Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN III/B/2014

Yes 61:1-2a.10-11 1 Tes 5:16-24  Yoh 1:6-8.19-28

PENGANTAR
        Ada dua orang yang namanya disebut Yohanes dalam Kitab Suci dalam Perjanjian Baru. Yang pertama Yohanes Penulis Injil yang kita dengarkan pewartaan Injilnya. Yang kedua ialah Yohanes Pembaptis yang ditampilkan sebagai seorang tokoh nabi, yang memberi kesaksian tentang Almasih, yaitu Yesus yang telah lama dinantikan kedatangan-Nya. Dalam perayaan Ekaristi ini mari kita mendengarkan pesan Yohanes  Penginjil tentang Yohanes Pembaptis sebagai tokoh saksi, yang menunjukkan Yesus sebagai Penyelamat kita yang sudah hadir, namun belum dikenal banyak orang.

HOMILI
       Yohanes Pembaptis tampil di dalam masyarakat bangsa Israel untuk mempersiapkan mereka menyambut kedatangan Almasih yang telah sekian lama dinantikan kedatangan-Nya. Tanpa mereka ketahui, Almasih itu sudah datang dan berada di tengah mereka. Yohanes dengan corak hidup, perbuatan dan katanya menganjak mereka bertobat, agar dapat menemukan Almasih itu. Artinya berusaha hidup sesuai dengan perintah Allah seperti disampaikan oleh para nabi besar seperti  Musa, Elias. Untuk menyiapkan kedatangan-Nya kepada mereka itu Yohanes Pembaptis mengajak semua orang untuk mengubah corak dan arah hidup mereka secara total. Bukan sebagai pertobatan untuk sementara atau hanya menurut perhitungan. Dibutuhkan suatu perubahan atau transformasi hidup yang mutlak. Dengan bahasa alkitabiah: jalan hidup yang berliku-liku harus diluruskan, yang berbukit-bukit diratakan.

       Untuk melaksanakan tugas panggilannya, yaitu menyiapkan kedatangan dan perjumpamaan dengan Almasih, Johannes secara pribadi melaksanakan sendiri dahulu corak hidup yang benar, artinya sesuai dengan perintah Allah. Sambil menghayatinya sendiri  corak hidup benar itulah yang disampaikan kepada orang lain. Ia hidup sangat sederhana, dan berkat kesederhanaannya itulah Ia dapat dipercaya orang lain. Orang yang sederhana adalah orang yang memperkenalkan diri seperti adanya, bukan yang dibuat-buat dengan usaha dan cara apapun lainnya, agar dapat dinilai dan dihargai lebih baik daripada dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam kesederhanaannya itulah Yohanes Pembaptis ternyata tampil sebagai orang yang berwibawa. Bahkan mungkin ada orang-orang yang   menganggap dia sebagai Almasih.

       Itulah sebabnya mengapa beberapa imam dan orang Lewi bertanya kepada Johanes Pembaptis: “Siapakah engkau sebenarnya?”. Tetapi jawabannya tegas dan jujur: “Aku bukan Mesias!”. Bukan Nabi Elia juga! Malahan ditambahkannya: “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Akhirnya ia menegaskan: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun. Luruskanlah jalan Tuhan”. Inilah Johannes Pembaptis yang memperkenalkan diri kepada orang lain secara otentik!
          Apa pesan Injil hari ini tentang Yohanes Pembaptis?

       Secara tradisional atau secara klasik liturgis-gerejawi pada awal Misa Adven III dinyayikan Antifon Pembuka “ Gaudete”, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat”. Maka pesan Injil hari ini kepada kita ialah, bahwa kita dalam masa Adven bukan diajak berdukacita, melainkan bersukacita. Namun, justru agar dapat bersukacita dengan benar dan utuh,  kita harus bersedia mendengarkan dan melaksanakan apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis di padan gurun. Kita harus mau dan berani bertobat. Berani memperlihatkan diri kita secara jujur dan benar di hadapan Tuhan dan terhadap sesama, yang tidak boleh berlainan. Bila hubungan kita dengan sesama palsu, maka hubungn kita dengan Allah pun palsu! Marilah kita, terutama di dalam lingkungan keluarga atau komunitas apapun bentuknya, berusaha meluruskan hubungan antar sesama yang berliku-liku, dan yang belum rata kita ratakan. Itulah persiapan atau pertobatan yang diserukan Yohanes  Pembaptis kepada orang-orang sezamannya, tetapi juga kepada kita sekarang ini.

       Pesan kedua yang harus kita laksanakan juga ialah, bahwa  kita pun sebagai orang kristiani yang sudah dibaptis, harus tampil sebagai Yohanes Pembaptis terhadap sesama kita. Kita sebagai Gereja harus menunjukkan kepada setiap orang melalui sikap dan penghayatan hidup kristiani yang otentik. Itulah seruan kita, bukan hanya lewat kata, melainkan terutama lewat kehidupan, bahwa Kristus adalah Almasih kita.  Maka bila kita yakin akan ajaran iman kita ini, maka kita sendiri harus bersikap, hidup dan berbuat dengan jiwa dan semangat Yohanes Pembaptis: yaitu jujur di hadapan Tuhan dan sesama. Hidup serupa itulah yang dapat merupakan seruan Yohanes Pembaptis untuk sesama kita di zaman kita sekarang ini. Apakah hidup kita masing-masing sebagai orang kristiani sejati sudah merupakan tanda yang menunjuk kepada Yesus Kristus sebagai Almasih kita?

       Kita perlu tahu dan sadar, bahwa kita sendiri dapat bertemu dengan Yesus Kristus sebagai Almasih di dalam diri sesama kita, yang juga membutuhkan pertolongan kita untuk dapat bertemu dengan Kristus. Jangan sampai kita sebagai orang kristiani ternyata belum bisa menemukan dan bertemu dengan Kristus sebagai Almasih di dalam diri sesama kita, yang harus kita jumpai dan tolong.     

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/