Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XV/A/2014

Yes 55:10-11  Rm 8:18-23  Mat 13:1-23

PENGANTAR
     Dalam perayaan Ekaristi pada Hari Minggu ini kepada kita dihidangkan Injil Matius (13:1-23), di mana Yesus menerangkan pewartaan sabda Allah dengan perantaraan suatu perumpamaan tentang seorang penabur. Baik Markus (4:1-20) maupun Lukas (8:4-15) juga menerangkan dengan cara yang sama. Marilah kita dalam perayaan Liturgi Sabda ini mendengarkan sabda Tuhan itu, agar nanti dalam perayaan Liturgi Ekaristi dapat menerima Sabda Yesus di dalam tubuh dan darah-Nya dalam komuni suci.

HOMILI
     Sabda Allah ibaratnya bagaikan sebuah biji kecil, yang jatuh ke tanah yang subur, lalu tumbuh dan berkembang. Dengan demikian terlaksanalah tujuan keberadaannya. Biji itu memang kecil, namun mengandung kemampuan yang besar. Sabda Allah itu memang berbentuk dan terdengar sebagai kata manusia, tetapi berasal dari mulut ilahi. Jadi bukan lagi merupakan kata manusiawi, melainkan sabda ilahi.

     Sabda Allah dapat kita bandingkan sebagai sebuah mutiara yang sangat berharga dan sangat kita inginkan. Betapa gembira dan bangga apabila kita dapat memilikinya. Sebab kebahagiaan manakah sebenarnya di dunia ini yang lebih besar dari pada sabda Allah, yang akan memberikan hidup abadi di surga? Dan Yesus, - itulah Sabda Allah, Penyelamat dunia, yang harus kita dengarkan, dan kita simpan dalam hati selalu.

     Sabda Allah adalah sabda abadi, yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada. Sabda ilahi penuh kekuatan dan selalu siap dan mampu menciptakan, membangun, menyempurnakan, memperbaiki dan menguduskan segalanya.

     Kita manusia yang bertelinga ini harus mau mendengarkan dan bukan sekadar mendengar. Mendengarkan dengan hati kita, sebab hati kita adalah pusat kehidupan pribadi kita. Hati kita adalah pusat rohani, di mana roh  memberi kita hidup. Dalam hati kita itulah kita selalu dapat menemukan Allah sebagai sumber hidup kita! Dalam hati itulah kita dapat menyimpan kekayaan kita, baik berupa perhatian kepada hal-hal yang jasmani duniawi,  maupun hal-hal yang rohani ilahi. Selalu benarlah pepatah ini: di mana kekayaanmu, di situlah hatimu. Kita harus sadar, bahwa kekayaan kita sejati adalah kasih Allah kepada kita. Karena itu kita harus selalu berusaha agar sabda Allah selalu hadir dalam hati kita! Sabda Allah bukanlah kata manusia.

     Sabda Allah, yang diumpamakan bagaikan benih atau biji, selalu dan tetap ditaburkan kepada hati semua orang bagaikan ke dalam tanah. Benih itu, yakni sabda Allah,  yang ditaburkan adalah sama, tetapi hati setiap orang sebagai tanah yang menerimanya tidak sama. Yesus memberi penjelasan mengapa benih baik yang ditaburkan itu dalam kenyataannya tidak semuanya bertumbuh dan berbuah dengan baik.

     Ada yang golongan manusia yang keras dan kering hatinya. Orang-orang yang tidak percaya, materialistis, hidup moral mereka diragukan, sombong, arogan, hanya puas dengan apa yang menyenangkan. - Ada lagi golongan lain, yakni orang yang percaya, tetapi iman mereka sangat dangkal, tak tahan lama. Mereka lebih hidup menurut perasaan, mudah berganti pendirian, tidak berdiri sendiri, sangat tergantung pendiriannya dari orang lain. Suka kenikmatan dan tidak memegang prinsip yang kokoh. – Kemudian ada lagi orang-orang yang memang beriman, namun iman mereka bukan menjiwai hatinya. Iman mereka masih berupa pandangan atau teori, belum merupakan daya penentu, yang merupakan sikap dasar dalam hidup dan perbuatan. – Namun akhirnya ada juga golongan orang-orang, yang sungguh memiliki dan menghayati iman sejati. Iman sejati inilah yang merupakan tanah yang subur, di mana sabda Allah dapat tumbuh dan berbuah. Mereka sungguh mendengarkan, menerima dan menghayati sabda Allah.

     Kesimpulan kita ialah, bahwa keselamatan kita, baik yang sekarang maupun yang kelak, adalah pemberian rahmat sabda dari Allah. Yesus Kristus Penyelamat kita adalah Sabda Allah. Dan sebagai Sabda Allah Yesus meneruskan sabda Allah Bapa-Nya  itu kepada kita, yang mau diselamatkan. Tetapi setiap orang hanya akan diselamatkan, apabila hatinya mau dan bersedia menjadi tanah yang subur, agar dapat menerima benih yaitu sabda Allah, yang ditaburkan oleh Yesus Kristus, Penyelamat kita. Benih itu harus bertumbuh dan berbuah. Kita bertanggungjawab kepada Allah untuk mengolah dan memelihara hati kita sebagai tanah yang  menerima benih itu, agar tetap benih sabda-Nya dapat bertumbuh dan berbuah di dalam kehidupan dan perbuatan kita sebagai pengikut Kristus sejati.

     Justru di zaman kita sekarang ini, di mana ada kemajuan dan keberhasilan alat-alat komunikasi antar kita manusia yang luarbiasa, jangan sampai kemajuan ini malahan memperlambat dan menghalangi alat rohani insani kita, yaitu hati kita untuk mendengarkan dan menerima komunikasi Allah dengan kita lewat sabda-Nya. 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/