Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN IV/B/2014

2Sam 7:1-5.8b-12.14a.16  Rm 16:25-27  Luk 1:26-38

PENGANTAR
        Sudah berturut-turut  pada tiga Hari Minggu Adven (I, II, III) ketiga  penulis Injil, yaitu Markus, Matius dan Lukas memperkenalkan kepada kita tokoh Johanes Pembaptis, yang bertugas menyiapkan dan memperkenalkan kedatangan Yesus sebagai Almasih. Pada Hari Minggu Adven IV ini Lukas memperkenalkan kepada kita tokoh Bunda Maria. Kita diajak oleh Lukas untuk mengenal siapakah Maria itu sebenarnya. Tokoh perempuan inilah yang melahirkan Penyelamat kita!

HOMILIH
        Hari Raya Natal, yaitu perayaan kelahiran Yesus sebagai Juru Selamat kita, akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Yang kita rayakan adalah suatu peristiwa yang sungguh luarbiasa, yang tak mungkin bisa kita pahami menurut kemampuan daya pikir manusia apapun. Bagaimana mungkin akan dilahirkannya “Anak Allah Yang Mahatinggi” menjadi manusia!

        Tetapi bukan hanya kenyataan bahwa Allah menjadi manusia adalah suatu peristiwa yang luarbiasa,yang tiada duanya.  Masih ada kenyataan luarbiasa lain yang juga tiada duanya, yaitu kata-kata yang diucapkan oleh seorang perawan bernama Maria, seorang penduduk  sederhana di kampong Nasaret.  Ketika ia menerima tawaran dari Malaikat Gabriel untuk menjadi ibu Putera Allah, walaupun sadar akan kesederhanaan dan keterbatasannya, ia berkata: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Sikap dasar yang diungkapkan Maria dengan kata-kata itu sungguh luarbiasa dan tiada duanya! Mengapa?

        Dalam ibadat liturgis kita mempersiapkan diri untuk nanti merayakan Hari Raya Natal, sebagai peringatan akan kelahiran Yesus sebagai Almasih di Betlehem duapuluh satu abad yang lalu. Tetapi perayaan Natal tidak akan ada maknanya, apabila Natal hanya sekadar merupakan peringatan akan sesuatu kejadian, namun tidak ada pengaruh dan buahnya yang konkret bagi keselamatan kita yang merayakannya. Pesta Natal cenderung dirayakan sebagai pesta riang gembira. Tetapi kegembiraan Natal itu banyak kehilangan arti dan tujuannya yang sebenarnya, yaitu kelahiran Yesus sebagai Penyelamat dalam hati kita.

         Sesudah Hari-Hari Minggu yang lalu kita berusaha mengenal tokoh Johanes Pembaptis, sekarang ini kita mengenal Bunda Maria, Ibu Yesus Penyelamat kita. Sikap dasar pribadi Maria sebagai perempuan  perawan, yang sungguh percaya kepada Allah, diungkapkannya dalam kata “Fiat”, “terjadilah”, “terjadilah padaku menurut perkataanmu”. “Fiat” Maria sebagai kesediaannya yang total untuk melaksanakan kehendak Allah memang telah disiapkan oleh tanpa dosa. Sebab Allah menghendaki pulihnya kembali hubungan-Nya dengan manusia, yang telah dicaptakan-Nya menurut citra-Nya. Karena itu Putera-Nya yang menjadi manusia sebagai Penebus harus lahir dari seorang perempuan yang tak bercela, yaitu Maria. Allah menghendaki agar Putera-Nya menjadi saudara kita sebagai manusia. Dan dengan demikian dalam Yesus Kristus Putera-Nya kita menjadi anak angkat Allah, Allah menjadi Bapa kita, seperti kita ucapkan dalam doa Bapa Kami.

         Semuanya itu dapat menjadi suatu kenyataan berkat ucapan dan pelaksanaan “Fiat” Maria. Kata “Fiat” yang  berarti  “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” dilaksanakan Maria dengan setia tanpa henti sepanjang hidupnya. Kata dan perbuatan Maria adalah satu, tidak berbeda! Maria adalah manusia dengan kepribadian yang utuh!

Apa pesan Injil Lukas hari ini kepada kita?
        Maria bukanlah hanya Ibu/Bunda Yesus Penyelamat secara fisik belaka. Kebundaannya berlandasan pada imannya. Sebelum Maria menerima Yesus dalam kandungannya, ia telah menerima-Nya dalam iman; “Berbahagialah dia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1:45). Injil Lukas hari ini memberi pesan kepada kita, supaya kita makin tahu dan sadar apa sebenarnya arti percaya kepada Allah.

         Percaya bukanlah sekadar berarti mau menerima sesuatu sebagai kebenaran, meskipun masih secara samar-samar. Orang baru sungguh percaya, apabila ia apa yang diimani atau dipercayai menentukan dan membentuk segenap arah dan corak hidupnya. Dengan kepercayaan serupa itulah orang-orang hibrani merumuskannya dengan kata singkat “aman”, atau dalam bahasa kita “amin”. Dengan mengucapkan istilah alkitabiah “amin” yang percaya menyerahkan segenap hidupnya kepada kehendak Allah.

        Itulah juga yang dilakukan Maria ketika ia menerima berita dari Malaikat Gabriel dengan menjawab “Fiat”, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Maria melaksanakannya tanpa cela dalam segenap peristiwa dan pengalaman yang dihadapinya: mulai dengan peristiwa penerimaan berita di Nasaret, melahirkan anaknya di Betlehem, mengungsikan anaknya yang akan dibunuh, menyaksikan sendiri penolakan Yesus puteranya oleh masyarakat, dan bahkan akhirnya harus menderita dan dihukum mati di Golgota. Tetapi tidak terkecuali: Maria juga mengalami puteranya bangkit kembali dan diangkat ke surga.

        Beberapa hari lagi kita akan menyambut kelahiran Yesus Penyelamat kita. Kita memperingati peristiwa kelahiran  Almasih duapuluh satgu abad yang lalu. Marilah kita mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Yesus sebagai Almasih di dalam diri kita semua dan masing-masing, dengan sikap dasar Maria Bunda Yesus, tetapi juga Bunda kita, yaitu dengan ucapan dan penghayatannya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu”.

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/