Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XXV /B/2012

  Keb 2:12.17-20  Yak 3:16-4:3  Mrk 9:30-37

PENGANTAR
          Dalam Misa ini dalam Bacaan II Yakobus menanyakan kepada umat bimbingannya: Menurut kamu, siapakah di antara kamu yang bijaksana? Dengan kata lain, apakah sebenarnya yang disebut bijaksana? Menurut Yakobus, kebijaksanaan datang “dari atas”, yang dimiliki oleh orang pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak memihak, tidak munafik. Ataukah sebaliknya: orang yang bertengkar, berkelahi, iri hati bahkan membunuh, meskipun mungkin orang itu berdoa. Mengapa? Jawab Yakobus: “Karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta akan kamu gunakan untuk memuaskan hawa nafsu”.

HOMILI
          Menurut Yakobus, kebijaksanaan kristiani sejati selalu berfokus kepada kepentingan orang lain. Itulah kebijaksanaan  Allah, yang disampaikan dan dilakukan oleh Yesus,  seperti yang dipahami oleh Yakobus!

          Injil Markus hari ini memberitakan pernyataan Yesus yang kedua, bahwa Ia akan menderita dan mati. Seperti juga sebelumnya, reaksi murid-murid-Nya selalu merupakan pengertian yang salah. Karena itulah Yesus menerangkan apakah sebenarnya syaratnya untuk menjadi murid-Nya sejati. Dalam Injil Markus Yesus menyebut tiga unsur penting untuk menjadi murid Yesus seperti berikut ini:

Pertama: Walaupun akan mengalami kegagalan, murid-murid Yesus tetap diberi perintah khusus. Mereka memang gagal mengusir roh jahat dari seorang anak (Mrk 9:18). Meskipun demikian Yesus tidak menghilangkan maksud-Nya mempersiapkan mereka memasuki hidup sejati di dalam Kerajaan yang didirikan-Nya.

Kedua: Murid-murid Yesus menganggap apa yang dinyatakan Yesus tentang penderitaan dan kematian-Nya sangat membingungkan! Sudah dua kali Yesus berbicara tentang nasib-Nya nanti di Yerusalem. Tetapi mereka tetap heran dan tidak mampu mengerti maksud Yesus! Sehingga ketika Yesus bertanya apa yang mereka bicarakan dalam perjalanan mereka, mereka tidak berani menjawabnya. Ibaratnya mereka itu kehilangan akal dan sungguh bingung. Meskipun demikian Yesus tetap tidak meninggalkan mereka!

Ketiga: Hal nyata yang dialami oleh murid-murid Yesus ialah, bahwa mereka dapat menerima suatu pelajaran yang mendalam tentang arti kata    “melayani”, atau berbuat sebagai pelayan. Kata asli Yunani yang dipakai dalam Kitab Suci untuk pelayan ialah “diakonos”. Melaksanakan pelayanan atau diakonia. Paulus sendiri menyebut dirinya sebagai pelayan Injil (Kol 1:23; Ef  3:7), atau sebagai pelayan umat, pelayan Gereja (Kol 1:25), bahkan pelayan Allah (2 Kor 6:4). Dan dalam Injil Yohanes Yesus menegaskan, bahwa barang-siapa mengikuti Dia, adalah pelayan-pelayan-Nya. Di mana Dia berada mereka semua harus berada pula (Yoh 12:26).

Yesus menegaskan kepada kita, bahwa Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat 20:28; Mrk 10:45), bukan separo-separo, atau sekadarnya saja, melainkan sepenuhnya tanpa perhitungan. Mengapa? Karena pelayanan-Nya bukan dilaksanakan untuk kepentingan-Nya sendiri, melainkan demi kepentingan orang lain. Nah, itulah sebabnya Yesus menambahkan syarat apa yang harus dipenuhi untuk membuktikan kesungguhan kerelaan melayani apapun kepada sesama. Jika seseorang ingin menjadi yang  terdahulu, hendaklah ia menjadi  yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya(Yoh 9:35).

Ternyata Yesus mengubah arti atau pengertian murid-murid-Nya tentang apa yang dianggap sebagai kebesaran, kemuliaan, kebanggaan, kehebatan. Diberikan-Nya suatu pegangan atau ukuran lain, yang harus dipakai untuk mencapai apa yang disebut sukses atau kegagalan, menang atau kalah, keberhasilan atau ketidakberhasilan.

Nah, untuk menerangkan hal “aneh” inilah Yesus memperkenalkan seorang anak kecil kepada kita. Di sini bukan terutama “kenaifan”, kemurnian ataupun kepolosannya yang ingin dikemukakan Yesus, melainkan status anak yang memang masih remaja, yakni sebagai anak yang masih harus dibimbing dan belum mempunyai hak-hak sepenuhnya. Jadi Yesus mengemukakan suatu tata-hubungan antar manusia yang baru: menyambut anak kecil dalam nama-Ku, berarti menyambut Aku; menyambut Aku berarti menyambut Allah sendiri.

Anak kecil adalah lambang/gambaran orang yang tak berdaya, total tergantung dari orang lain dan harus ditolong. Injil menerangkan kepada kita, bahwa kita harus rela menyambut dan menolong orang-orang yang tak berdaya! Yesus menerangkan kepada kita bahwa keadaan keterbatasan kemampuan anak kecil itu juga terdapat di dalam diri kita! Yesus sendiri pun  mengakui diri-Nya sebagai anak kecil terhadap Bapa-Nya. Yesus tidak menuntut hal-hal lain dari murid-murid-Nya, hanya minta pengakuan dan kesadaran akan keterbatasan mereka seperti anak kecil terhadap bapanya.

Nah, murid-murid Yesus yang lemah, namun harus menjadi rasul-Nya itu menjadi cermin bagi diri kita sendiri. Ketidakmampuan mereka menangkap dan memahami kata-kata yang dikatakan Yesus, ataupun  menyadari hal-hal yang dilakukan-Nya, merupakan gambaran keadaan dan sikap kita sekarang ini juga terhadap ajaran, perintah dan teladan Yesus yang tegas dan berat, namun bijaksana! – Menurut Yakobus, kita sebagai murid Yesus membutuhkan suatu “kebijaksanaan hidup yang datang dari atas”, bukan “dari bawah”, yang disebutnya “hawa nafsu”. Sebagai murid Yesus kita harus sanggup sebagai anak kecil untuk menerima “kebijaksanaan dari atas”, yakni ajaran dan teladan hidup serta perbuatan Yesus Kristus.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/