Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XI/C/2016

2 Sam 12:7-10.13 Gal 2:16.19-21 Luk 7:36-50

 

PENGANTAR
    Pada hari Minggu ini kita mendengarkan Injil Lukas, yang menggambarkan Yesus yang hadir, berbicara dan bertindak secara adil, penuh kasih dan kerahiman, di rumah seorang Farisi. Di tempat itu kepada seorang perempuan berdosa yang terkenal Yesus bersabda: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!".

HOMILI
     Di dalam ceritera Injilnya hari ini Lukas mengemukakan perbedaan antara iman sejati atau murni dan iman semu atau palsu. Atau antara iman yang sungguh dihayati dan iman yang hanya berupa pengetahuan atau hanya sekadar diketahui. Kaum Farisi adalah orang-orang, yang resmi merasa dirinya beragama dan bangga melakukan Taurat, sebagai hukum lama dengan setia, tetapi tidak mau menerima dan melaksanakan hukum baru, yang disampaikan oleh Yesus kepada mereka.

     Sebaliknya seorang perempuan yang dianggap sebagai orang berdosa dan dipandang sebagai sampah oleh masyarakat, justru memiliki iman/kepercayaan yang benar dan sungguh diyakini dan disadarinya. Memang benar bahwa milik martabat pribadinya sebagai orang perempuan, yaitu kasihnya yang begitu berharga dijualnya murah kepada orang-orang laki-laki. Dan juga orang-orang laki-laki dalam gilirannya menodai martabat mereka sendiri sebagai orang laki-laki, yang tidak tahu menghargai dirinya sendiri. Bukan memelihara dan memelihara kasihnya yang sejati tetapi lebih dikuasai oleh nafsu dan kesombongannya.

     Walaupun dalam perjalanan hidupnya, si perempuan itu tersingkirkan dari lingkungan masyarakat, namun ternyata hatinya masih mampu menangkap dan mendengarkan ucapan-ucapan Yesus, yang menyampaikan kabar gembira tentang kasih Allah kepada semua orang, khususnya justru suara kasih Yesus kepada kaum kecil, tersingkir dan pendosa.

     Dengan melihat, mendengar dan mengenal Yesus itulah terjadi perubahan dalam hati si perempuan pendosa itu. Ia menjadi sadar dan mengalami bahwa ternyata masih ada kasih lain, yang lebih tinggi, bukan sekadar cinta yang dapat dipermainkan begitu saja. Kasih yang diperlihatkan Yesus kepada masyarakat ternyata sungguh mampu menyelamatkan orang. Iman perempuan itu dapat timbul dan berkembang. Dan akhirnya dengan keyakinannya itu ia berani dan mampu memasuki rumah orang Farisi, di mana Yesus diundang ikut hadir bersama tamu-tamu kaum Farisi lainnya. Si perempuan yang terdorong oleh imannya yang kuat, tidak ragu-ragu mengorbankan kehormatan dirinya dengan berlutut untuk membasahi kaki Yesus, bahkan dengan menyekanya dengan rambutnya, dan kemudian mencium-Nya serta meminyakinya dengan minyak wangi. Itulah ungkapan kasihnya yang baru, sebagai jawaban akan kasih yang diwartakan dan dilaksanakan oleh Yesus kepada siapapun juga, yang mau mengenal dirinya sendiri secara jujur seperti apa adanya.

     Dibandingkan dengan apa yang dilakukan si perempuan pendosa itu terhadap Yesus, betapa begitu terbatas sambutan, yang disampaikan si orang Farisi kepada Yesus, yang diundang kedatangan-Nya. Ia tidak menyediakan seorang pelayan pun untuk membasuh kaki Yesus, dan tidak menyambut Yesus dengan ciuman tanda persaudaraan yang lazim dilakukan orang, dan juga tidak mau menghidangkan minyak sebagai penyegar bagi Yesus yang diundangnya. Orang Farisi ini rupanya tidak mengharapkan apapun dari Yesus, sebab ia angkuh, tidak menyadari mempunyai kekurangan dan kemiskinan dalam pribadinya sendiri. Ia merasa tidak perlu menyelasi kelemahan dirinya, dan merasa dirinya utuh tak bercela, merasa dirinya selalu benar, dan bahkan bangga selalu melaksanakan Taurat. Ia tidak mengenal kasih lain kecuali kasih kepada dirinya sendiri saja!

     Sebaliknya si perempuan itu tahu dan sadar, bahwa dirinya adalah pendosa, tetapi sekarang ia juga mengetahui kasih Yesus kepadanya. Maka kasih Yesus itu harus dibalasnya dengan kasih tanpa batas. Perempuan itu ternyata memiliki iman yang benar, iman sejati. Imannya inilah yang menolong dia untuk mengenal dan mengakui Yesus sebagai Tuhan yang selalu mau mengampuni dosa dan memberikan rahmat dan kasih-Nya. Allah adalah sungguh maharahim!

     Baik dahulu di zaman Yesus sendiri maupun sekarang ini, kita diingatkan dan disadarkan, bahwa hidup sebagai orang beriman dan beragama bukan hanya berarti memenuhi peraturan-peraturan ibadat menurut agama secara lahiriah dalam hubungan kita dengan Allah saja. Tetapi sekaligus secara tak terpisahkan kita harus juga memenuhi perintah Allah dalam hubungan kita dengan sesama. Perintah mengasihi Allah tidak terpisahkan dari perintah Allah untuk mengasihi sesama. Iman kita hanya benar, apabila iman kita itu mendorong kita mengasihi sesama. Justru terutama sesama kita yang lemah dan membutuhkan kasih kita. Hanya apabila kita bersikap dan berbuat demikian, berlakulah juga kata-kata Yesus kepada si perempuan yang berdosa ini: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat".

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/