Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XX /B/2012

  Ams 9:1-6   Ef 5:15-20   Yoh 6:51-58

PENGANTAR
          Beberapa Minggu terakhir kita diajak mendengarkan Injil menurut Yohanes Bab 6, yang berturut-turut berbicara tentang roti yang diperlukan manusia untuk perjalanan hidupnya. Hari ini menurut Yohanes, Yesus menegaskan, bahwa  Ia bukan hanya  dapat mengadakan mukjizat roti biasa untuk limaribu orang, melainkan Ia memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri sebagai makanan luarbiasa, yang dapat memperkuat mereka dalam perjalanan di dunia ini menuju hidup kekal. Kita diajak memperdalam makna tubuh dan darah Kristus sebagai santapan rohani yang memberi kekuatan dalam hidup kita.

HOMILI
          Meskipun dengan cara dan gambaran yang berbeda, dalam setiap agama selalu terungkap  kerinduan manusia untuk bersatu dengan Allah. Kita sendiri merasa lebih tenang, aman, pasti, apabila  merasa bersatu dengan Allah. Tetapi tak jarang dalam perjalanan hidup kita, kita merasakan Tuhan begitu jauh, hidup kita terasa kering, hampa, penuh susah payah.

          Inilah yang dalam Perjanjian Lama dialami Israel, bangsa terpilih Allah, pada waktu harus mengadakan perjalanan lewat padang pasir. Mereka merasa lapar dan haus, tetapi Yahwe  memenuhi  kebutuhan itu, memberikan “manna” roti untuk memperkuat perjalanan mereka. Inilah pula dalam Perjanjian Baru yang dihadapi Yesus, seperti digambarkan oleh Yohanes dalam Injilnya. Mereka sudah ditolong diberi makan guna memenuhi kebutuhan dalam perjalanan mereka yang mengikuti Yesus. Tetapi Yesus mau menunjukkan kepada mereka, bahwa bukan hanya makanan dan minuman biasa yang mereka perlukan, melainkan juga makanan dan minuman khusus sebagai sumber hidup yang tak akan pernah kering.

          Untuk memenuhi kehausan dan kelaparan abadi yang ada di dalam diri manusia itulah Yesus menampilkan diri sebagai “roti dari surga”. Ia diutus Bapa untuk tinggal di antara kita dalam hidup sekarang ini, tetapi bukan hanya untuk memberi kekuatan jasmani dengan makanan sementara, melainkan juga makanan untuk memperoleh sumber hidup yang tak pernah kering.

          Bagi kita itu terwujud dalam penerimaan ekaristi. Sakramen ekaristi adalah intisari penghayatan iman kita yang sebenarnya. Ekaristi adalah lambang kenyataan diri Yesus sebagai sumber hidup sejati kita. Yesus mengundang kita dalam perayaan ekaristi untuk menerima diri-Nya sendiri sebagai  tubuh  dan darah-Nya. Artinya  kita  sungguh menerima pribadi-Nya, yang pernah hidup di dunia ini dengan tubuh dan darah manusiawi seperti kita. Ia memberikan diri-Nya, mencurahkan darah-Nya demi keselamatan kita.Yesus hadir bagi dan di tengah kita dalam perjamuan ekaristi, sebagai sumber hidup kita yang tak akan kering. Dalam misa kudus lewat perantaraan imam, Yesus sendirilah yang hadir untuk mempersembah korban kepada Allah Bapa. Tetapi sekaligus korban yang dipersembahkan kepada Allah, untuk dibagikan kepada umat-Nya ialah diri-Nya sendiri: tubuh dan darah-Nya. Kristus yang satu dan utuh itu diberikan kepada kita semua. Kita yang banyak disatukan, menjadi satu dengan Kristus dan dengan kita semua.
         
Apa konsekuensi penerimaan ekaristi bagi kita?
Bila kita sungguh percaya bahwa menerima ekaristi berarti menerima pribadi Yesus sendiri, maka kita juga bersatu, menjadi satu dengan Dia. Yesus sungguh menjadi sumber hidupku. Artinya: hidupku harus merupakan hidup Yesus Kristus sendiri. Segenap sikap, hidup, kata dan perbuatanku harus kuusahakan sebagai ungkapan atau perwujudan sikap, hidup, kata dan perbuatan Yesus sendiri. Bersatu dengan Kristus berarti bersatu pula dengan sesama kita siapapun, yang juga menerimanya.

Betapa  mendalam dan tak  terperikan  makna penerimaan ekaristi bagi kita, yang masih harus menempuhkan perjalanan hidup yang masih jauh, namun dibekali dengan makanan dan minuman rohani yang tak kunjung habis! Bukan hanya memperkuat diri kita sendiri, tetapi sekaligus saling membantu dengan sesama kita. Bukankah permusuhan antar kita, yang bersama-sama menerima Kristus yang sama, sungguh bertentangan dengan kasih Kristus sendiri?

Jakarta. 19 Agustus 2012

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/