Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA PASKA A/2014

Kis 10:34a-37-43  Kol 3:1-4  Yoh 20:1-18

PENGANTAR
          Bagi kita umat kristiani, Paskah adalah suatu pemberian kepastian bahwa kematian  bukanlah akhir hidup kita seutuhnya. Kebangkitan Yesus merupakan  bukti, bahwa Allah selalu mendampingi dan memberi kekuatan kepada kita, untuk senantiasa tekun dan teguh, tetap kuat mengalami perco-baan hidup apapun. Paskah memberikan kepada kita suatu jatidiri, identitas murni yang pasti: kita ini diselamatkan, maka sebagai orang beriman kristia-ni jangan sampai hidup dengan ketakutan dan kehilangan harapan!

HOMILI
          Selama Pekan Suci, khususnya selama Triduum, kita telah mendengar betapa besar perhatian dan pelaksanaan rencana kasih Allah untuk menyelamatkan kita. Kita telah mendengar kesaksian tiga perempuan (Maria Magda-lena, Maria ibu Yakobus, Salome) tentang kebangkitan Yesus. Khususnya kesaksian Maria Magdalena (=MM) patut kita perhatikan. Dalam Injil-Injil MM diceriterakan sebagai seorang perempuan dari Galilea, yang mengikuti Yesus dan murid-murid-Nya. Ia melayani Yesus dan hadir menyaksikan ketika Yesus disalib dan dimakamkan. Dan ia juga datang ke makam untuk mengurapi jenazah Yesus.

          Perlu kita perhatikan, bahwa Yesus hidup dalam masyarakat yang bercorak ‘androsentris’ atau berpusat pada atau dikuasai oleh laki-laki. Wanita pertama-tama dianggap sebagai milik bapanya, baru kemudian milik suaminya. Wanita tak punya hak sebagai saksi, tak boleh belajar Taurat. Nah, Yesus yang hidup dalam masyarakat itu bertindak tanpa mengurangi martabat perempuan yang sama dengan laki-laki. Yesus bergaul dengan perempuan, menghormati mereka, bersahabatan dengan mereka. Dalam perjalanan Ia didampingi perempuan-perempuan.

          Dalam Yoh 20:11-18 diceriterakan, bahwan MM sedih dan menangis karena Yesus ternyata tidak ada di makam lagi. Yesus menanggapi dia: “Ibu (‘wanita’, ‘perempuan’) mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?’. MM menjawab: ‘Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya’ (ay. 15). Jawaban Yesus:Maria!” MM berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!” artinya ‘Guru’ (ay. 16). Dalam tutur kata itu terungkaplah hubungan ‘Guru-Murid’ erat antara Yesus dan MM, tetapi juga dengan murid-murid-Nya yang lain yang sangat mendalam. Dan hubungan erat itu terungkap dalam ucapan Yesus ini: Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (ay. 17).

          Ternyata cara Tuhan menyampaikan sabda dan kehendak-Nya kepada manusia tidak tergantung dari tata-susunan atau tata-tertib, yang dibuat dan ditentukan oleh manusia. Hirarki karya penyelamatan Allah memiliki caranya sendiri. Kepada MM, seorang perempuan yang dalam masyarakat zamannya mempunyai kedudukan kedua sesudah laki-laki, Yesus menam-pakkan diri-Nya sesudah bangkit bukan pertama-tama kepada Petrus dan para Rasul lainnya, tetapi kepada MM. Kepada MM inilah Yesus memberi-kan tugas perutusan pewartaan tentang kebangkitan-Nya. Maka tepat pula bahwa dalam Gereja Perdana MM disebut ‘Apostola Apotolorum’, Rasul Para Rasul.  Sebab MM-lah, perempuan, adalah orang pertama yang me-nyaksikan Yesus yang telah bangkit, dan mewartakan kebangkitan-Nya itu kepada rasul-rasul lain.

          Inilah salah satu bagian isi kabar gembira Paskah, yang sekarang di zaman modern pun masih patut untuk diperhatikan: perempuan adalah sama martabatnya di depan Tuhan seperti laki-laki. Perempuan juga diutus Yesus Kristus untuk mewartakan kabar gembira kepada semua orang. Namun jangan sampai kaum laki-laki menganggap hal pewartaan kabar gembira yang diserahkan kepada semua pengikut atau murid-Nya, - yaitu setiap orang yang sudah dibaptis!- , adalah hanya tugas kaum perempuan saja.

          Kebangkitan  Yesus Kristus adalah jaminan kebenaran agama kris-tiani. Maka setiap pemeluk agama kristiani, bila ingin menjaga kesungguhan atau otentisitas jatidirinya sebagai orang kristiani, harus menyadari tanggung jawabnya untuk mewartakan kebangkitan Yesus kepada semua orang. Tetapi ia hanya dapat melaksanakan tugasnya itu, apabila Yesus bangkit dahulu dalam hatinya. Yesus yang bangkit dalam dirinya sendiri  sebagai orang kristiani itu akan dapat bangkit pula di dalam diri sesama kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/