Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA V/A/2014

Yes 58:7-10  1 Kor 2:1-5  Mat 5:13-16

PENGANTAR
    Dalam Injil Matius yang pendek hari ini, Yesus menyebut dua hal dalam diri setiap manusia yang sangat mendasar, yakni apa arti keberadaan dirinya untuk pribadinya sendiri, dan apa arti pribadi dirinya untuk orang lain. Secara simbolis Yesus mengumpamakan manusia sebagai garam dan terang. Maksud-Nya kita ini digambarkan bagaikan garam dan terang,  yang sangat penting tetapi berada dan hidup bukan sekadar bagi diri kita sendiri saja, melainkan juga bagi orang lain.

HOMILI
    Yesus berbicara dengan bahasa yang sesuai dengan keadaan negeri-Nya, yaitu Palestina. Di sana ada laut yang disebut Laut Mati, tetapi juga disebut Laut Garam. Sebab di situ berlimpah-limpahlah garam. Dan garam memang merupakan kebutuhan bahan baku untuk makanan, untuk kesehatan dan juga sebagai bahan pengawet. Dan disamping itu setiap orang juga tahu, bahwa bila tidak ada terang, dalam kegelapan orang tidak dapat melihat dan berbuat apa-apa.

    Yesus menyamakan pengikut-pengikutnya sebagai garam dan terang, yang begitu penting artinya untuk masyarakat, baik secara perorangan maupun dalam masyarakat. Ia bukan bermaksud supaya murid-murid-Nya menunjukkan kelebihan dirinya terhadap orang lain. Yesus mau menekankan bahwa siapapun, yang ingin menjadi murid-Nya yang sejati harus selalu memiliki dan menyadari jatidiri atau identitas dirinya seperti yang diajarkan dan dimiliki oleh Yesus sendiri. Maksud kata-kata Yesus: “Kamu adakah garam dunia” dan “Kamu adalah terang dunia”,  bagi murid-murid-Nya bukan berarti supaya mereka terutama harus langsung “menggarami” atau “menerangi” orang lain, karena mereka merasa dan yakin dirinya sebagai garam lebih “asin” atau sebagai terang lebih “bersinar” daripada orang-orang lain. Yang dimaksudkan Yesus terutama ialah, bahwa kita harus senantiasa berusaha memelihara, meningkatkan  identitas kita yang asli sebagai pengikut Kristus. Yakni hidup dan berbuat menurut ajaran dan teladan Yesus. Isi kata-kata Yesus ialah: ‘Janganlah kamu kehilangan identitasmu sendiri sebagai orang kristiani sejati. Bila kamu hidup sesuai dengan hidup-Ku, bagaikan garam dan terang, orang-orang lain akan mengenal dirimu, jatidirimu, yang sejati’.

    Kita dewasa ini berada dan hidup di dalam suatu masyarakat di dunia yang berubah begitu banyak dan cepat. Banyak yang baik, banyak pula yang tidak baik, sehingga ibaratnya di banyak tempat orang kristiani terbawa arus banjir unsur-unsur buruk dalam masyarakat, hingga mereka nyaris tidak bisa menyelamatkan diri. Ajaran dan keyakinan keagamaan kita ikut tersingkirkan oleh arus pandangan, sikap, gaya dan tindakan banyak orang yang merasa dirinya modern, padahal justru modernitas mereka itu banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) sejati, apalagi melawan hakikat ajaran kristiani yang otentik!

    Nah, menghadapi keadaan perubahan masyarakat yang tengah berlangsung serupa itulah orang kristiani harus tetap bersikap, hidup dan berbuat menurut ajaran dan teladan Kristus, yang tidak terpengaruh oleh apapun atau siapapun di zaman-Nya, baik oleh ahli-ahli Kitab, kamu Saduki, kaum Farisi, imam-imam kepala,  Mahkamah Agama maupun Pimpinan Pemerintah Romawi. Yesus Kristus yang kita ikuti itu dahulu, kemarin, hari ini maupun besok tetap satu dan sama. Inilah yang diminta Yesus dari murid-murid-Nya: jangan mereka kehilangan jatidiri atau identitasnya seperti murid-murid Yesus sejati. Garam harus tetap garam, dan terang tetap terang! Meskipun stuasi dan kondisi hidup orang kristiani dalam masyarakat yang lampau tidak sama dengan yang sekarang, namun garam dan terang ajaran dan teladan Yesus tidak boleh berbeda maupun berkurang.

    Yesus tidak berbicara dan bertindak dalam masyarakat dengan tampil sebagai tokoh luarbiasa dengan gaya mentereng sebagai ‘orang besar’, melainkan secara sederhana, Ia justru menyapa orang-orang kecil. Ia tampil sebagai orang yang berbelaskasihan. Tetapi dalam penampilan diri dan dengan kata-kata-Nya yang sederhana,Yesus dikenal siapakah Ia sebenarnya. Yesus dikenal identitas-Nya: Ia adalah Juruselamat yang berbelaskasih. Yesus menghendaki agar kita hidup dan berbuat sebagai garam dan terang, artinya: kita harus bersikap, hidup dan berbuat dengan identitas diri kita menurut teladan identitas Yesus.  
            

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/