Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA V/A/2011

Yes 58:7-10 1 Kor 2:1-5 Mat 5:13-16

PENGANTAR

Dalam Tahun Liturgi A yang kini kita ikuti, sabda Allah yang disampaikan kepada kita dalam perayaan Ekaristi diambil dari Injil Matius. Dalam Injil Matius ini Bab 5-7 disebut "Khotbah di Bukit" Yesus, yang menampung ajaran-ajaran baku Yesus bagi setiap orang, yang ingin menjadi murid-Nya sejati. Hari ini kita ajak mendengarkan Injil Mat 5:13-16 di mana Yesus bersabda: "Kamu adalah garam dunia" dan "Kamu adalah terang dunia" . Marilah kita berusaha memahami apa arti kehendak Yesus, supaya kita sebagai Gereja menjadi garam dan terang bagi dunia kita ini.

HOMILI

Sejak dahulu garam merupakan kebutuhan baku untuk hidup manusia. Garam memberi rasa lezat, selera untuk makanan. Juga memiliki daya untuk memelihara lama atau mangawetkan sesuatu. Bahkan garam menimbulkan suatu kehausan akan sesuatu yang lain lagi. Kenyataan konkret sehari-hari inilah yang dipakai Yesus untuk menyampaikan syarat, yang harus dimiliki murid-murid-Nya, untuk meneruskan Kabar Gembira kepada dunia masyarakat mereka santapan yang lezat, disukai orang, terpelihara secara utuh, dan agar supaya mereka ingin meneruskan rasa haus, mencari dan menemukan ajaran-ajaran-Nya sebagai makanan yang lezat dan berguna.

Garam yang begitu diperlukan bagi hidup manusia itu juga digunakan untuk tujuan lain, misalnya secara simbolis dipakai pada upacara perjanjian dan upacara keagamaan. Misalnya: "Dalam setiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam " (Im 4:23). Bahkan ada istilah " perjanjian garam " (Bil 18:19). Perjanjian garam ini berarti suatu hubungan/relasi yang menetap, dan makan garam bersama orang lain berarti memasuki ikatan setia satu sama lain. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Injil-Nya: "Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain". Mengapa? Jawabnya: "Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? " (Mrk 9:30).

Timbul pertanyaan: apa artinya bahwa garam bisa menjadi hambar atau kehilangan rasa asinnya? Bagi kita sekarang ini, garam selalu tetap terasa asin dan tidak hambar! Di zaman Yesus garam tidak dibuat dan dimurnikan dari unsur-unsur campuran seperti garam kita sekarang. Karena tercampur dengan unsur-unsur lain, rasa garam itu berubah dan bisa kehilangan rasa khususnya. Nah, sifat garam inilah yang dipilih Yesus untuk menggambarkan sifat orang bila menjadi murid-Nya: tetap setia atau tidak setia sebagai murid Yesus! Dengan perumpamaan tentang garam di zaman-Nya itu Yesus menunjukkan pelbagai sikap khas setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus sejati. Secara singkat: murid Yesus sejati harus tahu kapan dan bagaimana ia harus mengubah sikap hidupnya, apabila "masakan hidangan ajaran Yesus" terasa olehnya hambar dan tidak cocok`lagi dengan seleranya sendiri. Ia harus tahu dan mau berusaha mempertahankan dan memupuk kembali hidupnya menurut iman, apabila makin bertentangan dengan "rasa" injili/alkitabiah yang benar. Ia harus setia dan loyal/taat akan janjinya dengan Tuhan melalui baptis dan penerimaan sakramen-sakramen Gereja-Nya. Secara singkat Paulus juga menegaskan, bahwa murid Yesus sejati ialah orang yang "berbicara" (= berpikir, bersikap, berkata dan berbuat) sesuai dengan nasihatnya ini: :"Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hampar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang" (Kol 4:6).

Selanjutnya, apa hubungan antara pesan Yesus "Kamu adalah garam dunia" dan "Kamu adalah terang dunia" ? Pertama-tama karena Yesus sendiri adalah Terang Dunia . Karena itu murid-murid-Nya pun harus menjadi terang bagi dunia! Terang mempunyai kiri khusus, yaitu menhilangkan kegelapan! Yakni menghilangkan kejahatan dan dosa, yang dapat timbul dari kebodohan, kertidaktahuan, praduga dan kepentingan diri melulu. Yesus adalah terang, karena wajah-Nya bersinar dan menunjukkan diri seperti ada-Nya, yaitu selalu yang baik! Nah, itulah pula yang harus menjadi teladan para murid Yesus sebagai terang dunia. Itulah juga yang dikatakan oleh Yesaya (Bacaan.I): "Terangmu akan merekah laksana fajar" (Yes 58:8; lih ay. 7-10). Yang dimaksudkan Yesus ialah bahwa kita ini dapat berbuat baik terhadap sesama dengan "membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah" (Yes 58:7), "melihat orang telan-jang...engkau memberi dia pakaian" (ay.8), "memuaskan hati orang yang tertindas" (ay.10). Apabila demikianlah yang dilakukan murid Yesus, maka seperti dikatakan oleh Yesaya: "terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari" (Yes 58,10).

Jadi dalam Injil Matius hari ini, Yesus memperingatkan kita secara sederhana namun jelas akan keadaan kita sebagai orang yang dibaptis sebagai murid Yesus sejati. Bila ingin menjadi murid Yesus yang sejati, maka kita tak boleh bersikap acuh tak acuh dan pasif sebagai orang beriman. Kita harus ikut mewartakan dan melaksanakan Injil kepada semua orang dengan kata dan perbuatan sebagai garam dan terang bagi dunia, yaitu semua orang dan di mana pun kita berada, hidup dan bekerja. Amin.

 

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/