yang memadai.

          Manusia yang jujur dan tulus menginginkan balasan yang seimbang/pantas/ memadai daripada sekadar menerima derma atau ung-kapan belaskasihan belaka. – Namun dari segi lain derma atau sedekah harus tetap  dihargai dan dilaksanakan. Mengapa? Barangsiapa memiliki sesuatu, maka ia harus memperlakukannya dengan baik di bidang apapun yang mungkin baginya.  Bahkan di bidang hidp  di mana ia menurut hukum tidak diwajibkan, dan di mana ia tidak memperoleh keuntungan apapun, derma atau  sedekah adalah perbuatan manusiawi sosial sejati.   Memberi dan menolong, - itulah penggunaan milik yang terbaik.

          Dalam perumpamaan pendek  dalam Injil Lukas hari ini Yesus berkata: Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan…Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Mengabdi Tuhan Allah atau dewa/berhala kekayaan? Inilah suatu dilemma yang sangat tajam: memilih Allah atau Mamon. Artinya menomorsatukan kerohanian, dengan sungguh memuji dan mengasihi Allah? Ataukah mengikuti materialisme, yaitu memiliki harta benda, harta milik sekarang ini saja? Manakah yang diutamakan: ekonomi atau hidup beriman kristiani sejati? Setiap orang, barangsiapa pun, baik yang kaya maupun yang miskin, tanpa kekecualian, harus memilih. Kita harus selalu bertanya kepada diri kita masing-masing:  Apakah yang kunilai sebagai yang terbaik dan harus kupilih dalam hidupku sekarang ini? Ini adalah sikap mental yang mendasar!

          Orang yang merasa modern menganggap ajaran Yesus itu naïf, tidak realistis! Itulah pandangan juga kaum Farisi. Yesus dianggap tidak  mengenal dunia dan manusia. Kaum Farisi ini ingin “hidup enak dan menyenangkan”.Dan untuk hidup enak dibutuhkan uang. Tetapi di depan umum mereka ingin juga tampak saleh dan beragama. Maka ia beribadat. – Inilah hidup dan perbuatan orang beriman yang beribadat palsu!

          Pesan Injil hari ini: Hidup kita di dunia adalah sementara. Hidup kita yang tertinggi dan adalah hidup bersatu dengan Allah yang abadi kelak. Kita jangan memutlakkan milih jasmani/materiil untuk hidup sementara. Yang kita utamakan ialah berikhtiar sekuat tenaga memiliki dan menghayati hidup rohani untuk dapat hidup dengan Tuhan selamanya.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/