Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XVI /C/2013

Kej 18:1-10a  Kol 1:24-28  Luk 10:38-42

PENGANTAR
          Injl Lukas hari ini pendek dan sederhana, namun apabila dibaca sebagai sabda Allah dengan penuh perhatian, ternyata di dalamnya tersimpan suatu nasihat yang amat berguna bagi kita, yang kini hidup di dunia yang terus berkembang, penuh kesibukan. Tanpa kita sadari semua kesibukan itu terutama ditujukan kepada semua yang tampak, yang jasmani, yang materiil, untuk kepentingan raga, namun kurang atau nyaris demi kepentingan rohani, kepentingan jiwa. Marilah kita belajar dari Marta dan Maria, dua wanita yang dalam Injil hari ini bertemu dengan Yesus.

HOMILI
Kita semua ini sedang menempuh jalan perjalanan hidup. Dalam Injil hari ini Lukas berceritera, bahwa Yesus sedang berada pula dalam perjalanan menuju Yerusalem untuk melaksanakan tugas perutusan-Nya. Ketika tiba di kampung Betania, ia singgah di rumah Marta, Maria dan Lasarus saudara mereka. Ketika menerima kedatangan Yesus itu ternyata cara sambutan keduanya berbeda. Marta sibuk berjerih payah menyediakan apapun, yang menurut adat istiadat merupakan yang terbaik untuk menyambut seorang tamu. Sementara itu Maria hanya duduk di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan sabda-Nya.

     Dalam ceritera pendek itu terungkap suatu pesan, yaitu bahwa kita selama hidup atau “berada dalam perjalanan” tidak boleh acuh-acuh terhadap keperluan hidup kita, tetapi juga berarti bahwa kita ini janganlah terus-menerus sibuk dengan tak berkesudahan! – Dengan bahasa gerejawi atau rohani dapat ditegaskan, bahwa Yesus dalam kata-kata-Nya kepada Maria *) tidak mau menunjukkan pertentangan antara aktif dan  kontemplatif (secara sederhana: kerja dan doa). Ia hanya mau menunjukkan tekanan khusus faktor masing-masing, yaitu doa dan kerja, namun sekaligus juga perlunya kombinasi atau gabungan antar keduanya.

     Karena manusia ialah ciptaan Allah, ia tidak berada dan menentukan dirinya sendiri, maka ia tidak boleh total menyibukkan diri dalam kegiatan, kerja, aktivisme. Demi keutuhan dan kemampuannya manusia membutuhkan waktu tenang untuk dirinya sendiri, yaitu dalam pergaulannya dengan Allah. Bukan hanya berbuat demikian tanpa henti, melainkan untuk mengumpulkan kekuatan lagi agar dapat mengabdi Allah dalam pengabdian kepada sesama

     Karena hidup kita ini adalah suatu perjalanan, maka kita harus menyediakan waktu untuk istirahat, tetapi sekaligus untuk memeriksa arah perjalanan yang kita tempuh, agar dapat melanjutkannya dengan semangat baru dan kepastian harapan. Kita harus mau dan berani menghentikan kegiatan (aksi) untuk memasuki doa (kontemplasi). Semangat dan isi doa atau kontemplasi inilah yang harus menjiwai segenap kegiatan. Hanya kegiatan yang dijiwai dengan hubungan dengan Allah, adalah kegiatan yang utuh dan paling sempurna. Bila latar kegiatan kita, apapun wujudnya, tiada hubungannya dengan Allah, melulu menurut perhitungan sendiri dan demi kepentingan sendiri, kegiatan itu tidak berkenan kepada Allah. Sebab bukan merupakan pengabdian kepada-Nya, melainkan pengabdian kepada diri sendiri. Bukankah kegiatan/aktivitas apapun bentuknya serupa itu di hadapan Tuhan merupakan suatu penghayatan hidup keagamaan/religius yang palsu?

     Maria yang hanya duduk pada kaki Yesus dibenarkan oleh-Nya. Tidak berarti bahwa Maria harus melulu berdoa atau berkontemplasi saja! Jikalau demikian, bukankah kata-kata pujian-Nya kepada Maria juga bertentangan dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus sendiri dalam hidup-Nya? Yesus selalu giat dan sibuk, tetapi tidak pernah lepas dari hubungan-Nya dengan Allah Bapa-Nya. Ia mencari waktu untuk berdoa! Sebenarnya Yesus membenarkan dan memuji hati Maria, karena jiwanya siap sedia dan membuka diri sepenuhnya kepada-Nya, ketika Ia mau datang dan bersabda kepadanya!

     Apa pesan Injil hari kepada kita? Kita ini sedang dalam perjalanan hidup! Suatu perjalanan kita kepada Allah. Maka kita harus selalu melihat dan mendengarkan sabda-Nya. Bukan hanya untuk tinggal demikan saja, yaitu dalam kontemplasi/doa saja, melainkan sambil secara tetap berhubungan dengan Allah, kita justru mau melanjutkan perjalanan hidup kita, yaitu bekerja dan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada sesama. Itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Yesus sendiri dalam perjalanan hidup-Nya. Justru dalam hubungan-Nya (kontemplasi-Nya) dengan Allah Bapa yang mengutus-Nya, ia menempuh bagian terakhir hidupNya di Yerusalem untuk dihukum, menderita dan disalib untuk menyelamatkan kita. Itulah kesatuan antara kontemplasi dan aksi Yesus yang paling sempurna dan merupakan model kombinasi kontemplasi dan aksi yang utuh. Aksi dan kontemplasi tak terpisahkan. Perpisahan aksi dari kontemplasi adalah kegagalan.

 

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/