Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS/B/2015

Kel 24:3-8   Ibr 9:11-15   Mrk 14:12-16.22-26

 

PENGANTAR
     Setiap tahun seperti hari ini kita secara khusus  merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tetapi apa yang kita rayakan ini kita rayakan juga dalam Misa Kudus yang dipersembahkan kepada Tuhan setiap hari. Hari ini marilah kita  berusaha memahami lebih mendalam makna Tubuh dan Darah Kristus, yang adalah Ekaristi. Kali ingin memperdalam makna Ekaristi, yaitu Tubuh dan Darah Kristus dengan merenungkan kata-kata Yesus yang diucapkan oleh imam pada saat mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang nanti akan kita terima dalam penerimaan komuni.

HOMILI
     Ibadat atau Liturgi adalah suatu ungkapan hubungan kita dengan Allah, tetapi sekaligus juga dengan sesama kita! Makna liturgi ini secara khusus berlaku untuk Ekaristi. Karena itu Perayaan Ekaristi harus selalu diselenggarakan dalam konteks situasi dan kondisi sosial secara konkret di mana kita berada. Ekaristi bukanlah suatu urusan pribadi saja atau hanya untuk keperluan sendiri belaka.

     Nabi Amos misalnya (5:21-25) dan Yesaya (1:11-17) secara tegas mengecam setiap bentuk ibadat, yang tidak ada hubungannya dengan keadaan sesama kita. Dalam kata-kata konsekrasi yang diucapkan imam dalam Misa Kudus Yesus juga berkata: “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku”. Apa sebenarnya yang harus kita lakukan seperti dikehendaki Yesus itu? Apakah sekadar kenangan, memori, sebagai peringatan masa lalu saja?

     Dalam melaksanakan perayaan Ekaristi imam harus mengulangi dan mengucapkan apa yang dahulu diucapkan Yesus pada waktu menyelenggarakan perjamuan malam terakhir. Bukan hanya itu! Yesus minta supaya kita, imam dan segenap umat, yang menganggap dirinya murid Yesus, juga harus melakukan apa yang dilakukan-Nya sendiri, yaitu melakukan perbuatan kasih. Dan perbuatan kasih yang dilakukan Yesus berupa pemberian diri-Nya sendiri seutuhnya.

     Memang dalam perjamuan malam, pemberian diri Yesus itu masih bersifat simbolis dan profetis (kenabian) bagaikan lambang, yaitu dalam bentuk roti dan anggur. Tetapi dalam kenyataannya roti dan anggur itu adalah Tubuh dan Darah-Nya sendiri, yang merupakan  kenyataan pada hari berikutnya, yaitu tatkala Yesus mati tergantung sambil mengeluarkan darah di kayu salib di Kalvari. Itulah makna sakramen Ekaristi: walaupun dalam bentuk roti dan anggur, namun itulah diri Yesus seutuhnya! Inilah perbuatan kasih Yesus, yang harus kita lakukan untuk mengenangkan Dia! Mengenangkan Yesus bukan hanya mengingatkan saja, tetapi berarti bertindak dan berbuat seperti Yesus!

     Dengan demikian merayakan Ekaristi sebenarnya berarti menunjukkan kesediaan kita untuk berbuat kasih kepada orang lain. Itu berarti, bahwa kita harus “menjadi Ekaristi” bagi sesama. Kita harus sanggup menjadi roti yang dipecah-pecahkan, dibagi-bagikan dan diberikan kepada orang lain. Dengan demikian kita akan sungguh bersikap berentangan dengan Ekaristi, apabila kita merayakan dan menerima Ekaristi hanya dengan memikirkan kepentingan kita sendiri.

     Ada hal lain, yang harus kita renungkan, yakni mengenai piala darah Kristus. Kita ingat akan Yakobus dan Yohanes, yang sebagai orang-orang muda mohon kepada Yesus melalui ibu mereka, supaya diberi tempat sebagai orang penting di sisi kanan dan kiri Yesus. Yesus tidak marah, Ia hanya bertanya: “Apakah kamu dapat meminum piala (cawan), yang harus Kuminum”? – Piala itu sebenarnya adalah simbol hidup yang harus dikosongkan dari kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang-orang lain. Khusus-nya kepentingan orang-orang kecil, miskin dan berkekurangan apapun bentuknya. Piala yang harus diambil dan diminum isinya itu tak lain tak bukan adalah hidup, yang harus diserahkan kepada orang lain, seperti dilakukan oleh Yesus  untuk orang lain.

     Yesus tidak menghendaki Ekaristi diselenggarakan sekadar sebagai peraturan ibadat  sebagai upacara rutin, misalnya ke gereja sebagai pelaksanaan perintah Gereja.  Dan upacara Perayaan Ekaristi betapapun meriahnya, di tengah gereja yang dihias dengan sangat indah, disertai nyanyian koor kelas satu, - semua itu bukan kenangan akan Kristus yang sebenarnya. Kita masing-masing harus menyiapkan upacara Ekaristi sebagus, seindah dan sebaik mungkin, yaitu dengan menghayati  jiwa yang rela dan bersedia berbagi diri dengan orang lain, seperti Yesus sendiri. Apa yang dilakukan Yesus? Rela memberikan dan mengosongkan diri bagi orang lain. Perayaan Ekaristi tidak bermakna apapun, apabila dilepaskan dari hubungannya dengan keadaan masyarakat di mana kita berada. Kita tidak berada hanya untuk kita sendiri. Kita harus berada untuk sesama kita juga. Bila tidak demikian, Gereja akan menjadi Gereja tertutup, Gereja asing, Gereja yang justru bertentangan dengan Ekaristi. Padahal Konsili Vatikan II menegaskan bahwa “Ekaristi adalah sumber dan puncak setiap hidup kristiani”. Dan Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa “Gereja hidup dari Ekaristi”. Dan Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa “Ekaristi adalah sakramen cinta kasih”.  

     Kita dipanggil oleh Yesus untuk “menjadi Ekaristi” bagi sesama kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/