Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA VI/B/2015

Im.13;1-2.45-46  1 Kor10:31-11:1 Mrk1:40-45


PENGANTAR
       Injil Markus hari ini berbicara tentang penyakit kusta, suatu penyakit badani. Sudah dalam Perjanjian Lama penyakit badani dikaitkan dengan keadaan rohani atau keagamaan. Dalam kenyataannya kusta dahulu merupakan suatu penyakit yang memang sangat menakutkan, dan menurunkan martabat manusia kepada kehinaan hampir di segala bidang hubungan dengan sesama dalam kehidupannya. Marilah kita menangkap pesan Injil Markus tentang penyembuhan orang yang sakit kusta oleh Yesus.

HOMILI
       
Bahwa penyakit kusta merupakan penyakit yang mengerikan dan sangat menakutkan bagi umat, antara lain dalam Kitab Suci terbukti dari kenyataan, bahwa Musa dalam Kitab Imamat memberi keterangan dan perintah Allah dalam menghadapi kusta dalam tulisan dua Bab 13 dan 14, yang sangat panjang! Sebab hanya Allah yang dapat mengalahkan kusta, demikianlah keyakinannya.

       Di zaman Yesus orang yang sakit kusta terpaksa harus hidup di luar lingkungan masyarakat. Terpisah dari keluarga dan teman-teman, dan dengan demikian dijauhkan dari setiap hubungan antar sesama. Misalnya dalam Im.13:45-46 misalnya tertulis: Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai, dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya”. Demikianlah orang sakit kusta mengalami pengasingan, pembuangan total baik karena penyakit maupundari hubungan dengan masyarakat. Penyakit dan pengasingan dari masyarakat itu menghancurkan kehidupan orang sakit kusta. Kita bisa bertanya: manakah yang lebih buruk, pengasingan sosial diri dari hubungan masyarakat atau penyakit kusta yang mengrogoti segenap kulit dan syarafnya?

       Dewasa ini, sungguh bersyukurlah kepada Tuhan yang mahakasih, bahwa berkat keahlian di bidang kedokteran masalah penyakit kusta dapat dikatakan telah diatasi. Tetapi isi pesan yang disampaikan Injil Markus hari ini kepada kita tetap aktual dan sangat relevan. Sekarang ini penyakit kusta badani atau jasmani memang belum lenyap seluruhnya, namun pada umumnya sudah dapat diatasi.

       Tuhan juga menganugerahkan tokoh-tokoh yang menyediakan diri untuk ikut menolong orang-orang yang menghadapi dan menderita kusta. Pertama ialah St. Damianus (Joseph De Veuster), di Molokai di Kepulauan Hawai yang lahir tahun 1840 di Belgia. Tahun 1873 beliau mulai terjun bekerja menolong kaum kusta. Ia sendiri tahun 1885 terkena penyakit kusta, dan wafat April 1889 sebagai korban pelayanan kasih kepada sesama. Tahun 2009 Paus Benediktus XVI mengumumkan imam itu menjadi St. Damianus.

       Tokoh kedua yang sebagai penolong orang-orang kusta juga menjadi korban kusta ialah Sr. Marianne Cope (1838-1918), yang sebagai Pemimpin suatu Kongregasi Suster di Amerika Serikat pergi ke Molokai,  daerah Hawai, guna melaksanakan undangan untuk melayani kaum penderita kusta. Ia bekerja sama dengan Pater Damianus, dan tidak pernah meninggalkan tempat pelayanan kusta itu. Suster ini sangat mengasihi kaum kusta itu tanpa mencari keamanan dirinya sendiri. Penduduk di daerah kepalauan dari pelbagai agama  sangat menghargai dan menghormati Pater Damian dan Sr. Maianne itu, yang tanpa pamrih berusaha menyembuhkan jiwa dan raga para penderita sakit kusta.

       Tak terlupakan, kita ingat juga akan Ibu Teresa dari Kalkuta (1910-1997), yang tidak pernah ragu-ragu dan takut melihat dan meraba wajah Yesus, yang dijumpainya dalam diri rakyat paling miskin di India. Ibu Teresa menulis: “Kepenuhan hati kita terungkap dalam perbuatan kita. Bagaimana aku menghadapi penderita kusta, orang yang akan mati, orang-orang yang tak punya rumah. Kerapkali lebih sukar melayani orang-orang di jalan daripada di rumah melayani orang yang akan meninggal, sebab mereka ini penuh damai sambil menunggu, mereka siap pergi kepada Tuhan! – Kamu dapat meraba orang sakit, penderita kusta dan percayalah tubuh Kristuslah yang kamu raba. Memang jauh lebih sukar apabila orang-orang yang dihadapi adalah orang mabuk atau yang mengaku dirinya Yesus yang tampil secara tersembunyi. Betapa harus bersih dan penuh kasih tangan kita untuk berbelas kasih kepada mereka semua itu! Kita harus sungguh murni dalam hati untuk bisa melihat Yesus hadir di dalam semua orang yang secara rohaniah sangat miskin itu. Karena itu, semakin buruk dan tidak tampak gambaran Allah dalam setiap pribadi, harus semakin besar dan kuatlah iman untuk melihat wajah Yesus dalam diri pribadi itu, yang harus kita layani dengan penuh kasih.

       Memang kini kita jarang menjumpai penderita kusta lahiriah. Namun kini kita berhadapan dengan kusta dalam aneka bentuk lain, yang akan menghancurkan pribadi manusia, akan menjauhkannya dari masyuarakat, mematikan semangat  dan harapannya. Orang-orang ini menderita kusta manusiawi-rohani. Mereka ibaratnya menjadi “mayat-mayat yang hidup”. Dunia ini menjadi kuburan atau makam, di mana dirasakan ada penghinaan, penderitaan, kemiskinan, kesedihan, tekanan, musnahnya segala harapan. Dunia gelap tanpa sinar! Benarkah demikian?

       Apabila berpikir tentang kusta jasmani maupun rohani, janganlah kita takut. Dunia kita ini bukanlah kuburan, melainkan tempat kita harus hidup bersama. Tetapi untuk dapat hidup bersama dengan baik, sehat dan selamat, kita harus juga berani menyingkirkan segala penyakit, baik bagi diri kita sendiri maupun terhadap sesama. Penyakit rohani kita, khususnya terhadap sesama akan hilang, apabila kita tahu dan mau menjumpai Yesus dalam diri sesama kita. Makin besar penyakit kita, justru harus makin besarlah iman, harapan dan kasih kita kepada Kristus.   

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/