Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XVIII/C/2010

Pkh 1:2; 2:21-23 Kol 3:1-5.9-11 Luk12:13-21

PENGANTAR

Hari ini sementara Kitab Pengkhotbah ada pertanyaan: "Apa faedah yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya?" , Paulus memberi nasehat kepada umat di Kolose: "Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus berada" . Sedangkan Yesus mengajak kita memikir-kan dengan serius tentang harta yang kita miliki. Ditanyakan: "Bagi siapakah nanti harta yang telah kausediakan atau kaukumpulkan itu?". Akhirnya Ia mengatakan: "Orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, ia tidak kaya di hadapan Allah".

 

HOMILI

Dalam ketiga bacaan hari ini tidak terdapat ajaran dalam Kitab Suci, yang menilai harta atau kekayaan manusia adalah buruk atau hina, maupun harus dijauhi. Sebab manusia ciptaan Tuhan membutuhkan dan berhak memiliki harta yang cukup untuk dapat hidup secara wajar. Memilik harta yang banyak pun sebagai hasil jerih payahnya sendiri, tidak dilarang atau bertentangan dengan kehendak Allah. Tetapi kekayaan yang tersedia di bumi tempat kediaman dan hidup semua orang ini harus digunakan untuk semua penghuninya itu secara wajar. Dengan sebuah perumpamaan dalam Injil Lukas Yesus memberi ajaran sebagai pegangan hidup kita secara manusiawi dan kristiani, sebagai sesama makhluk Tuhan dan sebagai saudara satu sama lain. Pada dasarnya atas dasar kasih kita diajak untuk selalu saling memperhatikan dan menolong.

Yesus bukan melarang orang berusaha memiliki banyak harta, me-lainkan mengingatkan, agar kita jangan menjadi orang yang tamak, loba, serakah, selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri. Ternyata bagi kita kekayaan yang harus kita miliki bukan hanya menurut perhitungan dan pandangan manusia/dunia/masyarakat ini saja, tetapi juga "kekayaan di hadapan Allah".

Di Jakarta adanya berjuta-juta kendaraan ternyata bukan memper-mudah perjalanan dan lalulintas, justru sebaliknya. Sementara di satu pihak orang mengeluh dan menyesal kemacetan lalulintas, di lain pihak produksi kendaraan bermotor terus meningkat dan tetap ribuan orang yang membelinya. Yesus secara sederhana mengabarkan keadaan zaman kita sekarang juga dalam perumpamaan tentang orang kaya: hasil tanah terus bertambah, tetapi tidak ada tempat menyimpannya, maka mendiri-kan lumbung-lumbung baru. Dengan demikian terjaminlah segala milik-nya untuk dirinya sendiri bertahun-tahun lamanya.

Ternyata cara berpikir, bersikap dan bertindak seperti itu dianggap bodoh oleh Yesus. Bila kekayaan itu menggembirakan hatinya, ternyata kegembiraannya itu hanya selama masih hidup. Kekayaannya tidak men-jamin lanjutan hidupnya, yaitu hidup sesudah hidup kita sekarang ini, "di hadapan dunia". Nanti "di hadapan Allah" cara pandang dan ukuran nilai berlainan. Bila kita hanya memikirkan dan mengamankan diri saja, menurut Yesus adalah suatu pandangan picik dan sempit, sehingga tertipu dengan angan-angan sendiri. Pembangunan rumah makin besar, makin indah, makin mentereng, itulah contoh pemikiran bodoh di depan Allah. Ia lupa bahwa hidupnya "hanyalah semalam saja". Makin haus dan lapar kita akan kekayaan harta untuk diri sendiri belaka, makin tumpullah jiwa kita. Kita tidak lagi haus dan lapar akan kekayaan surgawi atau ilahi, yang sebenarnya tersedia juga bagi kita.

Marilah kita semua berusaha secara sungguh-sungguh membang-kitkan, memupuk dan memperdalam rasa haus akan kekayaan abadi di hadapan Allah. Makin banyak kita meninggalkan kekayaan untuk kepentingan kita sendiri, dan makin rela membagikan kekayaan kita kepada sesama, akan makin banyak pula kita kumpulkan kekayaan kita di hadapan Allah.

 

Jakarta , 31 Juli 2010

 

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/