Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN/CII/2016

Yes 60:1-6  Ef 3:2-3a.5-6  Mat 2:1-12

PENGANTAR
      Pada hari ini Injil Matius  berceritera tentang orang-orang majus, yaitu orang-orang bijak yang datang dari jauh untuk menyampaikan penghormatan kepada Raja, yang baru dilahirkan  di Betlehem, yang  bukan raja di negara mereka sendiri. Mereka itu datang  dari Timur, yaitu daerah yang dahulu disebut Babilonia dan Persia Utara,  dan sekarang adalah Irak dan Iran Utara. Tetapi Injil Lukas berceritera tentang kedatangan gembala-gembala ke Betlehem dengan tujuan yang sama. Kedua Injil itu mau berceritera tentang penampakan diri Allah (epiphania Dei). Masing-masing menggunakan bahasa pewartaan atau melaksanakan komunikasi iman secara berbeda, namun sebenarnya mempunyai tujuan yang sama.

Homili
      Injil atau Kabar Gembira yang ingin disampaikan oleh Matius maupun Lukas adalah kelahiran Yesus sebagai Juru Selamat, yang sudah ama dinantikan. Injil Matius ditujukan kepada orang-orang Yahudi, sedangkan Injil Lukas ditujukan kepada segala bangsa, bukan hanya kepada orang-orang Yahudi.

      Kelahiran Yesus merupakan suatu penampakan diri Allah sendiri. Allah menggunakan manusia sendiri sebagai perantaraan-Nya, yaitu orang-orang majus (Mat) dan juga melalui gembala-gembala (Luk). Allah menggunakan bahasa komunikasi sesuai dengan cara berpikir dan berbicara masing-masing. Dengan bahasa modern dapat dikatakan, bahwa Allah berkomunikasi dengan manusia secara kontemporer, sesuai dengan zamannya, secara adaptatif agar dapat dipahami. Dan kepada gembala-gembala Tuhan  berbicara lewat malaikat-malaikat dan balatentara surgawi. Tetapi kepada orang-orang majus, yang mahir dalam bahasa ilmu perbintangan sekaligus adalah ulama, Tuhan berbicara lewat isyarat bintang.

      Meskipun orang-orang yang menerima kabar gembira berbeda-beda, namun apa yang diwartakan oleh Matius dan Lukas adalah sama, yaitu bahwa Allah datang kepada orang-orang yang mencari Dia! Ketika mendengar berita tentang kelahiran  Yesus itu, masyarakat Yerusalem dan Herodes keheranan dan sangat terkejut. Mereka tidak menginsyafi peristiwa yang sebenarnya terjadi. Hanya gembala-gembala dan orang-orang majuslah yang dapat mengenal Allah, yang memang berreaksi akan peristiwa itu.

Apa pesan Injil Matius dan Lukas kepada kita?
      Orang-orang majus termasuk golongan “orang-orang besar”, “orang-orang gede”, golongan tokoh-tokoh terhormat! Sedangkan gembala-gembala adalah orang-orang yang paling biasa, “orang-orang kecil”, orang-orang pinggiran, yang tidak mempunyai kedudukan. Ternyata Tuhan sama sekali tidak membedakan keadaan luar yang serba tampak dari setiap orang. Ia lebih menampakkan diri kepada  hati setiap orang yang murni tanpa perbedaan hatinya. Ternyata keadaan batin, rohani, suara hati setiap orang, - itulah yang mampu mengenal Allah, bila Ia menampakkan diri-Nya.

      Kita semua diajak memeriksa diri kita masing-masing. Siapakah aku ini sebenarnya? Apakah aku ini, sadar atau tidak sadar, menampilkan diriku kepada Tuhan  dan sesamaku sebagai “orang gede”, “orang elite”? Ataukah sebaliknya aku menghadap Tuhan sebagai “orang kecil”, sebagai “orang biasa” seperti keadaanku yang nyata? Apakah aku harus tampil sebagai orang penting dalam menghadap Allah, yang menampakkan diri kepadaku? Sanggupkah aku menjadi dan dianggap sebagai Betlehem, tempat begitu sederhana dan kurang dikenal, tetapi dipilih sebagai tempat kelahiran Yesus Raja Agung, Juru Selamatku? Beranikah aku menjadi Betlehem baru, di mana Yesus dapat sungguh dilahirkan kembali?

      Kenyataan yang ada ialah, bahwa Allah yang menampakkan diri dalam diri Yesus bukan dilahirkan di istana Herodes, melainkan di kandang hewan di Betlehem. Setiap orang di hadapan Tuhan harus mau menjadi “orang kecil”, bukan sebagai “orang besar”. Siapapun yang menganggap dirinya besar di hadapan Allah, tidak akan pernah mengenal Juru Selamatnya. Orang yang merasa dirinya sebagai “majus”, “orang besar” jangan takut seperti Raja Herodes yang takut kehilangan kebesarannya untuk mengunjungi Yesus di Betlehem, bahkan mengubah diri menjadi Betlehem. Menampakkan diri kepada Tuhan dan sesama sesuai dengan keadaan pribadi masing-masing yang sebenarnya, tidak dibuat-buat, itulah sikap dasar manusia otentik seperti telah diteladani oleh Yesus dalam jalan yang ditempuh-Nya dalam kelahiran, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/