Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXII/B/2015

 Ul 4:1-2.6-8  Yak 1:17-18.21b-22.27  Mrk 7:1-8.14-15.21-23


PENGANTAR
      Injil Markus hari ini menampilkan pertemuan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan Yesus. Yesus dituduh membiarkan murid-murid-Nya melanggar peraturan atau adat-istiadat Yahudi yang mereka junjung tinggi. Misalnya murid-murid Yesus tidak membasuh tangan sebelum makan. Padahal semua kebiasaan itu adalah warisan nenek moyang mereka. Yesus dituduh membiarkan orang-orang berdosa, dan dibiarkan melanggar peraturan manusia.

HOMILI     
      Kita manusia memang membutuhkan suatu pegangan, adat atau kebiasaan tertentu guna menolong kita untuk melaksanakan penghayatan hidup kita. Hal ini berlaku juga untuk melaksanakan hidup keagamaan kita dengan baik. Misalnya membuat tanda salib, berdoa sebelum makan-minum, sebelum tidur sesudah bangun, atau sebelum bekerja. Adapula ketentuan pergi ke gereja untuk hadir dalam perayaan Ekaristi dan sebagainya. Ketentuan atau perintah semacam itu memang sangat penting agar hidup keagamaan kita dihayati dengan teratur.

      Yesus sama sekali tidak menentang adanya adat istiadat atau peraturan, sebab memang dibutuhkan. Yang ditentang Yesus ialah formalisme, yaitu suatu pertentangan antara suara hati dan perbuatan. Apa yang dilakukan tidak sama dengan apa yang dikehendaki. Pertentangan antara apa yang lahiriah dan batiniah. Dalam Injil Markus hari ini Yesus mengingatkan kita akan adanya bahaya serius, yang dapat timbul, apabila tujuan adat, kebiasaan, ketentuan atau peraturan apapun tidak dipahami dan dilaksanakan dengan benar. Pelaksanaan peraturan itu hanya berupa pelaksanaan lahiriah, nmun hampa atau kosong maknanya. Apa yang dilakukan tidak ada hubungannya dengan hati atau batin, yang sebenarnya harus merupakan sumber dan pendorong perbuatan yang kita laksanakan. Peraturan atau kebiasaan yang sebenarnya berfungsi sebagai alat atau sarana dianggap dan dilaksanakan sebagai tujuan. Itulah yang disebut formalism dan legalisme. Adat demi adat, hukum demi hukum.

      Hal hakiki, fundamental atau mendasar yang harus diperhatikan ialah adanya ketentuan, peraturan, hukum yang bersifat ilahi dan manusiawi. Perintah Allah harus selalu diutamakan.

      Akibat mental sangat negatif  yang dapat timbul dalam diri kita ialah, bahwa kita cenderung memandang dan menelai orang lain menurut adat, kebiasaan atau peraturan manusiawi belaka. Bila ada orang yang tidak berbuat menurut kebiasaan yang sama dengan kebiasaan kita, orang itu kita nilai negatif. Orang yang bukan seperti kita itu  kita nilai kurang berbudaya, kurang beradab, sangat terbelakang. Atau di bidang rohani, ia  dianggap kurang hidup beragama seperti seharusnya. Kita mudah menilai sesama kita hanya dengan memperhatikan hal-hal lahiriah. Kita tidak memperhatikan batin atau hati orang yang bersangkutan. Kita tidak mengenal keyakinan dan niat  maupun kehendak baiknya, yang mendorong dia bersikap dan berbuat demikian.
      Sikap dan cara hidup yang lebih mengutamakan pelaksanaan lahiriah adat, kebiasaan maupun peraturan saja, bertentangan dengan perintah Tuhan. Dan perintah ilahi yang paling utama ialah perintah kasih: kasih kepada Allah sekaligus kepada sesama.  Tuhan menghendaki agar kita saling menghormati dan mengasihi.  Jangan sampai perintah atau hukum Allah malahan kita langgar karena lebih memperhatikan dan melakukan peraturan manusia!

      Kaum Farisi maupun ahli-ahli Taurat seperti digambarkan dalam Injil Markus sekarang pun juga ada. Ada orang-orang yang sangat berusaha taat dalam menghayati kehidupannya sebagai pengikut Kristus. Hidup keagamaannya sangat diperhatikan. Ia sangat saleh, bahkan tampak sangat suci. Tetapi sejauh manakah ketaatan hidup  keagamaannya yang tampak itu sejalan dengan kataatannya  akan hidup persaudaraan penuh kasih dengan sesama. Hidup keagamaan kristiani sejati bukan hanya terdiri dari hubungan kita dengan Allah saja, melainkan juga sekaligus dengan sesama kita. Hubungan kita masing-masing dengan Allah tidak terpisahkan dari hubungan kita dengan sesama kita. Hubungan kita dengan Allah, walau diatur  dan dilaksanakan secara lahiriah setertib mungkin pun, tidak akan berkenan kepada-Nya, apabila tidak juga dihayati dengan hati yang tulus dan murni dalam hubungan kita dengan sesama.

      Yesus tidak menentang peraturan, adat istiadat atau hukum bagi setiap orang yang mau hidup sebagai orang yang sungguh beragama Sebab semua itu memang dibutuhkan. Namun semua itu juga tidak boleh sekadar berupa sebagai etiket, atau asal dilakukan. Untuk hidup sebagai orang beragama secara benar, dibutuhkan kesamaan antara apa yang hidup dalam hati atau batiniah dan apa yang dilakukan lahiriah. Yang kita butuhkan adalah kesungguhan bukan formalisme.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/