Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA IX/A/2011

Ul 11:18.26-28.32 Rm 3:21-25a.28 Mat 7:21-27

PENGANTAR

Minggu-Minggu terakhir kita mendengarkan khotbah-khotbah Yesus di bukit, yang dikumpulkan di dalam Injil Matius Bab 5-7, dan disebut Khotbah di bukit. Khotbah Yesus itu dianggap sebagai Magna Carta, sebagai rangkuman isi pokok ajaran Kristus, yang dapat dipakai sebagai pegangan hidup kristiani sejati. Dalam bacaan pertama dalam Misa hari ini Musa dahulu mengingatkan orang-orang Yahudi agar melaksanakan perintah Allah, yang diberikan kepada mereka lewat dirinya di gunung Sinai. Dengan tegas dan keras Musa dan Yesus mengingatkan, bahwa akibat buruk akan dialami setiap orang, bila tidak sungguh melakukan kehendak Allah.

HOMILI

Bila khotbah Yesus di bukit itu kita baca dengan baik, ternyata Kristus sebagai Guru dengan otoritas ilahi memperkenalkan kepada kita suatu cara dan sifat hidup kristiani, yang sungguh baru dan berlainan dengan pengertian yang kita miliki dan diikuti! Sungguh suatu sikap hidup yang baru! Seperti Musa menunjukkan sikap dan cara hidup kepada Israel lewat 10 perintah Allah (dekalog), Yesus menunjukkan sikap dan cara hidup yang makin disempurnakan kepada kita, seperti yang disampaikan kepada kita lewat khotbah-Nya di bukit. Kita sebagai murid-murid-Nya diajak menjadi "sempurna, sama seperti BapaMu yang di surga adalah sempurna" (Mat 5:48). Karena itu kejujuran dan ketulusan hati kita harus dapat mengatasi yang dimiliki kaum ahli Kitab dan Farisi (Mat 5:20). Dengan demikian Yesus menegaskan, bahwa apa yang pokok dan penting bukanlah sekadar mengenal dan memiliki ajaran Yesus, melainkan melaksanakannya!

Ternyata kejujuran dan kesungguhan hati (seriusitas) setiap orang mutlak dituntut oleh Yesus, bila ia ingin menjadi murid-Nya sejati. Tuntutan Yesus itu diibaratkan sebagai "conditio sine qua non". Digambarkan sebagai syarat-syarat mutlak, yang harus dipenuhi setiap orang yang mau membangun rumah secara benar. Tidak mungkin membangun sebuah rumah yang kokoh dan tahan uji, apabila dibangun di atas pasir (Mat: 7:26-27).

Sambil mengambil perumpamaan tentang kehendak seseorang, yang mau membangun rumah, Yesus menunjukkan kemungkinan untuk memilih dua landasan/dasar yang berbeda: yang satu kokoh di atas batu/padas, yang lain mudah roboh di atas pasir. Apakah arti kedua landasan itu?

Landasan pertama yang lemah dan tak kokoh daya tahannya ialah: uang, kekayaan, sukses, popularitas, bahkan kesejahteraan. Si pembangun rumah itu hanya mau hidup atas landasan hal-hal itu saja. Bila hanya itu tujuan pembangunan rumhah hidupnya, berapa lama ia dapat menggunakan dan menikmatinya dengan aman? Sebab bila hujan dan banjir tiba, yaitu bila mengalami masalah, bencana, sakit berat, bahkan mati, apakah yang masih bisa diharapkan dari landasan bangunan hidupnya itu? Ia tidak memperhitungkan dan menyadari, bahwa bangunan hidupnya bukan hanya untuk sekarang! Kita harus membangun hidup kita untuk selamanya!

Landasan kedua: bagaikan batu atau padas, yang kokoh kuat daya tahannya, ialah Allah. Membangun bangunan atau rumah hidup atas Allah! Yesus mengingatkan kita akan Yesaya, yang berkata: "Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal" (Yes 26:4). Dan dalam Kitab Ulangan tertulis, bahwa Allah "adalah Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia (Ul 26:4).

Dengan demikian kita menarik kesimpulan, bahwa kita sebagai orang beriman harus membangun rumah hidup kita di atas landasan Gereja, bukan di luarnya. Artinya, sebagai orang beriman kristiani sejati, sebagai pengikut Kristus, kita harus sungguh mau hidup dan berbuat menurut ajaran dan perintah-Nya, seperti yang disampaikan oleh Gereja dan dihayati sebaik-baiknya sebagai warga Gereja sejati.

Menurut Yesus dalam Injil Matius hari ini, kesungguhan kita sebagai warga Gereja bukan berarti sekadar pergi ke gereja, mengikuti liturgi, dengan doa-doa dalam aneka bentuknya, dengan berseru "Tuhan, Tuhan!", akan tetapi juga sekaligus melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Bila tidak demikian, hidup kita berarti mencari kemuliaan dan kepentingan diri kita sendiri, yaitu hanya mencari dirinya sendiri saja selamat. Padahal Tuhan menghendaki supaya kita bukan hanya menyelamatkan diri kita sendiri saja, melainkan juga keselamatan sesama kita. Hidup dan perbuatan apapun, walau tampaknya luhur, bagus, mengagumkan, tetapi semua itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. Keselamatan sejati hanya mungkin dicapai apabila kita melakukan perintah Allah, yaitu mencintai Allah dan sesama. Hanya demikianlah kita sungguh mencintai dan meluhurkan Allah. Di luar itu tiada kemuliaan kepada Allah yang benar, tiada pula keselamatan bagi hidup kita! Dengan demikian rumah hidup kristiani kita dibangun di atas batu kokoh.

 

Jakarta, 4 Maret 2011

 

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/