Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA VI/A/2014

Sir 15:15-20  1 Kor 2:6-10  Mat 5:17-37

PENGANTAR
    Injil Matius Hari Minggu ini adalah petikan dari ajaran dasar Yesus, yang terdapat dalam Khotbah-Nya di Bukit (Mat 5-7). Dari pelbagai perbedaan di antara hukum yang berlaku dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru, yang disebut  Yesus dalam Injil itu, sikap dasar hidup keagamaan kita terhadap Allah dan sesama diungkapkan-Nya dalam kata-kata berikut ini: “Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Marilah kita berusaha memahami makna hidup keagamaan kristiani yang benar menurut  ajaran Yesus tersebut.

HOMILI
    Hidup  keagamaan kita sangat menentukan sikap, hidup dan perbuatan kita terhadap Allah dan sekaligus terhadap sesama kita. Yang dimaksudkan di sini ialah hidup keagamaan kita sebagai orang yang sungguh beriman kristiani. Agama atau kepercayaan yang dianut orang menurut keyakinan masing-masing pada umumnya adalah baik dan bertujuan menolongnya untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah yang diimaninya. Tetapi dalam kenyataannya pelaksanaan penghayatan hidup beragama oleh banyak orang itu berbeda. Yang berbeda bukan hanya isi ajaran agamanya atau bentuk dan cara pelaksanaannya yang tampak, melainkan juga dan terutama sikap dasar atau suara batin yang menggerakan hidup dan sikap menghayati keagamaannya masing-masing.

    Sebagai contoh ada beberapa fakta. Misalnya di Sampang, Madura, aliran agama Islam Syiah tidak diterima dengan baik oleh sesama umat Muslim setempat. Di tempat lain lagi ada rumah ibadat Islam Ahmadyah dirusak. Ada juga di tempat lain suatu gedung gereja Protestan dan Katolik dirusak. Di Ciledug di Jawa Barat, umat Katolik   sesudah menunggu bertahun-tahun akhirnya memiliki surat IMB dari Pemerintah untuk membangun gereja untuk paroki.Tetapi sampai sekarang pembangunannya belum dapat dilaksanakan, karena tetap ada golongan agama lain yang menentangnya.

    Contoh lain di kalangan umat kristiani sendiri. Ada umat-umat kristiani yang resmi sudah dibaptis, punya surat baptis dan dalam KTP-nya tertulis agamanya katolik, mereka melakukan ibadat menurut  peraturan Gereja, termasuk mengikuti liturgi misa dalam gereja dan menerima ekaristi, yaitu Kristus yang dalam kasih-Nya memberikan diri-Nya kepada semua orang yang berkehendak baik. Tetapi mereka ini tidak rukun satu sama lain, saling bertengkar, dan tidak mau saling memaafkan atau saling menolong. Mereka itu tampaknya banyak berdoa dan beribadat., tetapi hidup mereka jauh dari teladan Yesus yang diimaninya.    

    Itulah beberapa contoh tentang orang-orang, yang dimaksudkan Yesus. Hidup keagamaannya tidak lebih daripada hidup keagamaan kaum Farisi. Karena itu mereka itu tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, atau dengan kata lain tidak akan diselamatkan.

    Pesan yang disampaikan Yesus kepada kita, bila sungguh ingin diselamatkan oleh-Nya, harus bersikap dan hidup seperti Dia sendiri. Yaitu sungguh taat dan melaksanakan apa yang dikehendaki Allah Bapa-Nya, yakni meneruskan kasih Allah kepada semua orang. Menghormati, memuji, meluhurkan Allah pada dasar-nya tak lain tak bukan adalah mengasihi Allah dengan sekaligus mengasihi sesama manusia, yang dikasihi-Nya.  Kalau Allah, seperti dibuktikan Yesus, mengasihi semua orang  yang berhendak baik, dan bila kita sungguh ingin menjadi murid Yesus, bukankah kita harus berbuat seperti Dia? Yesus mengasihi Allah Bapa-Nya, yang mengasihi manusia, maka Yesus mengasihi semua orang seperti dilakukan Bapa-Nya. Kalau kita sungguh ingin menjadi murid Yesus, maka kasih kita kepada Allah harus juga serupa dengan kasih Yesus kepada Allah Bapa namun sekaligus kepada sesama.

    Ibaratnya, hidup keagamaan kita hanya benar dan murni, bukan seperti hidup keagamaan kaum Farisi, apabila kasih kita kepada Allah merupakan juga sikap, hidup dan perbuatan kasih kita kepada sesama. Ibadat dalam hidup keagamaan yang benar adalah ungkapan kasih nyata kepada sesama kita. Sebaliknya, hidup keagamaan apapun dan bagaimanapun bentuknya namun tanpa kasih adalah palsu. Ibadat apapun kepada Allah tetapi sekaligus disertai permusuhan, benci, dendam, ketidakadilan terhadap sesama, adalah penipuan diri manusia terhadap dirinya yang paling berbahaya, yang berarti menolak Kristus. Itulah hidup keagamaan palsu.


            

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/