Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA IV/CII/2016

Yer 1:4-5.17-19 1Kor 12:31-13:13 Luk 4:21-30

PENGANTAR
      Injil Lukas yang akan kita dengarkan hari ini ( minggu biasa IV) adalah lanjutan injil Lukas yang telah kita dengarkan hari minggu lalu ( minggu biasa III). Minggu lalu Lukas menceritakan penampilan dan pengenalan diri Yesus di hadapan penduduk Nazaret . Yesus mengakui diri-Nya sebagai tokoh Almasih yang digambarkan tugasnya oleh Yesaya. Hari ini diceritakan reaksi negatif penduduk nazaret terhadap Yesus. marilah kita mencoba menangkap apa yang ingin disampaikan Lukas tentang bagaimana sikap kita terhadap Yesus. Penduduk Yesus dizaman Yesus dahulu belum merupakan orang kristiani, sedangkan kita sekarang sudah dibaptis menjadi murid Yesus Kristus sebagai umat kristiani.

HOMILI
      Apa yang dilakukan Yesus sebagai Almasih, seperti “menolong orang miskin, menyembuhkan orang buta, membebaskan orang tawanan dan tertindas”,- semua perbuatan Yesus yang dilihat sebagai mukjizat itu tidak diselenggarakan-Nya di nazaret. Orang-orang di Nazaret heran mengapa tidak dilakukan juga di Nazaret tempat asal dan tinggal-Nya. Menghadapi keadaan itu Yesus berkata : “ sungguh tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnnya”. Kuasa dan kemampuan-Nya untuk mengadakan mukjizat tidak dilakukanNya di kalangan sesama penduduk Nazaret, tetapi di daerah sekitarnya. Sebagai contoh Ia menyebut Nabi Elia dan Nabi Elisa. Mereka melakukan yang sama, mereka itu bukan menolong orang-orang Israel bangsanya sendiri, tetapi justru orang-orang asing; seorang janda dari Sarfat-Sidon dan Naaman dari Siria, kedua duanya di luar daerah Israel? Mengapa?

      Seperti dialami oleh Nabi Elia dan Nabi Elisa, Yesus sebagai nabi mengalami seniri, bahwa apa yang ia katakan atau ajarkan tidak diterima oleh orang-orang Nazaret, sebab tidak dsertai bukti mukjizat sebagai tanda kehebatan dan kebesaran-Nya, yang telah diperlihatkan-Nya di Kaparnaum. Apalaghi Yesus adalah orang biasa, tidak lebih dari anak Yusuf, seorang tukang kayu, termasuk golongan kelas rendah dalam masyarakat. Bagaimna mungkin kata-kata orang semacam itu dapat diterima. Yesus ditolak!

      Dari segi lain,- dan inilah rupanya yang ingin disampaikan olkeh Lukas kepada para pembaca injilnya-, Yesus tidak dapat menyelenggarakan perbuatan dan karya-Nya yang agung apabila Ia mengahdapi orang-orang yang sikap dirinya tertutup, curiga serta tidak percaya kepada-Nya.

      Bila orang-orang siapapun berkumpul dan bersama-sama tidak mau menerima, memahami dan menolak pandangan atau tawaran pendapat orang lain, maka mereka ini hanya mau memegang pandangannya sendiri dan menolak tawaran kehendak  baik dan kasih orang lain. - bukankah keadaan dan sikap seperti itu juga pernah bahkan kerap kali kita alami sendiri ? bukankah situasi semacam ini sekarangpun merupakan situasi, suasana dan iklim masyarakat kita, di mana setiap pihak berpegang teguh pada pendiriannya sendiri, tertutup dan saling terbuka untuk menerima pandangan yang lain, bahkan disertai praduga dan kecurigaan?  bukankah situasi semacam itu pun tak jarang di dalam lingkungan keluarga-keluarga atau komunitas-komunitas kita?

      Orang-orang di Nazaret tidak mau meningglkan sikap posesif, atau sikap “hanya akulah yang benar” terhadap Yesus. Karena itu ketika Yesus menunjukkan apa yang dilakukan oleh Nabi Elia dan Nabi Elisa, “sangat marhlah semua orang yang di rumah ibadat itu“ dan mengusir Dia, bahkan mau membunuh-Nya. Yesus dikritik habis-habisan, justru karena Ia mau mengajak setiap orang membuka hati kepada orang-orang kecil. Kejujuran dan keterbukaan hati-Nya justru menghadapi perlawanan, yang membawa-NJya mati di salib!

      Injil hari ini menunjukkan kepada kita, bahwa memiliki suatu pandangan dan sikap hidup yang universal stau luas dan menyeluruh tidaklah mudah! Yesus ditolak karena Ia menunjukkan kejiwaan-Nya yang besar dan kemurahan hati-Nya, khususnya kepda orang orang pinggiran.

      Berhapan dengan Yesus yang berjiwa besar, murah hati dan berpandangan luas itu, kita mengkui bahwa kita sendiri yang berjiwa egoistis, iri hati, kering dan keras hati. Bagaimana kita dapat mengkui sungguh-sungguh kebaikan dan kesucian Yesus, kalau kita sendiri tidak mampu mengakui kelemahan diri kita sendiri. Seperti dialami dan dimiliki oleh oprang-orang Nazaret, kita sering kurang sadar bahwa kita memiliki kebutaan hati. Salah satu ciri kebutaan hati ialah sikap posesif, nafsu memiliki, memilliki secara mutlak hanya untuk diri sendiri

  • Kita semua juga dipanggil menjadi nabi seperti Elia, Elisa, terutama seperti Yesus sendiri. Ciri nabi yang sejati ialah tahu dan mau mengatasi batas batas pandangan dan kepentingan diri sendiri dan tidak merendahkan martabat orang sesama kita.


 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/