Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA TUHAN YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM /B/2015

  Dan 7:13-14  Why 1:5-8  Yoh  18:33b-37


PENGANTAR

          Tahun liturgi yang telah kita ikuti sampai hari ini ditutup dengan Hari Raya Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Injil Yohanes (Yoh 18:33b-37), yang nanti akan kita dengarkan menggambarkan suatu situasi, di mana tampak adanya dan perbedaan dan pertentangan antara adanya suatu kekuatan yang sangat tampak, dan kekuatan  lain yang tidak mudah dikenal orang. Kepada Yesus yang tampil sebagai tawanan Pilatus bertanya: “Apakah Engkau adalah raja”. Dan Yesus menjawab: “Seperti kaukatakan, Aku adalah raja”. Tetapi Yesus juga berkata: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”. Marilah dalam perayaan Ekaristi ini kita merenungkan pesan Injil Johannes  tentang bagaimanakah sebenarnya keadaan kerajaan yang didirikan Yesus itu.

HOMILI
          Dalam Injil Yohanes yang sangat pendek itu Pilatus tampak sangat lihai. Ketika Yesus menjawab bahwa Ia adalah raja, Pilatus bertanya lagi: “Jadi Engkau adalah raja?”. Yesus jelas menegaskan: “Kerajaan-Ku bukan dari sini!” Yesus memberi keterangan, bahwa kerajaan-Nya tidak menggunakan  kekerasan, dan bukan dipaksakan. Yesus mengulangi lagi: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini”.

          Bila demikian, maka kerajaan-Nya didirikan untuk apa? Kerajaan-Nya didirikan untuk mengadakan dunia dengan menciptakan perdamaian, persahabatan, kebenaran dan keadilan, serta kesediaan untuk saling menghormati dan mengakui hak-hak masing-masing, yang pada dasarnya adalah mengasihi Allah dan sesamanya. Itulah kerajaan yang harus dibangun untuk mengganti keadaan dan suasana perjalanan sejarah kehidupan manusia dalam masyarakat. Itulah sebenarnya kerajaan yang setiap hari kita senantiasa mohon dalam doa Bapa Kami: “Datanglah kerajaan-Mu”.

          Dalam gambaran tentang seorang raja, yang kita lihat dalam Injil Yohanes hari ini, Pilatus sebagai seorang pembesar dunia ini bingung dan tercengang menghadapi Yesus yang menyampaikan kepadanya apa yang benar tentang peranan-Nya sebagai raja. Yesus mengatakan apa yang benar, dan di tempat lain Yohannes mengatakan bahwa Yesus adalah kebenaran. Apakah apa yang terjadi di dalam hati Pilatus dalam pandangannya tentang pribadi Yesus sebagai raja juga ada dalam hati kita? Apakah hati kita pun sungguh terbuka berhadapan dengan kebenaran-kebenaran yang disampaikan kepada kita? Apakah hati kita juga seperti Pilatus merasa takut untuk berhadapan dan bertemu dengan Yesus, yang selalu mengatakan apa yang benar kepada kita? Beranikah kita sungguh mendengarkan dan melaksanakan kebenaran-kebenaran, yaitu ajaran Yesus yang disampaikan kepada kita. Ajaran Yesus kerapkali berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan pandangan atau pendapat kita sendiri? Kita seringkali takut jangan sampai nama atau kedudukan kita di depan umum akan jatuh, apabila kita mengatakan dan melaksanakan apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus. Pengertian kita tentang Yesus sebagai raja sering sama dengan pengertian Pilatus, yang mengikuti pengertian tentang kerajaan atau kekaisaran Romawi, yang bertentangan dengan ajaran Yesus.

          Injil Yohanes hari ini berpusat pada kerajaan Kristus, yaitu Kerajaan Allah. Dan di dalam kerajaan Allah yang didirikan Yesus Kristus itu tidak ada jarak atau perpisahan di antara apa yang bersifat batiniah atau rohani dan yang duniawi atau jasmani. Yang berbeda dan total terpisah ialah di antara main kuasa atau dominasi dan pelayanan atau pengabdian. Karena itu kerajaan Yesus total lain dari kerajaan atau kekaisaran yang dikenal Pilatus, yaitu kerajaan Romawi yang bercorak sewenang-wenang, dominasi, penguasaan, kekerasan. Sebaliknya kerajaan Yesus dibangun di atas kebenaran, kasih, keadilan dan perdamaian.
          Yesus memang menyebut dan mewartakan kerajaan Allah sebagai suatu kenyataan yang baru menjadi terwujud sepenuhnya di masa depan. Namun kenyataan adanya kerajaan itu secara simbolis atau secara misterius-sakramental sudah ada lewat kata-kata dan perbuatan, yang telah dimulai oleh Yesus sendiri. Kerajaan Allah yang didirikan Kristus sudah ada, namun dalam perjalanan ke arah perwujudannya yang utuh kelak.

          Dalam kerajaan yang didirikan Yesus tidak dapat diharapkan adanya tingkat kedudukan atau jabatan, maupun hak-hak khusus, apa lagi keinginan atau ambisi untuk menjadi pembesar atau pemegang kuasa. Dalam kenyataannya, Yesus sebagai raja adil tidak menghukum mati, tetapi malahan dihukum mati. Ibaratnya Ia memutarbalikkan cara dan sifat pemerintahan duniawi yang kini berlaku di dunia. Sedangkan di dalam kerajaan yang didirikan Kristus berlakulah pelaksanaan pelayanan dan pengabdian yang utuh, bahkan disertai dengan pengorbanan hidup-Nya sendiri.

          Dalam Injil Yohanes diberitakan bahwa Yesus mati sebagai raja. Takhta-Nya adalah salib sebagai ungkapan otentik pelayanan-Nya sebagai raja. Berkat Kristus itulah penderitaan bukan lagi merupakan jalan menuju kematian, melainkan sebagai jalan menuju kemuliaan abadi.

          Yesus secara resmi mengaku diri-Nya di hadapan Pilatus sebagai raja, namun bukan untuk menguasai suatu negara dan penduduknya, melainkan untuk membebaskan manusia dari kuasa dan perbudakan setan, agar dapat dihantar-Nya lagi kepada Allah Pencipta-Nya.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/