Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XVIII/C/2016

Pkh 1:2; 2:21-23 Kol 3:1-5.9-11 Luk 12:13-21

 

PENGANTAR
    Dalam Bacaan Pertama ada pertanyaan: "Apa faedah yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya?" , Dan dalam Bacaan Kedua Paulus memberi nasehat kepada umat di Kolose: "Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus berada" . Akhirnya dalam Injil Lukas, Yesus mengajak kita untuk berfikir serius tentang harta yang kita miliki masing-masing. Ditanyakan: "Bagi siapakah nanti harta yang telah kausediakan atau kaukumpulkan itu?". Akhirnya Ia mengatakan: "Orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, ia tidak kaya di hadapan Allah".

HOMILI
     Dalam ketiga bacaan hari ini ternyata tidak terdapat ajaran dalam Kitab Suci, yang menilai harta atau kekayaan manusia adalah buruk atau hina, maupun harus dijauhi. Sebab manusia ciptaan Tuhan membutuhkan dan berhak memiliki harta yang cukup untuk dapat hidup secara wajar. Memiliki harta yang banyak pun sebagai hasil jerih payahnya sendiri, tidak dilarang atau bertentangan dengan kehendak Allah. Tetapi kekayaan yang tersedia di bumi tempat kediaman dan hidup semua orang ini harus digunakan untuk semua penghuninya itu secara wajar. Dalam Injil Lukas, Yesus dengan suatu perumpamaan memberi ajaran sebagai pegangan hidup kita secara manusiawi dan kristiani, baik sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan maupun sebagai saudara satu sama lain. Pada dasarnya atas dasar kasih kita diajak untuk selalu saling memperhatikan dan menolong.

     Yesus bukan melarang orang berusaha memiliki banyak harta, melainkan mengingatkan, agar kita jangan menjadi orang yang tamak, loba, serakah, selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri. Ternyata bagi kita kekayaan yang harus kita miliki bukan hanya menurut perhitungan dan pandangan manusia / dunia / masyarakat untuk sekarang ini saja, tetapi juga untuk "kekayaan di hadapan Allah".

     Di Jakarta metropolitan ini adanya berjuta-juta kendaraan ternyata bukan mempermudah perjalanan dan lalulintas, tetapi justru sebaliknya malahan saling menghambat. Sementara di satu pihak orang mengeluh dan menyesal kemacetan lalulintas, di lain pihak produksi kendaraan bermotor terus meningkat dan tetap ribuan orang yang membelinya. Yesus secara sederhana menggambarkan keadaan zaman kita sekarang juga dalam perumpamaan tentang orang kaya: hasil tanah terus bertambah, tetapi tidak ada tempat menyimpannya, maka didirikan lumbung-lumbung baru. Dengan demikian terjaminlah segala milik-nya untuk dirinya sendiri bertahun-tahun lamanya.

     Ternyata cara berpikir, bersikap dan bertindak seperti itu dianggap bodoh oleh Yesus. Bila kekayaan itu menggembirakan hatinya, ternyata kegembiraannya itu hanya selama masih hidup. Kekayaannya tidak menjamin lanjutan hidupnya, yaitu hidup sesudah hidup kita sekarang ini, yaitu hidup "di hadapan dunia". Nanti "di hadapan Allah" cara pandang dan ukuran nilai akan berlainan. Bila kita hanya memikirkan dan mengamankan diri saja, menurut Yesus adalah suatu pandangan picik dan sempit, sehingga tertipu dengan angan-angan sendiri. Pembangunan rumah makin besar, makin indah, makin mentereng, itulah contoh pemikiran bodoh di depan Allah. Ia lupa bahwa hidupnya "hanyalah semalam saja". Apabila kita ini selalu tetap haus dan lapar akan kekayaan harta untuk diri sendiri belaka, maka makin tumpullah jiwa kita. Tanpa disadari makin maju dan makin makmur hidup kita, makin kurang disadari pula rasa haus dan lapar akan kekayaan surgawi abadi, yang sebenarnya tersedia juga bagi kita.

     Marilah kita semua berusaha secara sungguh-sungguh membangkitkan, memupuk dan memperdalam rasa haus akan kekayaan abadi di hadapan Allah. Makin banyak kita meninggalkan kekayaan untuk kepentingan kita sendiri, dan makin rela membagikan kekayaan kita kepada sesama, akan makin banyak pula kita kumpulkan kekayaan kita di hadapan Allah.

     Sebagai pelengkap renungan kita ini, kita diingatkan bahwa tgl. 22-31 Juli tahun ini Paus Fransiskus berada di Polandia, ikut hadir dalam Hari Pemuda Sedunia. Paus itu berkata, bahwa saat ini dunia dalam keadaan perang. Bukan perang agama. Semua agama menginginkan perdamaian. Dunia berada dalam keadaan perang, karena hilangnya perdamaian. Perdamaian hilang bukan hanya karena perang, melainkan juga karena korupsi, ketdakadilan, diskriminasi rasial, perbenturan kepentingan, kebodohan, perdagangan manusia, kemiskinan dan ketidakpedulian yang menyebabkan lahirnya terorisme.

     Dan sebagai tambahan, Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan R.I. diberi pesan oleh Bp. Presiden Joko Widodo untuk memikirkan perbaikan dan peningkatan ekonomi sekaligus menyingkirkan kemiskinan yang masih dialami banyak penduduk negara kita yang kaya raya ini.

     Singkatnya, pesan Injil hari ini kepada kita umat kristiani, ialah agar kita berpikir, bersikap, berkata dan berbuat menurut prinsip solidaritas, artinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing hidup berbelarasa dengan sesama.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/