Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA IV/B/2015

Ul 18:15-20  1 Kor 7:32-35 Mrk 1:21-28


PENGANTAR
    
    Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus memberi nasehat tentang status orang yang kawin dan yang tidak kawin. Di antara kedua status itu memang ada perbedaan, namun juga ada kesamaan. Bagi kita sekarang pun apa yang dikemukakan dan dinasihatkan oleh Paulus kepada umat di Korintus itu sangat aktual dan relevan, baik untuk kaum berkeluarga maupun tidak berkeluarga.
         
HOMILI
        Patut diperhatikan, bahwa di kalangan masyarakat pada waktu itu ada pandangan, bahwa akhir dunia dan kedatangan Kristus kedua akan segera datang. Mengapa ada orang-orang yang tidak kawin, ada bermacam-macam alasannya. Dilihat dari segi agama, orang berpikir lebih baik tidak kawin. Sebab bila kawin, suami isteri harus saling memperhatikan kepentingan mereka, sehingga pelayanan tanpa pamrih kepada Allah akan terganggu. Perhatian mereka akan terbagi-bagi. Tetapi Paulus menegaskan, bahwa perkawinan orang yang sudah dibaptis berada dalam status, yang dikuduskan oleh Allah sebagai sakramen. Perkawinan adalah persekutuan kasih suami isteri seumur hidup sesuai dengan ajaran Tuhan. Jadi perkawinan adalah baik, luhur dan suci. Dapat bersama-sama mengabdi Allah juga.

        Paulus sendiri tidak kawin. Ia menegaskan adanya kebebasan penuh dalam hal status dan cara setiap orang kristiani dalam hubungan dan pelayanannya kepada Allah. Baik orang itu kawin ataupun tidak kawin. Menghadapi orang-orang yang yakin  kiamat sudah dekat, Paulus menganjurkan orang yang masih bujang untuk tidak kawin, atau dengan istilah gerejawi memilih status selibat. Ternyata nasihat Paulus diikuti banyak orang, baik dalam generasi-generasi berikutnya dahulu maupun sampai sekarang. Nasihat Paulus, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak kawin akan lebih cemas akan hal-hal untuk Tuhan, sedangkan yang kawin akan lebih cemas tentang hal-hal duniawi. Padahal orang yang kawin ataupun tidak kawin, tetapi mau hidup sebagai orang beriman, yang bukan hanya sekadar beragama tetapi sungguh menghayatinya, maka ia harus memperhatikan hal-hal Allah. Memang benar, orang yang kawin, perhatiannya lebih terbagi-bagi.

        Demikianlah sejak dahulu sudah ada orang-orang laki-laki atau perempuan, yang  dengan sadar tidak memanfaatkan hak-hak  insani atau manusiawinya yang diberikan Tuhan, misalnya hak menikah, hak memiliki harta, hak menentukan kehendaknya sendiri. Sebab mereka itu bertujuan hendak hidup dan mengabdi Allah secara lebih utuh. Mereka tidak menggunakan hak untuk kawin. Untuk itu dahulu ada orang yang hidup di padang gurun. Sekarang ada orang-orang misalnya kaum biarawan-biarawati, yang menempuh hidup selibater atau tidak menikah.
        Namun hidup selibater  yang misalnya ditempuh oleh kaum religius atau biarawan-biarawati, ataupun para imam, bukanlah satu-satunya jalan untuk dapat melayani Allah. Perkawinan pun adalah juga suatu bentuk kehidupan untuk melaksanakan kehendak Allah dengan baik. Perkawinan diadakan dan dikuduskan Allah! Memang hidup berkeluarga mengandung kebahagiaan besar, namun juga tantangan dan percobaan yang sering tidak kalah besarnya. Dan kaum selibater atau yang tidak kawin pun mengalami aneka kesulitannya sendiri! Baik orang yang kawin maupun tidak kawin harus selalu ingat akan baptisnya, yang telah diterimanya dengan segala konsekuensinya. Maka orang yang kawin maupun yang tidak kawin menurut  pilihannya sendiri, harus selalu mohon rahmat Tuhan untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi masing-masing.

        Tuhan memanggil kita, laki-laki maupun perempuan, untuk melaksanakan tugas panggilan atau status hidup tertentu masing-masing. Tuhan juga memberikan rahmat kekuatan untuk mengatasi kesulitan hidup sesuai dengan kemampuan masing-masing. Harus kita akui, bahwa manusia adalah makhluk yang memang dianugerahi kebebasan kehendak. Namun manusia sekaligus adalah makhluk yang mudah terpengaruh dan terperangkap oleh hal-hal duniawi atau materiil, yang lebih diutamakan sebagai jaminan kepastian hidup. Karena itu ada orang-orang, yang sadar akan bahaya tersebut. Maka mereka ini memilih suatu bentuk hidup tak kawin sebagai ungkapan dan tekad untuk sungguh-sungguh menomorsatukan pelayanan kepada Tuhan, sekaligus untuk makin mampu melayani sesama.

        Bentuk hidup yang dipilih secara bebas, yakni hidup perkawinan dan hidup tidak kawin, tidak saling bertentangan. Mereka yang kawin dan mereka yang tidak kawin hendaknya merasa satu sama lain sebagai rekan seperjalanan hidup, menuju tujuan yang sama, yakni menuju persatuan dengan Allah di surga. Jalan yang dipilih kedua-duanya baik, dan setiap orang masing-masing menurut pilihanya sendiri, yang dibenarkan oleh Tuhan. Paulus memberi nasihat, agar kita semua  dalam menghayati hidup berkeluarga atau tidak berkeluarga jangan sampai terlalu dirisaukan dan sangat terpengaruh oleh perkara-perkara duniawi, sehingga menghambat perhatian kita kepada perkara-perkara ilahi.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/