Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXII/C/2016

 Sir 3:19-21.30-31 Ibr 1218-19.22-24a Luk 14:1.7-14


PENGANTAR

     Dalam suatu perumpamaan tentang undangan untuk hadir dalam suatu pesta perkawinan, dalam Injil Lukas untuk hari ini (Luk 14:1,7-14) Yesus menunjukkan suatu etiket, atau tata krama, adat sopan santun alkitabiah, atau singkatnya suatu etiket kristiani dalam hubungan dan pergaulan, sebagai ungkapan diri kristiani sejati, seperti diajarkan dan dilakukan Yesus sendiri.

HOMILI
     Perumpamaan Yesus tentang sikap dasar setiap orang terhadap sesama berlaku bagi semua orang, tetapi khususnya disampaikan kepada orang-orang yang menduduki kedudukan tinggi yang tampil sebagai "tamu-tamu yang berusaha menduduki tempat kehormatan". Yesus berada dalam perjamuan makan di rumah seorang Farisi yang penting. Ia memperhatikan keadaan, gaya dan tingkah laku tuan rumah maupun tamu-tamu undangan.

     Pertama, Yesus mau menyadarkan, bahwa orang yang berkedudukan tinggi, berkuasa, kaya, tidak mudah menjadi rendah hati dan terbuka terhadap sabda Allah. Mereka percaya penuh akan dirinya sendiri, akan kedudukan dan miliknya, akan kehebatan dan keamanannya. Padahal satu-satunya keamanan atau kepastian manusia berlandasan pada hubungan erat dan pengabdiannya kepada Allah. Singkatnya sungguh mengasihi dan melayani Allah dan sesama menurut teladan Yesus dari Nasaret. Risiko menjadi "orang besar" di bidang apapun ialah menjadi orang yang arogan, sombong dan merasa lebih besar dari sesamanya, dan akhirnya sebagai makhluk Allah, inilah risiko terbesar lupa akan Allah Penciptanya.

     Kedua, meskipun tidak semua orang, namun pada umumnya orang mengikuti suatu norma ini, yaitu mengundang orang lain dengan harapan atau perhitungan akan dibalas akan diundang kembali, dengan aneka cara apapun. Yesus menolak norma itu, bahkan memutarbalikannya! Pesan-Nya: Janganlah mengundang makan orang lain dengan harapan akan dibalas diundang kembali. Secara positif Yesus memberi perintah: Undanglah mereka yang tidak pernah diundang, yaitu orang miskin, mereka yang sederhana hidupnya, yang hidup di tepi masyarakat. Singkatnya, orang-orang yang tidak dapat diharapkan akan mampu membalas dalam bentuk apapun kecuali rasa terima kasih.

     Lukas adalah satu-satunya penulis Injil yang menyampaikan pesan tentang etiket Yesus ini. Etiket Yesus menurut Lukas ini sering disebut 'etiket alkitabiah Lukanis', yang sungguh kristiani. Tuan rumah memang harus berusaha ramah tamah, agar tamu-tamu bergembira, penuh persaudaraan dan merasa diperhatikan. Namun penerimaan dan penyambutan tamu adalah palsu, apabila disertai harapan bahwa kemudian akan menerima balasan undangan.

     Yesus dalam kenyataannya, mengudang untuk perjamuan di dalam Kerajaan-Nya orang-orang yang tidak punya milik atau kedudukan dalam masyarakat! Allah adalah tuan rumah kita yang terakhir. Maka kita harus sungguh bersikap sebagai tamu-tamu-Nya, yang tidak menuntut, tidak mengajukan syarat-syarat, tidak mengharapkan balasan! Orang-orang yang harus diundang untuk perjamuan Yesus menurut Lukas ialah "orang miskin, catat, lumpuh dan buta". Orang-orang yang disebut nya duapuluh abad lalu itu, kini pun adalah realitas yang kita hadapi dalam masyarakat kita. Maria, Bunda Yesus juga menyebut orang-orang semacam itu dalam Kidung Magnificat dalam Injil Lukas (Luk 1:46-55). Dan Yesus sendiri dalam Injil Lukas menyebut orang-orang , yang harus diundang-Nya untuk Kerajaan-Nya, yakni "orang-orang tawanan, orang-orang buta, orang-orang yang tertindas" (lih. Luk 4:16-30).

     Sekarang ini kita diingatkan oleh Paus Fransiskus, bahwa kita sekarang ini berada dalam Tahun Yubileum Kerahiman Allah. Kita diingatkan, bahwa Tuhan sungguh mau menyelamatkan kaum miskin, dan menyingkirkan orang-orang yang arogan, berlagak hebat, sombong dan angkuh terhadap Allah. Kita harus berbuat baik kepada sesama. Gereja Kristus harus selalu tampil dengan wajah kerahiman!

     Kita ingat pula akan Ibu Teresa dari Kalkuta, yang lahir tanggal 26 Agustus 1910 dan meninggal 5 September 1997, berusia 87 tahun. Ibu Teresa mengikuti jejak dengan menyelenggarakan "etiket perjamuan Yesus" dalam hidupnya. Ibu Teresa memahami dan berikhtiar menghayati etiket, tata krama atau adat sopan santun, yang dilakukan Yesus seperti diceriterakan oleh Lukas.

     Sebagai pernyataan gerejawi yang resmi mengenai kesungguhan dan kesetiaannya dalam mengikut teladan Yesus, Ibu Teresa pada tgl. 19 Oktober 2003 diangkat oleh Paus Yohanes Paulus II menjadi Beata. Dan pada tgl. 4 September 2016 Beata Teresa dari Kalkuta akan dikanonisakan menjadi Santa oleh Paus Fransiskus. Hanya sehari sebelum peringatan wafatnya 19 tahun yang lalu.

     Bukankah sekarang ini, apa yang dilakukan Ibu Teresa di India, yaitu "mengundang kaum miskin dalam perjamuan" juga merupakan teladan bagi Gereja kita di Indonesia dalam menghayati tugas panggilan kita sebagai umat kristiani sejati?

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/