Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XIX/B/2015

 1 Raj 19:4-8  Ef 4:30-5:2  Yoh 6:41-52


PENGANTAR

      Dalam Injil Yohanes hari ini Yesus menegaskan: “Akulah roti hidup yang turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya”. Apa yang dikatakan dan dilaksanakan Yesus tentang roti hidup itu, oleh Gereja diberi keterangan dengan pengalaman Nabi Elia, yang dapat hidup dan melaksanakan tugas perutusannya dengan kuat dan tabah sampai akhir. Sebab Allah yang mengutus, juga menyediakan roti bagi hidup dan pelaksanaan tugasnya.

HOMILI
      Elia adalah seorang nabi yang melawan nabi-nabi palsu yang melawan Yahwe dengan mewartakan berhala-berhala. Kerapkali tidak berhasil. Ia hampir putus asa dan ingin mati dan berseru: “Cukuplah sudah! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku”. Elias menghadapi kesukaran hidup di padang gurun. Tetapi ternyata Allah yang mengutusnya juga menolongnya. Allah memberinya roti dan air agar ia dapat kuat lagi untuk meneruskan pelaksanaan perutusannya. Sebab Allah tahu, bahwa Elia tidak mencari dirinya sendiri , melaikan melaksanakan perintah-Nya. Maka Allah melindungi dan menolongnya.
      Dengan latar belakang ini ternyata, bahwa baik bagi Elia maupun bagi kita, roti adalah landasan hidup manusia. Roti adalah pusat kehidupan kita. Roti adalah kehidupan. Dan dalam Injil Yohanes hari ini kita mendengar bahwa Yesus adalah roti hidup, Kristus adalah kehidupan! Maka makan tubuh dan minum darah Yesus lebih luas dan lebih mendalam artinya dari pada sekadar hanya percaya kepada-Nya!  Gambaran Yesus sebagai “Roti Hidup”  merupakan intisari makna hidup kita sebagai orang kristiani sejati.

      Bila Yesus berkata “Aku adalah roti hidup” Ia bukan hanya ingin lebih menunjukkan roti itu sendiri, melainkan lebih menunjukkan Diri Pribadi-Nya sendiri. Yesus mau mengatakan bahwa kelaparan, yang mau kita beri makan, adalah kelaparan akan Diri-Nya sendiri. Diri-Nya sendiri itulah roti yang diberikan-Nya. Yesus bukanlah sekadar roti untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Juga bukan terbatas untuk memenuhi kebutuhan perasaan. Yesus adalah roti untuk memenuhi kelaparan akan kebenaran. Sungguh roti untuk memenuhi segenap kelaparan insani kita sebagai manusia.

      Bagi kita umat yang telah dibaptis, Ekaristi merupakan jalan pertama untuk bertemu dengan Kristus, sebagai Tuhan kita yang telah bangkit. Secara simbolis namun nyataYesus memberikan roti hidup dari surga. Yesus mengambil roti. Artinya, Ia mengambil roti itu dari hidup kita, tetapi roti dari hidup kita itu disatukan dengan roti yang dari hidup diri-Nya sendiri. Roti itu diberkati-Nya. Jadi Yesus memberkati kita dengan hidup-Nya sendiri. Dan baptis merupakan saat pertama dari pemberkatan itu. Dan sesudah baptis, setiap kontak atau hubungan kita  dengan Yesus Kristus adalah suatu penghayatan dan pendalaman pemberkatan itu lebih lanjut.

      Di dalam misa kudus, pada saat konsekrasi, Yesus memecah-mecahkan roti. Seperti Yesus, juga di dalam hidup kita masing-masing ada saat-saat di mana kita merasa terpukul,  merasa jatuh,  kecewa, tersingkir, kehilangan kekuatan dan harapan. Kita juga merasa seperti yang dirasakan oleh Elia, waktu ia kehilangan harapan, bahkan mohon Allah supaya diambil nyawanya.- Namun pada saat-saat  di dalam hidup yang terpecah-pecah itu, ternyata Yesus Tuhan hadir bersama kita.

      Yesus memecah-mecah roti. Ia memecah-mecah diri-Nya. Ia memberi dorongan, keberanian dan tantangan kepada kita. Namun sekaligus Ia memberikan sabda dan roti sebagai bekal dan makanan. Tetapi terutama Ia memberikan diri-Nya sendiri! Tanpa henti, sepenuhnya selama hidup-Nya, sampai akhirnya di kayu salib Ia berseru: “Sudah selesai!” (Yoh 19:30).

      Baik dalam hidup, kematian maupun kebangkitan, Yesus telah memberi teladan dan tantangan-tantangan kepada kita supaya kita melakukan yang sama. Ucapan “Pergilah dan lakukanlah yang sama” merupakan suatu tantangan sekaligus suatu perutusan. Yakni suatu perutusan atau suatu perintah untuk melaksanakan kerelaan danm kesanggupan untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan diberikan kepada sesama. Roti memang tidak dapat dipecah-pecahkan apabila tidak dipegang dan dilakukan oleh kedua belah tangan! Bukan hanya dengan satu tangan! Dan bila itu kita lakukan dengan kedua belah tangan kita, - artinya dengan rela dan dengan segenap hati kita - , maka kita sungguh melakukan itu sebagai orang yang sungguh beriman.

      Marilah kita berdoa, agar keikutsertaan kita dalam perayaan Ekaristi, roti dan anggur yang kita terima, dapat mengubah kita menjadi apa yang kita makan dan minum itu, yaitu sebagai tubuh dan darah Kristus, dan dengan demikian kita dapat sungguh menjadi roti hidup, yang dipecah-pecah dan dibagikan kepada sesama.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/