Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu, 29 Agustus 2010
MINGGU XXII C 2010

Sir 3:19-21.30-31 Ibr 12:18-19. 22-24a Luk 14:1.7-14

PENGANTAR

Cukup menarik bahwa nasihat-nasihat Yesus yang penting kerapkali diberikan-Nya pada suatu perjamuan makan. Maka secara alkitabiah perjamuan makan diselenggarakan bukan sekadar untuk menghilangkan kelaparan, melainkan juga untuk berwawancara secara tenang mengenai hal-hal atau perkara penting untuk hidup kita. Terutama berlaku untuk perayaan Ekaristi, yang adalah perjamuan makan, di mana Yesus Tuhan sendirilah yang berbicara, menyapa kita, bahkan akhirnya Ia memberikan diri-Nya kepada kita. Marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini berusaha menangkap dan memahami sapaan Yesus kepada kita sekarang ini juga.

HOMILI

Perumpamaan yang disampaikan Yesus pada perjamuan makan dengan orang Farisi yang berkedudukan penting, ternyata sangat penting pula bagi kita dewasa ini. Ceritera tentang perjamuan ini hanya terdapat dalam Injil Lukas. Yesus menunjukkan pandangan dan sikap-Nya terhadap orang miskin dan orang kaya. Dalam Luk 14:1 Yesus disebut berada dalam perjamuan makan di rumah seorang Farisi yang penting. Ia memperhatikan keadaan, gaya dan tingkah laku tuan rumah maupun tamu-tamu undangan.

Apa sebenarnya intisari ceritera Injil hari ini? Isi perumpamaan ini sangat dalam! Ajaran Yesus pertama : bagi orang yang kaya, kuasa dan merasa 'benar', adalah sangat sukar untuk rendah hati terbuka di hadapan Tuhan. Ia penuh percaya akan dirinya sendiri, akan milik, kehebatan dan keamanannya. Padahal sebenarnya satu-satunya keamanan atau kepastian manusia berlandasan pada hubungan, persahabatan dan pengabdiannya kepada Allah. Dengan kata lain, kedudukannya sebagai pelayan sesama manusia dan Allah menurut teladan Yesus dari Nasaret . Mengangkat diri sendiri adalah suatu kepercayaan akan diri sendiri yang bertentangan dengan kepercayaan akan Allah. Memang itulah risikonya menjadi orang kaya, serba makmur, puas dan selanjutnya arogan, sombong dan lupa Allah!

Ajaran Yesus kedua dalam Injil Lukas hari ini: orang terbiasa dan dianggap sebagai norma yang normal untuk mengundang orang-orang, yang diharapkan akan membalas mengundang kembali, dengan aneka cara apapun. Tetapi Yesus justru menolak dan memutarbalikkan norma ini. Janganlah mengundang makan orang yang kauharapkan nanti akan sebalik-nya membalas mengundang kamu. Sebaliknya, undanglah mereka yang tidak pernah diundang! Undanglah orang miskin dan mereka yang hidup di tepi masyarakat! Justru mereka, yang tidak dapat diharapkan akan mampu membalas atau memberikan sesuatu apapun!

Itulah suatu bentuk "etiket Yesus", yang dihidangkan oleh Lukas (semacam "etiket alkitabiah lukanis" atau etiket menurut Lukas ), yang sungguh kristiani. Memang sebagai tuan rumah, kita dapat membuat tamu gembira, ramah tamah, penuh persaudaraan dan merasa diperhatikan. Namun Yesus memperhatikan (Luk 14:12-14), bahwa etiket atau penerima-an maupun penyambutan tamu dapat sangat terganggu atau disalahgunakan, apabila tuan rumah itu mengandaikan balasan, ikatan atau tujuan tertentu . Artinya, tuan rumah yang mengharapkan akan dibalas menerima undangan dari tamu-nya tidak akan mengundang atau menghidangkan makanan/santapan bersama kepada orang-orang, yang tidak dapat membalas! Dalam daftar undangan hanya tertulis nama mereka yang mampu membalas!

Menurut Lukas, Yesus mengundang untuk perjamuan dalam Kerajaan-Nya orang-orang, yang tak punya milik maupun kedudukan dalam masyarakat! Allah adalah tuan rumah kita terakhir, dan kita harus sungguh bersikap sebagai tamu-tamu, yang tidak menuntut, tidak mengajukan syarat-syarat, tidak mengharapkan balasan. Bagi orang-orang kristen pertama yang dalam Injil Lukas membaca daftar empat golongan yang disebutnya: "orang miskin, cacat, lumpuh dan buta" sudah tidak asing lagi. Mereka ada dalam masyarakat mereka. Kita sekarang inipun juga mengenal mereka itu dalam masyarakat kita! Maria, Bunda Yesus pun menyebut mereka dalam kidung Magnificat dalam Injil menurut Lukas (Luk 1:46-55). Terutama Yesus sendiri pada awal penampilan-Nya di depan masyarakat langsung menyebut orang-orang yang harus diundang-Nya ke dalam perjamuan makan Kerajaan-Nya: "orang-orang tawanan, orang-orang buta, orang-orang yang tertindas" (lih. Luk 4:16-30).

Inilah pesan Injil hari ini kepada kita: kita harus makin tahu, memahami dan menyadari, bahwa Yesus memang datang untuk mencari dan menyelamatkan kaum miskin, dan menyingkirkan orang-orang yang arogan, berlagak, sombong, dan tanpa sadar angkuh terhadap Tuhan, Allahnya.

Hari Kamis, 26 Agustus 2010 yang lalu adalah Hari Kelahiran Ibu Teresa dari Kalkuta ke 100. Dalam mengikuti atau untuk meneladani jejak Yesus, Ibu Teresa menyelenggarakan "etiket perjamuan Yesus". Teresa memahami dan bedrusaha melaksanakan etiket undangan Yesus, seperti yang diperkenalkan oleh Lukas, untuk mengundang orang-orang miskin di Kalkuta, India. Bukankah itupun tugas Gereja kita di Indonesia? Amin.

 

Jakarta, 28 Agustus 2010

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/