Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XXIII /B/2012

  Yes 35:4-7a  Yak 2:1-5  Mrk 7:31-37

PENGANTAR
          Dalam Bacaan I Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama memberi hiburan kepada bangsa Israel, yang telah dibebaskan dari pembebasan mereka dari Mesir. Ia berkata: Telinga orang tuli akan dibuka, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai”. Apa yang dinubuatkan Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama itu menjadi kenyataan seperti diceriterakan dalam Injil Markus hari ini: Yang tuli  dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara”. Marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini membuka pendengaran (telinga) kita untuk mendengarkan sabda Allah, dan menggerakkan lidah (mulut) kita untuk dapat meneruskan sabda Allah itu kepada orang lain.

HOMILI
          Orang-orang sakit yang disebut dalam Injil adalah orang-orang yang kehilangan  atau  tidak  mempunyai  kondisi dan  kemampuannya sebagai manusia secara  utuh. Contoh orang  berkekurangan, yang  disebut dalam Injil hari ini adalah  orang tuli  dan orang  bisu  atau gagap. Keadaan atau status orang-orang yang sakit itu dipulihkan kembali oleh Yesus agar memiliki keadaan manusiawinya yang normal dan pantas.

          Apa sebenarnya yang  ingin  disampaikan  dalam  Injil kepada kita dalam ceritera tentang pelbagai penyembuhan.  Mukjizat  bukan dilakukan Yesus sekadar   guna menunjukkan kemampuan dan kekuasaan-Nya, melainkan sebagai suatu sarana untuk mewartakan dan melaksanakan  Kabar Gembira, yakni keselamatan manusia seutuhnya.

          Injil hari ini berceritera tentang telinga/pendengaran dan tentang lidah atau mulut / kemampuan berbicara. Pada umumnya   dalam setiap orang mata / penglihatan adalah untuk  menghubungkan kita dengan  hal-hal  sehari-hari yang tampak; sedangkan telinga / pendengaran menghubungkan diri kita dengan orang-orang lain. Dengan berbicara   atau menyapa orang lain terjadi hubungan antar pribadi, antar orang  yang satu dengan yang lain. Dengan mata kita dapat melihat apa yang tampak selama kita menghendakinya, tetapi dapat juga menghentikan penglihatan itu menurut keinginan kita sendiri. Misalnya bila kita membaca Kitab Suci, setiap kita  dapat menutup mata kita dan berhenti membacanya. Tetapi lain halnya dengan telinga atau pendengaran kita. Bila  tidak suka  mendengar orang lain  berbicara, kita tidak dapat menutup telinga kita  begitu saja. Kita misalnya harus  menutup telinga kita dengan tangan, atau kita meninggalkan ruang, di mana orang  yang  berbicara agar tidak mendengarnya. Betapa pentingnya dalam pergaulan  antar manusia peranan kesediaan membuka pendengaran dan kesediaan berbicara satu sama lain.

          Bila kita membaca Kitab Suci, sungguhkah kita mendengarkanapa yang dikatakan dalam KS itu? Kitab Suci sebenarnya minta kepada kita bukan untuk membaca, melainkan mendengarkan Sabda Allah. Harus ada orang lain yang membacanya, dan kita mendengarkan dan berusaha memahaminya. Mengapa? Iman alkitabiah tidak boleh bersifat individualistis, melainkan harus secara bersama, komunal, komniter, sebagai kelompok, atau komunitas. Bila mau berbicara dan mendengarkan dituntut agar orang-orang yang bersangkutan mau saling mendengarkan. Kesediaan saling menghormati dan saling mengalah adalah syarat mendasar untuk suatu komunitas. Kesediaan ini makin berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan!

Karena itu kalau ada orang yang tidak mau memenuhi syarat itu, satu-satunya yang dapat dilakukannya ialah meninggalkan tempat atau komunitas di mana ada orang berbicara, tetapi  ia  tidak mau mendengarkannya. Nah, inilah yang sering terjadi! Ada orang  yang  meninggalkan komunitasnya, mungkin Gereja, mungkin keluarganya atau mungkin kelompok kerjanya. Orang ini merasa mau berdiri sendiri, mau memimpin, mau supaya  hanya kehendanyalah yang harus diikuti.  Tak mau berhubungan  dengan orang lain, tak mau mendengar pandangan orang lain. Hanya  mendengarkan dirinya sendiri. Pada dasarnya sikap ini adalah individualisme, egoisme, kepentingan diri sendiri. Tidak komunikatif.

Tidak mau berkomunikasi dengan sesama, juga bisa terjadi  terhadap  Allah. Padahal sikap dasar untuk mendengarkan sabda Allah dan mengikuti apa yang didengarkan  dari sabda Allah maupun suara orang lain, ialah kesediaan diri untuk  mengakui otoritas Allah disamping juga mengakui  martabat sesama manusia di hadapan Allah.

          Penyakit tuli atau bisu yang diceriterakan dalam Injil hari ini adalah penyakit fisik, yang memang harus disembuhkan. Tetapi Injil hari ini mau juga menunjukkan kepada kita adanya penyakit tuli dan bisu rohani, spirtitual atau batin!

          Kita bersyukur kepada Tuhan atas terus berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik dewasa ini, antara lain di bidang komunikasi. Alat-alat teknis komunikasi sungguh dibutuhkan dan menolong. Namun benda-benda itu tergantung keberhasilannya, bahkan kegagalannya dari manusia-manusia yang menggunakannya. Betapapun tingginya kualitas alat teknis komunikasi itu, namun kualitas manusiawi, batin, rohani pribadi orang-orang yang menggunakan tuli dan bisu, namun apakah makna alat-alat modern itu semuanya?

          Pesan Injil hari ini ialah, kita ajak menjaga agar pendengaran dan kemampuan  kita untuk  menyapa  pribadi sesama kita dalam keadaannya  masing-masing secara manusiawi, sama martabatnya seperti kita di depan Allah. Jangan sampai kita terkena penyakit tuli dan bisu rohani. Kita harus peka seperti Yesus.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/