Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu, 12 September 2010
MINGGU XXIV C 2010

Kel 32:7-11.13-14 1 Tim 1:12-17 Luk 15:11-32

PENGANTAR

Kitab Suci pada dasarnya adalah sumber hiburan dan kegembiraan bagi hidup kita. Dalam Bacaan I hari ini terungkap, bahwa Tuhan menyesal atas malapetaka yang dialami umat-Nya. Dalam Bac. II Paulus menegaskan, bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa. Dan Injil menurut Lukas hari ini memperkenalkan kepada kita kasih Allah sebagai Bapa yang memperlihatkan belaskasih-Nya tanpa batas kepada orang yang berdosa, namun datang bertobat kepada-Nya.

 

HOMILI

Apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya tentang seorang bapak dan kedua anaknya itu, sedikit banyak merupakan gambaran pengalaman hidup kita, baik secara perorangan maupun dalam hubungan kita satu sama lain, baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan orang-orang lain. Dalam pesan-pesan Yesus yang terdapat di dalam perumpamaan tentang "anak hilang", yang sangat kaya isinya dan sangat tinggi nilainya itu, lukisan tentang penyesalan serta pertobatan manusia dan tanggapan kasih serta belaskasihan Allah.

Latar belakang atau motivasi putusan "anak yang hilang" untuk kembali kepada bapanya bukanlah karena ia menyesal telah meninggalkan hormat dan kasihnya kepada bapanya, melainkan karena dalam pengalaman meninggalkan rumah bapanya itu ia telah jatuh dalam tingkat hidupnnya yang sangat rendah dan hina, lebih rendah daripada tingkat hamba-hamba bapanya. Ibaratnya makanan babi pun tidak diperolehnya sebagai makanannya. Suatu degradasi martabat manusia luarbiasa ! Suatu kepapaan dan kehinaan manusia! Tetapi apa yang dialaminya bukan atau belum merupakan suatu penyesalan, yang harus menjadi pertobatan atas dosa. Kembalinya ke rumah bapanya belum berupa kejujuran atau ketulusan hati atas perbuatan yang tidak baik, tetapi berupa kekurangan atas keperluan atau kepentingan pribadi melulu, yatu kekurangan makan untuk hidup.

Menghadapi kepergian dan pulang kembalinya anaknya yang hilang itu, si bapak dalam perumpamaan Yesus ingin menunjukkan kasih, belaskasihan hati-Nya yang lemah lembut. Sikapnya dalam menerima anaknya memperlihatkan ciri khas paling mendalam dari seorang bapak sejati! "Ayah itu berlari mendapatkan dia, lalu mencium dia". Anaknya yang hilang diberi pakaian lengkap, dan dikembalikan kepada statusnya sebagai seorang anak yang dikasihi di rumah bapanya. Seolah-olah bagi si bapak itu tidak telak terjadi sesuatu apapun!

Ternyata cara Tuhan melihat berbeda dari cara kita manusia melihatnya. Si bapa yang lembut hati itu menyambut kembali anaknya yang telah menghambur-hamburkan warisan miliknya. Tetapi ia juga tidak menolak dan memarahi kakaknya, yang memang mengritik/menyalahkan bapaknya itu, karena dianggapnya boros dan royal terhadap adiknya, sedangkan ia sendiri tetap setia kepada bapanya. Tetapi tanggapan bapanya: "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu!" Dengan demikian menemukan dan menerima kembali anaknya yang "telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali" bukan berarti menanggalkan atau tidak mengakui lagi kesetiaan anaknya yang sulung! - Dengan perumpamaan itu Yesus mengajak kita untuk melihat, menanggapi dan menentukan sikap dan hubungan-hubungan kita terhadap sesama dengan pertimbangan-pertimbangan yang lain sama sekali! Kita harus melihat seperti Allah melihatnya! Tuhan pertama-tama bukan melihat besarnya dosa kita, melainkan sejauh mana kita menyesali, sungguh bertobat dan mohon pengampunan.

Reaksi anak sulung yang marah terhadap bapanya bisa dimengerti. Ia taat, setia, bertanggung jawab, melaksanakan tugasnya, meskipun adiknya meninggalkan bapanya untuk hidup secara tidak pantas. Tetapi ia merasa tidak dibalas secara wajar oleh bapanya itu, katanya: "Kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku". Sikap terhadap adiknya pun keras dan kasar: "anak Bapa telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur,...tetapi Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia!"

Bukankah gambaran dalam perumpamaan itu menggambarkan juga keadaan sikap kebersamaan dan pergaulan kita dengan sesama, dalam keluarga, lingkungan tetangga, lingkungan kerja dan masyarakat? Paus Yohanes Paulus II ("Reconciliatio et Paenintentia", 1984) mengatakan, bahwa perumpamaan tentang anak yang hilang itu pertama-tama merupakan ceritera tentang kasih yang tak tergambarkan dari seorang Bapa, yaitu Allah. Dan ketika anaknya pulang, dilimpahkan kepadanya sebagai anugerah pengampunan sepenuhnya! Dan kepada kaum muda, di dalam Misa Hari Pemuda Dunia 2002 Sri Paus ini juga berseru: "Kita semua ini bukan merupakan kumpulan atau jumlah kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan saja, melainkan kumpulan atau jumlah kasih Allah Bapa kepada kita, dan juga merupakan kemampuan kita untuk menjadi gambaran Putera-Nya". Pertobatan dan pengampunan hanya mungkin apabila timbul dari dan disertai kasih sejati!

 

Mgr. Hadisumarta O.Carm

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/