Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXIV/B/2015

 Yes 50:5-9a  Yak 2:14-18  Mrk 8:27-35


PENGANTAR
     Sepintas lalu, ketiga bacaan Kitab Suci hari ini bernada negatif dan menyedihkan. Sebab Yesaya menulis: “Aku memberikan punggungku kepada orang-orang yang memukul aku”. Dan Yakobus: “Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati”. Akhirnya dalam Injil Markus hari ini Yesus bersabda: Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku”. Tetapi apabila Injil hari ini kita renungkan dengan baik, ternyata syarat-syarat untuk mengikut Yesus, yang tampaknya negatif itu sebenarnya merupakan tuntutan mutlak bagi kita untuk dapat memiliki hidup kristiani optimistis yang otentik.

HOMILI
     Dalam kutipan Injil yang baru saja kita dengarkan hari ini, Markus sebelumnya banyak berceritera, bahwa Yesus mengusir setan, menyembuhkan orang yang bisu dan tuli, dan memberi makan kepada empat ribu orang. Sesudah murid-murid-Nya menyaksikan sendiri apa yang dilakukan Yesus itu, Ia bertanya: Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Ternyata jawaban mereka bermacam-macam. Akhirnya ketika ditanya oleh Yesus, Petrus  menjawab: Engkau adalah Almasih!” Yesus segera melarang mereka mengatakan hal itu kepada orang-orang lain. Sebab pandangan orang tentang siapa dan bagaimanakah Almasih itu sebenarnya, ternyata bermacam-macam. Mesias dianggap sebagai raja besar yang kuasa, atau sebagai seorang nabi, atau seorang tokoh yang mengatur bidang  politik. Sebaliknya Yesus menegaskan, bahwa Ia adalah Anak Manusia, yang justru harus menderita sengsara dan mati dibunuh, akan tetapi juga akan bangkit lagi.

     Ternyata Yesus memberi pesan kepada murid-murid-Nya, agar mereka seperti Ia sendiri harus sungguh mau menyiapkan diri untuk berani menderita dengan rela, agar supaya memperoleh hidup kekal. Tetapi murid-murid Yesus adalah orang-orang sederhana, dan  mereka tidak tahu banyak mengenai ramalan  di dalam Perjanjian Lama tentang Almasih atau Mesias (‘ia yang diurapi’) seperti dalam Kitab Yesaya. Mereka juga kurang paham tentang kebangkitan orang mati. Selama tiga tahun mereka telah mendengarkan kata-kata Yesus, menyaksikan aneka perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi ternyata mereka belum mampu sungguh memahami apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus. Sampai tiga kali Yesus telah mengatakan kepada mereka, bahwa Ia akan menderita dan dihukum mati (lih. Mrk 9:9-10; 10:32-34). Bahkan menjelang kematian-Nya di kayu salib, mereka semua  kecuali Yohanes telah meninggalkan Dia.

     Memang bagi kita sebagai manusia sungguh sukar dan berat untuk dapat mengubah diri pribadi. Sulit untuk meninggalkan pandangan dan keyakinan tentang apa dan siapa yang disebut Almasih atau Penyelamat yang sesungguhnya. Bagi kita misalnya, bandingkan pandangan atau pengertian kita tentang seorang sebagai Bupati, Gubernur, atau Presiden, seperti yang kita cita-citakan, agar dapat membawa negara dan bangsa kita ini kepada perdamaian, kemakmuran dan kesejahteraan. Bukankah apa yang dialami murid-murid Yesus dahulu sekarang pun merupakan pengalaman kita juga? Bahkan di negara-negara yang kini makin maju dan sangat berkembang, makin besar dan banyak pula kesukaran bangsa mereka, untuk masih menghargai dan hidup menurut agama kristiani. Bagi penduduk mereka yang secara resmi adalah kristiani, tidak suka lagi melihat wajah Kristus maupun mendengarkan lagi ajaran-ajaran-Nya, yang dianggap  tidak sesuai lagi dengan pemikiran modern dewasa ini. Misalnya di banyak negara yang bagian terbesar penduduknya secara resmi beragama kristiani, disetujui dan diakui sahnya perkawinan orang sejenis/sekelamin (contoh terakhir: Irlandia).

     Bagaimana gambaran kita sendiri sekarang ini tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita? Bukankah bagi kita ini sebenarnya lebih mudah daripada murid-murid Yesus dahulu? Sebab kita dapat menerima Yesus dan mau mengikut Dia sebagai Penyelamat yang sudah bangkit. Para murid Yesus justru melihat Guru mereka dihukum mati. Tetapi kenyataannya, meskipun Kristus telah bangkit, namun isi, bobot dan kadar iman kita akan Dia kerapkali tidak berbeda dari kepercayaan murid-murid Yesus sebelum Ia menderita, mati dan bangkit! Gambaran kita tentang Yesus Kristus sebagai Penyelamat sering bercorak duniawi, politis, megah, dan karenanya mengharapkan agar kebesaran  Kristus dapat tampak dalam bangunan Gereja yang indah, megah, mengagumkan. Apapun yang ada hubungannya dengan Gereja atau dengan nama kristiani harus tampak istimewa, terkenal, dikagumi, disegani daan dipuji orang.

     Padahal dalam kenyataan, Gereja Kristus di manapun masih mengalami aneka kesulitan, ketegangan, tantangan, walaupun Yesus sebenarnya sudah menyelamatkan kita dan telah mendirikan Gereja-Nya, yaitu kita semua umat kristiani. Tetapi jangan lupa Ia sudah bersabda: Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku”. Apa yang ingin disampaikan Yesus kepada kita? Yesus, Putera Allah, mau menjadi manusia seperti kita. Dan sebagai manusia  Ia rela menderita, mati di salib demi kasih-Nya kepada kita. Itulah bukti kasih-Nya kepada kita: utuh dan total. Sungguh untuk membahagiakan kita!

     Karena itu, sanggupkah kita sebagai umat beriman menguasai diri dalam menghadapi keinginan akan kenikmatan dan aneka godaan zaman modern kita sekarang ini, seperti dialami oleh Yesus sendiri di zaman-Nya? Sanggup dan beranikah kita, bila ingin sungguh menjadi murid-Nya yang sejati, menghadapi salib, yang tidak kita cari, namun dalam situasi dan kondisi konkret harus kita pikul dengan penuh iman, kasih dan harapan?     

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/