Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Minggu Biasa XIV /B/2012

Yeh 2:2-5  2 Kor 7-10  Mrk 6:1

PENGANTAR
          Ketiga bacaan Kitab Suci hari ini pendek. Isi pokoknya ialah menunjukkan perlunya sikap dasar batin yang tepat, untuk  menentukan segenap sikap lahiriah dan tingkah laku hidup setiap orang. Sikap dasar manusia memang ditentukan oleh setiap orang sendiri, namun tiada seorang pun bebas dari hubungannya dengan Allah, yang telah menciptakannya. Inilah yang tampak dalam sikap bangsa Israel (Bac.1), dalam diri Rasul Paulus (Bac. 2) dan  dalam  orang-orang sekampung dengan Yesus di Nasaret (Injil Markus hari ini).

HOMILI
          Yesus telah  banyak mengajar dan mengadakan mukjizat di daerah Galilea, di mana Nasaret  berada.  Banyak orang mengikuti Dia. Tetapi di Nasaret sendiri, tempat asal dan tempat tinggal-Nya Ia mengecawakan banyak orang, bahkan Ia ditolak. Ajaran dan perbuatan-Nya yang baik diragukan dan dimasalahkan! Diperoleh-Nya dari siapa? Hikmat atau kebijaksanaan apa diberikan kepada-Nya? Bukankah Dia itu seperti kita-kita juga? Bukankah Dia itu tukang kayu, anak si Maria?
          Mereka itu yakin, Allah tidak akan mengutus Nabi apalagi Almasih secara begitu biasa, dan di daerah kampung seperti Nasaret. Almasih harus datang secara luarbiasa, secara  mengagumkan seperti misalnya diusulkan oleh setan untuk terjun dari Bait Allah. Bagaimana mungkin dari keluarga Yusuf tukang kayu dan Maria bisa datang seorang Nabi atau Mesias?

          Sekarang ini di negara kita, bila orang ingin menjadi Gubernur secara independen dan tak  berpartai  belum begitu pasti keberhasilannya, apalagi apabila ingin menjadi Presiden dapat dikatakan tidak mustahil. Dan bila Bapak Presiden atau Wakil Presiden mau mengunjungi daerah tertentu, tak jarang disambut dengan demonstrasi atau ditolak oleh kelompok-kelompok yang berpandangan berbeda. Bahkan di beberapa tempat, pengangkatan seorang Uskup terpilih yang bukan berasal dari daerah yang bersangkutan pun pernah mengalami penolakan oleh suatu kelompok umat beriman yang mengikuti pandangan terbatas.

          Menghadapi  keadaan serupa itu, apakah pesan Injil hari ini kepada kita sebagai umat beriman?

          Kiranya sumber sikap penolakan semacam itu ialah, bahwa kita sering menghendaki Allah bertindak menurut keinginan dan kemauan kita, dan bukan menurut kehendak-Nya! Bukan kita yang bersedia menerima dan melaksanakan rencana-Nya untuk  menyelamatkan kita, tetapi sebaliknya  kita menghendaki supaya Allah meneyelamatkan kita menurut pemikiran dan kemauan kita. Padahal seperti diajarkan  dan dilaksanakan oleh Yesus, Allah begitu mengasihi kita sampai di dalam diri Yesus  Ia menjadi manusia seperti kita, dalam segala hal kecuali dalam hal dosa! Kasih dan kerendahan hati Yesus itulah, yang harus dijadikan pegangan untuk menentukan sikap kita terhadap Allah dan terhadap manusia sesama kita! Kesamaan martabat kita  semua di hadapan Allah, - itulah yang harus selalu menjadi dasar sikap  hidup kita. Apa dan siapa pun yang  sungguh baik, harus kita nilai sebagai baik, meskipun penampilannya  lahiriah “secara resmi, protokoler, menurut adat” dianggap tidak  memenuhi cita-cita. Pandangan dan ukuran serupa itulah yang dipakai orang-orang Nasaret terhadap Yesus!

          Kalau ada seorang Pemimpin atau Pembesar siapapun datang, hendaklah kita terima dengan hormat dan pantas. Bila kita menyambut kedatangan Sri Paus, kita pasti akan  menyambutnya sebaik  mungkin, betapa  besarnya beaya yang harus kita gunakan. Sebab  Paus adalah Wakil Kristus dan kita semua merindukan berkatnya. Sikap ini benar dan sepantasnya. Tetapi kalau dalam hidup kita sehari-hari ada orang biasa yang berkekurangan atau menderita datang kepada kita, bagaimanakah sikap kita untuk menyambutnya? Ragu-ragukah kita bahwa di dalam diri orang berkekurangan itu Kristus pun juga hadir?  Ia orang biasa, bahkan rendah tingkat hidupnya! Tetapi Kristus ada  di dalam orang itu! Akan kita tolakkah Kristus yang juga hadir di dalam dirinya itu?

          Berkali-kali Yesus di Galilea mengajarkan nilai-nilai hidup manusia yang benar seperti dikehendaki Allah. Berkali-kali Ia mengadakan mukjizat untuk menolong orang. Ternyata orang-orang Nasaret sebagai sesama sekampong pun belum melihat dan memahami ajaran dan teladan Yesus itu.

          Bagaimanakah sikap kita sebagai murid-murid Yesus dewasa ini, duapuluh abad kemudian? Apakah kita ini yang memang resmi sudah dibaptis menjadi orang-orang pengikut Kristus, tetapi berjiwa dan bersikap seperti orang-orang Nasaret terhadap Kristus di zaman-Nya? Apakah kita sadar atau tidak sadar sering menolak  kedatangan Kristus yang hadir dalam sesama kita, yang sebenarnya membutuhkan pertolongan kita. Kita  mudah  merasa ada perbedaan terlalu besar di banyak hal antar keadaan atau kedudukan kita? Untuk bertemu dengan Kristus atau untuk merasa didatangani oleh Kristus, kita tidak perlu selalu secara resmi pergi ke gereja, atau bertemu dengan uskup atau imam, ataupun resmi mengikuti ibadat liturgis. Seringkali hal itu memang perlu. Tetapi untuk dapat bertemu dengan Kristus atau ingin didatangani oleh Kristus, kita juga dapat pergi kepada atau didatangi oleh sesama kita  yang membutuhkan pertolongan kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/