Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXIX/B/2015

  Yes 53:10-11  Ibr 4:14-16  Mrk 10:35-45


PENGANTAR

      Dalam setiap bentuk hidup bersama antar manusia, mulai dari keluarga, kelompok, masyarakat sampai negara, demi ketenangan, kelancaran, kebersamaan dan perdamaian dibutuhkan suatu bentuk pimpinan, yang mengatur kerjasama antar warganya. Ada bentuk pimpinan yang bersifat otoriter, diktatorial, demokratis. Untuk suatu keluarga ada sikap seorang kepala yang paternalistis atau maternalistis. Ada pula yang keras, tetapi ada juga yang lembut dan penuh kasih.
         
HOMILI
      Ketiga Bacaan Kitab Suci  pada Hari Minggu ini memperlihatkan kepada kita, bagaimana  kita  sebagai  sesama  makhluk  harus bersikap, hidup dan berbuat satu terhadap yang lain, khususnya mengenai kekuasaan. Terutama di dalam surat kepada  orang Ibrani (Bac.II)  dan  Injil Markus, Yesus  menunjukkan  bahwa  sikap dan perbuatan kita terhadap sesama  bukanlah  berupa menguasai, melainkan melayani. “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!” (Mrk 10:43).

      Betapa indah dan mengagumkan isi kutipan Surat kepada orang Ibrani tentang Yesus sebagai Imam Agung. Ditegaskan bahwa  kita ini tidak memiliki  seorang  Imam Agung yang tidak turut  merasakan  kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya Ia sungguh sama dengan kita. Ia dicobai juga, dan mengalami tantangan luar biasa, namun tidak berdosa. Ia rela menanggung  kehinaan  dan penderitaan, bahkan mati sangat hina di salib. Semua itu hanya bertujuan untuk menyelamatkan kita. Ia memasuki nasib kita, agar kita bersama Dia dapat diangkat kembali menjadi ahli waris surgawi.

      Sudah sampai tiga kali dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia akan menderita dan selanjutnya akan mati dalam melaksanakan  tugas-Nya  sebagai Almasih. Namun sebagai manusia murid-murid-Nya   mereka  tidak menangkap  apa yang ditegaskan oleh Yesus itu. Bahkan dua murid-Nya, Yakobus dan Johannes, didampingi oleh ibu mereka, minta kedudukan terhormat di samping-Nya. Latar belakang pandangan dan cara berpikir mereka tentang Kerajaan Allah, yang dimaksudkan Yesus sangat bersifat duniawi: materialistis dan egoistis. Padahal Kerajaan yang akan dibangun Yesus bukan seperti dunia dalam keadaannya seperti sekarang ini, seperti dipikirkan oleh Yakobus dan Johannes dan murid-murid lain, dan mungkin merupakan pikiran atau gambaran kita! Mereka merindukan kedudukan mulia, terhormat, berkuasa.

      Dalam Injil hari ini Yesus menerangkan apa sebenarnya di dalam Kerajaan Allah yang disebut berkuasa atau memiliki kuasa. Sudah lazim orang itu berpendirian, bahwa berkuasa berarti memiliki kuasa atau kekuatan untuk menguasai dan  memaksa orang lain melakukan kehendaknya atau melayaninya. Orang lain diperintah sebagai hamba atau budak. Ia dipaksa dan kedudukannya sebagai sesama manusia yang semartabat dengan dirinya tidak dihormatinya.

      Menghadapi sikap banyak orang semacam itu Yesus berkata: “Tetapi janganlah  kamu berbuat   demikian  di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mrk 10: 43). Yesus ingin menerangkan apa sebenarnya yang disebut kuasa dalam Kerajaan Allah.

      Berkuasa di dalam Kerajaan Allah bukan berarti memiliki kekuatan dan keinginan untuk menguasai dan mengalahkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Berkuasa atau memiliki  kuasa  berarti  memiliki kemampuan dan kesediaan untuk memberikan dan membangun kekuatan bagi orang lain. Bukan memanfaatkan bahkan  memeras daya  dan  kemampuan hidup sesama kita, tetapi justru sebaliknya menghidupkan dan menambahkan daya hidup sesama kita yang berkekurangan,  supaya  dapat hidup damai sejahtera. Berkuasa berarti memiliki dan menggunakan kemampuan diri untuk ikut memberikan sumber hidup kepada orang lain. Berkuasa bukan berarti menggunakan orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.

      Kita semua ini sebagai orang kristiani telah menerima daya hidup yang berlimpah dari Yesus Penyelamat kita. Seperti para rasul dahulu, sekarang pun kita sebagai  murid-murid  Yesus  juga  terpanggil memiliki  dan melaksanakan   kuasa-Nya itu. Kita terpanggil ikut “berkuasa”, yakni ikut memberikan daya hidup kepada sesama kita, secara rela dan cuma-cuma, bukan dengan perhitungan.

      Nah, kuasa  ini  dapat kita lihat dan kita pahami maknanya  serta kita hayati dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi kita menemukan pelaksanaan kuasa sejati yang  asli dan murni. Menerima Ekaristi bukanlah menerima kuasa untuk melemahkan dan merusakkan daya hidup orang lain, justru sebaliknya untuk menguatkan dan membangun daya hidupnya. Dalam Ekaristi, Yesus yang memiliki kuasa ilahi sepenuhnya merendahkan diri menjadi makanan sebagai sumber hidup kita yang berlimpah. Dalam Ekaristi Yesus menunjukkan kepada kita,  bahwa kerendahan hati dan kesediaan melayani kebutuhan orang lain merupakan perwujudan kebesaran dan kemuliaan kasih sejati dalam Kerajaan Allah.

      Demikianlah pesan Injil hari ini kepada kita: berkuasa bukan berarti memerintah, melainkan melayani. Kita menerima Yesus dalam Ekaristi bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri,  melainkan justru agar kita makin rela melayani sesama kita. 

 

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/