Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN III/B/2011

Yes 61:1-2a.10-11  1Tes 5:16-24  Yoh 1:6-8.19-28

PENGANTAR
          Antifon Pembukaan berbunyi: Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat. Seperti Matius pada Hari Minggu Adven II yang lalu, demikian Yohanes Penulis Injil pun memperkenalkan tokoh Yohanes Pemandi kepada kita. Perutusan Yohanes Pemandi ialah mempersiapkan kedatangan Almasih. Ketika Yesus datang, maka Yohanes menyerahkan murid-muridnya kepada Yesus, sambil menunjukkan bahwa Dia itulah Almasih, Terang yang benar, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Yohanes sendiri menegaskan, bahwa ia bukanlah Terang itu! Ia datang memberi kesaksian tentang Terang itu. Ia justru mengarahkan sinar terangnya kepada Yesus, Almasih.

HOMILI
          Yohanes menganggap dirinya pun lebih rendah daripada hamba. “Di tengah-tengah kamu berdiri Diayang tidak kamu kenal, yaitu Dia yang datang kemudian daripada aku. Membuka tali kasut-Nya pun  aku tidak pantas” (Yoh 1:26-27). Menurut Injil Matius (4:12), Markus (1:14) dan Lukas 3:19) Yohanes Pemandi dipenjara oleh Raja Herodes Antipas, sebab ia menegor Raja itu mengambil Herodias, istri saudaranya dan karena kejahatan-kejahatan lain. Bahkan kemudian ia dibunuh! Nah, dalam penjara, ketika Yohanes itu sendirian dan mendekati waktu ia akan dibunuh atas perintah Herodes, orang dari padang gurun yang disebut sebagai “nabi terbesar” itu menyuruh beberapa orang bertanya kepada Yesus: “Apakah Engkau yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Luk 7:19). Tidak mustahil Yohanes Pembaptis itu menggambarkan Alamasih sebagai seorang pembaharu sosial masyarakat yang menyolok untuk menolong kaum miskin, kaum lumpuh, tersingkir atau pendosa. Namun nyatanya Kristus/Almasih datang dengan cara yang lain sekali dan bukan seperti diharapkan!

          Yesus menjawab pertanyaan utusan Yohanes Pemandi itu dengan menunjukkan keadaan di sekeliling mereka, untuk melihat apa yang telah dilakukan-Nya di tengah masyarakat.Yang buta melihat lagi, yang lumpuh dapat berjalan, yang sakit sembuh, dan yang tuli mendengar lagi. Kabar Gembira atau Injil ternyata sudah diwartakan kepada kaum kecil dan miskin! Itulah makjizat terbesar mengatasi segala-galanya! Itulah hiburan terbesar bagi kita, umat manusia di depan Tuhan!  - Bukankah kita pun  sering  bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah hidupku sebagai pengikut Kristus patut atau layak disebut sungguh kristiani?” “Apakah Yesus bagiku sungguh merupakan jawaban terhadap aneka kejahatan dan kegelapan  di  dunia  masyarakat  yang kita alami sendiri di dalam hidup kita ini?”.

Banyak  orang  datang kepada Yohanes Pembaptis dan bertanya: “Apa yang harus kami lakukan?” Ternyata Yohanes tidak memberi nasihat supaya mereka meninggalkan dunia mereka, meskipun dunia itu bisa dilihat dan diartikan secara macam-macam! Lukas menulis jawaban Yesus sebagai berikut: “Barangsiapa mempunyai dua hilai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian”(Luk 3:10-11). Jadi apa yang diwartakan Yohanes untuk mempersiapkan kedatangan Yesus sebagai Almasih ialah  menjadi orang yang murah hati, dermawan, adil, lurus hati, jujur, tahu terima kasih dan berbelaskasih.

          Hidup dan  perutusan  figur atau tokoh Yohanes Pemandi ini kiranya merupakan teladan bagi kita, kalau kita mau mempersiapkan diri namun juga sesama  untuk  menyambut kedatangan Penebus kita. Kita harus selalu mau dan berani menerangi wajah Kristus di depan masyarakat. Yohanes Pemandi harus memberi keberanian  dan kekuatan kepada kita untuk membawa terang bagi orang lain.  Kalau perlu, - yakni demi kasih, kepentingan dan kebaikan orang lain - , dengan mengingatkan kesalahan sesama kita atas dasar kasih. Dan juga kita harus bersedia tabah dan sabar untuk berusaha dan menunggu, namun juga tetap bergembira, seperti ditegaskan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika:  “Saudara-saudara, bersukacitalah senantiasa! Tetaplah berdoa dan mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu di dalam Kristus Yesus” (1 Tes 5:16-18).

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/