Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XVII /B/2012

2 Raj 4:42-44  Ef 4:1-6  Yoh 6:1-15

PENGANTAR
Di tengah perjalanan hidup kita sehari-hari selama tahun 2012, yang bagi kita umat katolik di Keuskupan Agung Jakarta adalah Tahun Ekaristi, kita diajak mendengarkan Injil Yohanes tentang Yesus yang memberi makan kepada lima ribu orang (Yoh 6:1-15). Dalam Bacaan I dari Perjanjian Lama juga terdapat ceritera tentang seorang pelayan nabi Elisa sebagai abdi Allah, yang datang kepadanya membawa hanya 20 roti jelai. Tetapi Elisa memerintahkan supaya diberikan kepada 100 orang untuk di makan. Ternyata lebih dari cukup, bahkan ada sisanya. Tetapi pemberian makan Elisa kepada 100 orang itu tak terbandingkan dengan pemberian makan oleh Yesus kepada 5000 orang seperti diceriterakan dalam Injil Yohanes hari ini.

Homili
Dalam Injil, roti merupakan suatu gambaran tentang pribadi dan karya Yesus, yang maknanya terungkap di dalam Yoh 6:1-15 tersebut. Injil mengajak kita melihat Yesus memperbanyak 5 roti jelai dan 2 ikan. Ceritera tentang perbanyakan roti dan ikan terdapat dalam keempat Injil: baik  menurut Markus, Matius, Lukas maupun Yohanes. Ternyata Ekaristi memang merupakan pegangan dan sumber kesatuan umat pengikut Kristus di Gereja Perdana. Di dalam ceritera Injil-Injil itu terpaparlah suatu gambaran tentang kehidupan dalam “Kerajaan Allah” sejati sebagai suatu perjamuan yang dipimpin oleh Almasih sendiri.

Masing-masing penulis menyampaikan salah satu ciri khusus Ekaristi, sedangkan Yohanes dalam Injilnya (Yoh 6:1-15) menempatkan perbanyakan roti sebagai intisari ajaran Yesus tentang makna Roti Hidup. Inisiatif adanya mukjizat perbanyakan roti datang dari Yesus. Filipus termasuk murid-murid lain tidak mengerti, bahwa pertanyaan Yesus adalah suatu seruan kepada iman mereka. Filipus langsung menanggapi dengan masalah harga pembelian roti sebanyak itu. Juga ribuan rakyat yang sudah tertolong makan roti dan ikan sampai kenyang pun, seperti murid-murid Yesus, ternyata masih berpikir, bersikap dan berbuat secara dangkal, terlalu duniawi, materialistis sekali. Maka Yesus memang dianggap sebagai nabi yang harus datang, tetapi menurut gambaran sebagai raja yang  agung. Sebagai kontras Yohanes justru menampilkan seorang anak kecil. Justru melalui anak remaja yang lurus dan murah hati itulah Yesus dikenal siapakah Dia sebenarnya.

Perbanyakan roti merupakan gambaran yang tepat dan kena tentang makna Ekaristi sejati. Yesus menggunakan pemberian sederhana berupa sedikit roti dan ikan untuk memberi makan kepada ribuan orang. Ternyata ada 12 bakul sisanya. Yesus minta murid-murid-Nya supaya persediaan makan yang begitu terbatas itu, dengan penuh kepercayaan dan kemurahan hati, diberikan kepada semua orang. Apa maksud Yesus sebenarnya?

Memang  roti yang dibutuhkan  tidak akan pernah cukup, sebelum kita semua juga mau dan rela memberikannya kepada orang lain! Sebab bagi setiap orang yang percaya, Yesus bukanlah sekadar seorang pribadi,  yang dapat mengadakan mukjizat. Ia adalah roti dari surga. Maka dengan  menerima Dia, kita tidak akan merasa lapar dan haus lagi. Seperti roti memperkuat dan memelihara hidup kita, Yesus akan memelihara kehidupan sejati kita sebagai orang yang sungguh beriman. Mengenal dan menerima Yesus sebagai roti pemberi hidup merupakan ungkapan iman dan jawaban kasih kita kepada kasih Allah, yang terwujud dalam kematian-Nya disalib dan kemuliaan-Nya di surga.

St. Yohanes Kristostomus menulis: “Inginkah kamu menghormati tubuh Kristus? Maka jangan menolak Dia ketika Ia telanjang. Janganlah kamu memuliakan Dia di kenisah yang berhiaskan sutera, tetapi justru melalaikan-Nya ketika Ia menderita kedinginan dan tak berpakaian. Dia yang berkata: ‘Inilah tubuh-Ku’ adalah satu dan sama dengan Dia yang berkata: ‘Kamu melihat Aku lapar, tetapi kamu tidak memberi Aku makan’, dan ‘Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku’. Apa artinya apabila meja Ekaristi penuh dengan piala-piala dari emas, sementara ia akan mati karena kelaparan? Mulailah dengan menghilangkan kelaparannya dahulu, baru kemudian sesudah itu hiasilah altarnya dengan apa yang masih ada”.

Kata-kata itu harus  didengarkan oleh setiap komunitas kristiani sejati, agar Ekaristi sungguh merupakan perwujudan persaudaraan dan solidaritas kaum  beriman. Di antara segenap  warganya keadaan sesamanya yang paling hina atau berkekurangan harus merupakan sasaran pandangan dan keprihatinan  utama mereka. Di antara mereka inilah setiap kali Yesus sendiri dapat melaksanakan kembali mukjizat perbanyakan roti, seperti dikisahkan dalam Injil Yohanes.

Patut kita renungkan: Apakah makna Ekaristi Yesus bagi kita?  Apakah perayaan dan penerimaan Ekaristi kita setiap hari atau setiap minggu dapat mengadakan transformasi dalam diri kita masing-masing maupun secara bersama? Apakah kita saling menjadi sahabat, yang hidup penuh perhatian, pengertian, keadilan dan kasih satu sama lain? Sekarang pun mukjizat perbanyakan roti Yesus di antara kita  masih tetap dibutuhkan. Perbanyakan roti kasih tetap aktual, relevan dan urgent.


Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/