Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA V/CII/2016

Yes 6:1-2a.3-8   1 Kor 15:1-11   Luk 5:1-11

PENGANTAR
      Hasil penangkapan ikan luarbiasa bagi Petrus merupakan bukti, yang meyakinkan dirinya. Maka ia tersungkur di depan Yesus dan berseru: “Tuhan, tinggalkanlaha aku, karena aku ini orang berdosa”. Tetapi seruan Petrus dijawab Yesus: “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia”!

HOMILI      
      Bagi orang “modern” atau “maju” istilah “penjala/penangkap manusia” atau “gembala domba” yang dipakai Yesus untuk menyebut rekan-rekan kerja-Nya  (co-workers), para rasul, terdengar kurang sedap, sebab dirasakan mengurangi martabat atau kedudukan hidup dan karyanya untuk zaman ini. Dewasa ini orang tak suka “ditangkap”, “dijala” orang lain, apalagi menjadi bagian dalam kelompok domba! Kiranya istilah injili yang dipakai Yesus itu membutuhkan keterangan.

      Penangkap ikan maupun gembala pertama-tama memikirkan kebutuhannya sendiri, bukan kebutuhan ikan maupun dombanya. Gembala bukan memikirkan dan menggembalai domba untuk kepentingan domba-nya, melainkan untuk hidupnya sendiri: untuk memperoleh susu, bulu / wol dan bahan makan. - Makna penangkap ikan/gembala domba dalam Injil ternyata justru sebaliknya. Penangkap ikan alkitabiah bertujuan melayani ikan-ikannya, dan gembala justru berkorban demi dombanya, bahkan mengorbankan hidupnya. Manusia “ditangkap”, “dijala”, bukan karena kesalahan atau kejahatannya, melainkan justru untuk diselamatkan!

      Ibaratnya, kita naik kapal, dan kapal itu di tengah laut diterjang ombak hebat, kapal hancur dan kita terapung-apung di tengah ombak, lalu datanglah orang-orang membawa tali atau papan untuk menyelamatkan kita. Maka mereka “menangkap” kita bukan untuk merendahkan diri kita, sebaliknya untuk menawarkan harapan untuk dapat hidup. Itulah makna istilah penangkap atau penjala manusia alkitabiah. Mereka menolong penyelamatan manusia di tengah ombak badai hidup, dan membantu siapapun yang mengalami bahaya maut.

      Perlu direnungankan lebih mendalam! Mengapa ada orang yang berperan sebagai penangkap ikan, tetapi yang lain sebagai ikan? Atau ada yang tampil sebagai gembala, ada pula sebagai domba? Latar belakang masalah ini disebabkan oleh adanya perbedaan pengertian tentang hubungan/relasi dan perasaan di antara penangkap ikan dan ikan, di antara gembala dan domba. Seakan-akan di antara mereka ada ketidaksamaan, ketidaksetaraan, superioritas, minoritas.

      Pada dasarnya tidak seorang pun ingin berada sekadar menjadi suatu nomor belaka dalam suatu kelompok. Tetapi kita harus berani membebaskan diri dari praduga atau anggapan tak sehat. Dalam Gereja, yakni murid-murid Yesus, tidak seorang pun adalah hanya seorang penangkap iman belaka atau seorang gembala. Kita ini sebenarnya,  secara aneka ragam dan bentuk yang berlainan, adalah sama. Seseorang bukan hanya seorang dokter, ia sekaligus adalah seorang bapak dalam keluarga, dan anggota suatu organisasi! Hanya Kristus sendirilah yang hanya penangkap ikan dan bukan ikan, hanya gembala dan bukan domba!

      Petrus sendiri, sebelum menjadi penangkap manusia harus “ditangkap” dulu oleh Yesus, dan itu berkali-kali. Misalnya ia harus “ditangkap” pada waktu akan tenggelam, ketika berjalan di atas air dan merasa takut. Petrus “ditangkap” juga ketika ia tidak mau mengakui Yesus sebagai Gurunya. Petrus ternyata harus mengalami sendiri apa artinya merasa sendiri sebagai “domba yang hilang”. Dengan demikian ia belajar apa artinya menjadi gembala yang baik. Petrus harus “ditangkap”, diselamatkan dari kedalaman kekecewaan atas ketidakberhasilan jerih payah semalam suntuk di laut. Yesus “menangkap” Petrus, menyelamatkannya dari ketidakberhasilannya dengan berkata: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Petrus belajar dari pengelamannya sendiri untuk menjadi penangkap manusia yang baik.

      Demikianlah segenap orang kristen yang sudah dibaptis adalah seperti Petrus, sebagai orang yang ditangkap/dijala bagaikan ikan, namun sekaligus menjadi penangkap ikan juga, masing-masing menurut keadaannya sendiri. Imam adalah penangkap ikan melalui pewartaan sabda Allah dan pemberian sakramen. Kaum awam pun adalah penangkap ikan bagi orang lain melalui hidup dan pekerjaan/karya mereka untuk “menangkap”, menyelamatkan orang lain dalam bahaya hidupnya.

      Dalam Injil ditulis, bahwa Petrus dan teman-temannya minta orang –orang lain untuk membantu mereka, sebab hasil penangkapan ikan mereka sangat besar! Gereja mengajak kaum awam untuk ikut membantu pelaksanaan tugas karya “penangkapan ikan” dan “penggembalaan” para imam. Sebab hasil penangkapan ikan kita besar!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/