Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA VII/A/2014

Im 19:1-2.17-18  1 Kor 3:16-23 Mat 5:38-48

PENGANTAR
    Kita semua sadar, bahwa kita sebagai manusia tidak dapat hidup sendirian tanpa hubungan dengan sesama. Hubungan antar sesama itu hanya dapat membuat hidup kita bahagia, apabila merupakan hubungan kasih. Tetapi kasih itu tidak mungkin ada, apabila kita masing-masing hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Yesus dalam Injil Matius hari ini memberi nasihat kepada kita, untuk selalu berusaha berbuat baik dalam hubungan kita dengan sesama. Yesus malahan berkata:Kamu harus sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya”

HOMILI
    Seperti Injil dalam Misa Hari Minggu yang lalu, ajaran Yesus untuk hari ini juga merupakan bagian ajaran-Nya yang terdapat di dalam Khotbah di Bukit (Mat 5-7). Ajaran-Nya itu diungkapkan dengan menunjukkan pertentangan antara apa yang baik dan apa yang jahat, atau dengan membandingkan apa yang baik dengan apa yang lebih baik lagi. Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada kita, agar kita sama sekali jangan bersikap pasif atau mengalah dalam menghadapi bahaya fisik. Tetapi Yesus menegaskan, bahwa membalas kekerasan dengan kekerasan dari satu pihak akan meningkatkan kekerasan dari pihak yang lain itu juga. Apabila kekerasan tidak dilawan dengan kekerasan, lawannya itu dapat tergerak untuk menghentikan kekerasan dan bahkan mau berdamai. Dan dengan demikian tercapailah penyelesaian masalahnya dengan lebih baik.

    Yesus berkata: “Kamu telah mendengar bahwa dulu ada ungkapan: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu:’Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu” (Mat:38-39). Dengan bahasa kiasan Ia menambahkan, bahwa apabila kamu ditampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu. Dan bila bajumu yang diminta, serahkanlah juga jubahmu (pakaian lengkapmu). Ditambahkan-Nya: “Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya, dan jangan menolak orang yang yang mau meminjam sesuatu dari padamu” (Mat 5:42). Apa yang dikatakan Yesus tersebut adalah suatu ajaran, yang mau menyingkirkan  secara radikal pembalasan dendam, yang harus  dilakukan oleh murid-murid-Nya dalam kehidupan  pribadi mereka. Ajaran Yesus ini tetap berlaku, walaupun masyarakat memang berhak dan berkewajiban  mempertahankan atau membela anggota-anggotanya, yang menghadapi kejahatan, dan juga menghukum siapapun yang melanggar hak-hak penduduk dan negara sendiri.

    Dalam ajaran-Nya itu Yesus mau menuntun proses atau perkembangan murid-murid-Nya setapak demi setapak menuju kepada hidup kristiani sejati yang sempurna. Ia berkata: “Kamu telah mendengar firman, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu’. Tetapi Aku berkata kepadamu, ’Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’. Karena dengan demikian kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar” (Mat 5:43-45). Dengan kata-kata-Nya itu Yesus menafsirkan atau memberikan arti yang otentik atau benar tentang perintah Allah. Latar belakang atau landasan perintah Allah tentang hubungan manusia antar sesama seperti yang diterangkan oleh Yesus adalah kasih. Allah mengasihi semua orang.

    Karena itulah pada akhir khotbah-Nya tentang hubungan yang benar setiap orang satu sama lain, Yesus menegaskan: “Kamu harus sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya (Mat 5:48). Dengan demikian Yesus  menuntut murid-murid-Nya memiliki dan menghayati kasih yang sempurna. Intisari hukum baru yang diajarkan dan diberikan Yesus kepada kita ialah kasih. Kasih inilah yang merupakan kekuatan, yang akan mampu menolong dan menjiwai kita untuk mengatasi masalah kita sebagai manusia sejak dahulu, yakni masdalah pertentangan antara teman dan musuh, antara saudara dan lawan.

    Dalam Bacaan  I Tuhan sudah bersabda: “Kuduslah kamu, sebab Aku,Tuhan Allahmu, kudus. Jangan engkau membenci saudaramu dalam hati…Janganlah menuntut balas,dan janganlah menaruh dendammelainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Akulah Tuhan” (Im 19:1,17-18). Inilah yang diteguhkan oleh Yesus: “Kamu harus sempurna, sebagaimana Bapamu yang di surga sempurna adanya”. Artinya, kita adalah sempurna apabila kita mengasihi Allah dan sekaligus mengasihi sesama kita. Menjadi sempurna berarti  mau mengasihi. Orang yang mengasihi, itulah orang yang suci. Menjadi suci menurut Paulus (Bac.II) berarti menyadari diri dan menghayati diri sebagai bait Allah. “Kamu adalah milik Kristus, dan Kristus adalah milik Allah”. – Kita adalah milik Kristus, dan dalam Kristus kita adalah milik Allah. Tetapi kita adalah sungguh milik Kristus dan milik Allah, apabila kita memiliki dan menghayati kasih kita kepada Allah dan sesama kita, seperti diajarkan dan dilakukan oleh Kristus. Beragama dan beriman hanya benar apabila juga berupa mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri.
  

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/