Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU ADVEN II/A/2016

Yes 2:1-5 Rom 13:11-14a Mat 24:37-44

PENGANTAR
     Dalam rangka Minggu Adven II ini, untuk mempersiapkan diri kita menyambut kedatangan Almasih, Injil Matius (3:1-12) memperkenalkan Yohanes Pembaptis kepada kita. Tokoh ini disebut Yohanes Pemandi atau Pembaptis, karena ia mewartakan pertobatan, serentak disertai dengan pembaptisan pertobatan untuk pengampunan dosa.

HOMILI
    Pesta Natal memang merupakan pesta penuh harapan dan kegembiraan atas kedatangan Yesus sebagai Almasih, yang datang untuk menyelamatkan kita, yakni pada hakikatnya adalah untuk mengampuni dosa-dosa kita. Agar tujuan kedatangan Penyelamat kita tersebut dapat terlaksana, Yohanes Pembaptis tampil di daerah sungai Yordan, untuk secara sangat sederhana berseru kepada warga masyarakatnya supaya bertobat. Pada hakikatnya bertobat berarti kesediaan, untuk sungguh-sungguh mengadakan perubahan total hati kita sebagai manusia, yang bertentangan dengan kehendak Allah, dan dipulihkan kembali sebagai kesediaan untuk taat senantiasa kepada-Nya. Bukankah kita ini diciptakan Allah sebagai manusia, dan martabat kita sangat dihargai-Nya menurut citra-Nya sendiri?

    Seperti air diciptakan Allah sebagai sarana pembersih kotoran atau noda, demikianlah Yohanes menggunakan air sungai Yordan sebagai sarana simbolis untuk membersihkan atau menghapuskan aneka pelanggaran manusia terhadap kehendak Allah. Pembaptisan yang dilakukan oleh. Yohanes Pemandi tersebut hanya merupakan pembaptisan pertobatan, belum merupakan pembaptisan penyelamatan, yang hanya diselenggarakan berkat karya penyelamatan Yesus Kristus, atas nama Bapa, Putera dan Roh kudus.

    Patut kita perhatikan, bahwa Yohanes Pembaptis menampilkan kaum Farisi dan Saduki. Sebagai pendahulu Yesus, Yohanes sebagai orang yang murni hatinya, mau mengubah atau mengadakan reformasi atau perubahan mental kaum Farisi dan Saduki tersebut. Kaum Farisi mementingkan hukum secara harfiah, bukan menurut maksud atau tujuannya, hanya kemunafikan, sedangkan kaum Saduki adalah golongan imamat aristokrat Yahudi. Dari Kitab Suci Yahudi, kaum Saduki hanya mengakui Pentateuch atau kelima buku pertama dalam Perjanjian Lama, yaitu Buku Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Sebab itu mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Kedua golongan itu, Farisi dan Saduki, adalah musuh Yesus. Maka ucapan-ucapan Yohanes Pembaptis yang tajam ditujukan kepada mereka itu. Kemarahan dan hukuman Allah akan menimpa mereka, karena mereka adalah pendosa yang tidak mau bertobat.

    Apa pesan Injil menurut Matius tentang tokoh Yohanes Pembaptis kepada kita sekarang ini? Di dunia kita ini di bidang keagamaan ada aliran ateisme, ada fundamentalisme, radikalisme, fanatisme, tetapi ada juga toleransi dan saling penghargaan antar keagamaan. Pada dasarnya di tanah air kita ini setiap agama dan keyakinan/kepercayaan yang resmi diakui Pemerintah adalah baik. Setiap penganutnya memegangnya menurut hati nuraninya yang benar.

    Di kalangan kita sendiri sebagai umat kristiani, kita mendapat gambaran Yohanes Pembaptis tentang kaum Farisi dan Saduki. Apakah kita termasuk dalam golongan mereka itu? Kiranya kita nanti pada akhir hidup kita di dunia ini, kita akan dinilai menurut ukuran, sejauh manakah kita sungguh mendengarkan dan melaksanakan sabda Kristus dan sungguh-sungguh mengikuti hidup-Nya. Yesus telah memanggil kita untuk mengikuti jejak-Nya, agar supaya kita dalam hidup sekarang ini bersikap, berkata dan berbuat terhadap Allah dan sesama sesuai dengan sikap, kata dan perbuatan-Nya. Hidup kita harus merupakan pemberian atau sumbangan cintakasih kepada sesama. Salah satu buah kasih sejati adalah penyingkaran dosa dan kesediaan memiliki rasa tobat. Itulah yang juga disampaikan Yohanes Pembaptis kepada kaum Farisi dan Saduki, yang datang minta dibaptis!

    Pernyataan diri orang Yahudi sebagai "anak Abraham", ternyata bukan merupakan kepastian bahwa mereka akan diselamatkan oleh Allah. Bahkan Yohanes Pembaptis menegaskan: "Dari batu-batu ini pun Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham!" Keturunan bukan merupakan jaminan keselamatan. Bagi umat kristiani baptis pun bukan jaminan atau kriteria mutlak untuk diselamatkan! Hanya pernyataan diri resmi sebagai orang katolik, bagi Allah bukanlah jaminan atas kesungguhan atau otentisitas dasar hidup kita sebagai pengikut Yesus Kristus, Putera-Nya!

    Perutusan atau misi Yohanes Pembaptis dilaksanakan dengan rendah hati terhadap Yesus. Karena itu ia berkata: "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia (Yesus) yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku, aku tidak layak melepaskan kasut-Nya". Yohanes memberikan pengalamannya sebagai orang yang rendah hati, yang bersedia memberikan pengampunan kepada sesama. Ia mengakui, dirinya bukanlah Penyelamat! Pengampunan dari Allah hanya mungkin apabila kita sendiri mau dan bersedia rendah hati dan mau memaafkan dengan sungguh-sungguh sesama kita! Hanya dengan demikian, kita akan selamat!

    Orang-orang Yahudi bertanya kepada Yohanes Pemandi: "Jika demikian, apakah yang harus kami buat?" (Lih. Luk 3:10-14). Yohanes langsung menjawab dengan jelas:
- "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaknya ia membaginya dengan yang tidak punya".
- "Barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian".
- "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu".
- "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu".

    Jadi pesan yang disampaikan Yohanes Pembaptis kepada kita semua, apabila sungguh ingin menyambut dan menerima Yesus sebagai Penyelamat ialah: Jadilah tulus, jujur, bermurah hati, dermawan, tahu berterima kasih dan jadilah sesama sejati satu sama lain: tahu ikut merasakan kesukaran sesama!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/