Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

Yes 60:1-6, Ef 3:2-3,5-6, Mat 2:1-12

PENGANTAR
     Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epiphania Domini). Penampakan atau penampilan diri setiap orang, baik direncanakan ataupun tidak, sangat penting. Penampilan orang pertama di hadapan umum menentukan sikap atau tanggapan mereka terhadap dirinya. Hari ini kita diajak menyambut Yesus, Penyelamat kita, yang menampakkan diri di Betlehem, yang dewasa ini di mana-mana digambarkan terbaring di sebuah palungan di gua atau gubug sederhana. Marilah kita bersama orang-orang majus menghadap, bersujud dan menyembah Dia.

HOMILI
     Dewasa ini banyak dibicarakan orang tentang pencitraan diri, dengan pelbagai tujuan. Ada yang disengaja, ada pula yang tidak disengaja. Bila bertujuan untuk  popularitas-diri, maka segala usaha untuk pencitraan diri di depan umum adalah palsu. Tetapi bila tujuannya ialah untuk dapat hidup dan berbuat untuk pelayanan kepentingan khayalak umum, maka bukan popularitaslah yang merupakan tujuannya, melainkan untuk bekerja dengan mencurahkan segenap kemampuannya, agar dapat berguna dan menolong sesama. Yang pertama adalah pencitraan diri yang palsu, yang kedua adalah pencitraan diri yang murni, asli, otentik.         

     Cara memperkenalkan diri atau tampil di hadapan umum sangat beraneka ragam. Cara yang paling polos, otentik, dan sungguh nyata seperti adanya, itu dilakukan oleh setiap bayi yang dilahirkan. Itulah yang dilakukan Yesus. Kenyataan ini sangat penting bagi kita untuk  dapat  merayakan penampakan Tuhan Allah kepada kita secara benar. Ternyata jalan yang ditempuh Allah, yang menjadi manusia itu begitu biasa, bahkan demikian sederhana di kalangan masyarakat  sezaman-Nya dahulu. Seorang imam J.M. Nouwen menulis sebagai berikut: “Saya ingin menulis bagi Anda mengenai kasih Allah, yang menjadi nyata dalam Yesus. Bagaimana kasih itu dinyatakan melalui Yesus? Kasih itu dijadikan nyata melalui jalan turun. Itulah rahasia agung penjelmaan. Allah telah turun kepada kita manusia agar dapat menjadi manusia bersama kita. Dan sebagai seorang dari antara kita, Ia merendahkan diri menjadi orang yang dihukum mati. Dalam hati bagi kita tidak mudahlah untuk merasakan dan memahami jalan turun Yesus ini”.

     Menanggapi isi renungan tentang “jalan turun” itu, dalam Injil Matius hari ini kita dapat menyimpulkan tiga macam sikap diri manusia terhadap jalan turun yang ditempuh Yesus Juruselamat kita:

     Pertama: “Orang-Orang Majus”, orang-orang asing terkemuka dari Timur, adalah kelompok orang yang baik hati maupun budinya terbuka dan peka terhadap tanda di langit tentang kedatangan Penebus. Mereka serentak rela meninggalkan keluarga, milik, pekerjaannya dan berani menggambil risiko mencari bayi Penyelamat di negeri asing.

     Kedua: Di negeri Yahudi sendiri Raja Herodes dan penduduknya terkejut mendengar berita kelahiran Mesias. Dalam diri Herodes terungkaplah pribadi manusia yang egoistis. Sebagai raja ia melihat bahaya akan kehilangan kedudukannya. Penampilan orang lain dianggapnya sebagai lawan. Para imam dan ahli Taurat Yahudi tahu dari Kitab Suci, bahwa Mesias akan lahir di Betlehem. Tetapi hati mereka beku, mereka tidak mencari benar atau tidaknya berita kedatangan Mesias itu. Mereka tidak ambil pusing. Mental masyarakat tidak berubah apapun!

     Ketiga: Kelompok ketiga terdiri dari orang-orang sederhana, yang tak punya pretensi apapun, bahkan termasuk penduduk kota pinggiran: gembala-gembala. Mereka ini orang-orang yang saling terbuka, saling berbagi baik dalam kesukaan maupun kedukaan, dalam kelebihan atau kekurangan. Orang-orang inilah yang mampu membaca tanda dari langit.

     Ketiga macam sikap itu dapat kita anggap sebagai alat cermin untuk memantulkan kesungguhan atau kesejatian diri pribadi kita masing-masing. Allah menampakkan diri kepada kita manusia dengan menempuh JALAN TURUN.  Allah sudi menjadi manusia seperti kita. Ia yang agung menjadi kecil, Ia yang menguasai segalanya menjadi miskin, Ia Raja semesta alam menjadi bayi makhluk kecil di Betlehem. Gambar diri pribadi manakah yang terpantul dalam cermin penampakan Tuhan kita Yesus Kristus? Sikap ketiga majus dari Timur? Sikap Herodes atau para ahli Taurat? Ataukah sikap gembala-gembala di padang rumput? Kita dalam merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan diingatkan  oleh pesan dalam Injil hari ini: Marilah kita menyambut penampakan Yesus Kristus Tuhan kita dengan hati terbuka dan rendah hati, dan bersujud menyembah Dia. Janganlah kita memperkenalkan diri kita sebagai penampilan citra pribadi yang palsu, tetapi lugas, murni, otentik seperti adanya.

 

 

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/