Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA

 Why 11:19a; 12:1-6a.10ab   1 Kor 15:20-26   Luk 1:39-56


PENGANTAR
Pada tahun 1950 Paus Pius XII mengumumkan dogma ajaran katolik tentang Maria diangkat ke surga: Adalah kebenaran iman yang diwahyukan Allah, bahwa Maria Bunda Allah yang selalu perawan, sesudah akhir  mhidupnya di dunia, diangkat ke kemuliaan surgawi dengan raga dan jiwanya”. Inilah kenyataan yang menurut iman kepercayaan kita dirayakan untuk menghormati Maria yang diangkat ke surga.

Marilah hari ini kita bersama merenungkan apa arti pesta Maria di angkat ke surga, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 15 Agustus setiap tahun. Intisari pesta Maria ini adalah, bahwa apa yang dialami oleh Maria, menurut ajaran Gereja merupakan masa depan kita semua sebagai manusia. Kita seperti Maria sebagai yang pertama akan kembali kepada Tuhan di surga.

HOMILI
Injil menurut Lukas untuk hari ini sangat kaya dan dalam isinya. Terdiri dari dua bagian: 1. Pertemuan pertemuan persaudaraan antara Maria dan Elisabet (Luk. 1:39-45) 2. Kidung Magnificat, “Jiwaku memuliakan Tuhan” (Luk 1:46-55).
           
Pertama (ay.39-45): Dua orang perempuan, yang mengalami intervensi Allah dalam diri masing-masing. Elisabet yang kena aib, sampai tua tidak beranak, kini sedangkan mengandung, dan akan melahirkan Yohanes Pemandi. Maria yang juga mengandung muda, yang mengalami hari-hari pahit tentang keadaannya yang hamil menghadapi Yusuf. Maria tak segan, meskipun mengandung menempuh jarak jauh dari daerah Galilea di utara menuju ke rumah Zakharia suami Elisabet di daerah Judea di selatan.

Seperti terungkap dalam Injil Lukas, Maria membiarkan, mempersilahkan Roh Kudus berkarya dalam kandungannya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!”. Karya Roh Kudus inilah juga yang mendorong Maria mengunjungi Elisabet. Dan ketika ia tiba bertemu dengan Elisabet, bergerak dan melonjaklah kegirangan anak dalam kandungan Elisabet. “Berbahagialah dia yang telah percaya, sebab firman Tuhan yang dikatakan kepadanya akan terlaksana”, sambutan Elisabet kepada Maria. Dan tanggapan Maria diungkapkan dalam bentuk Kidung “Magnificat”.

Kedua (ay. 46-55): Iman dan sikap dasar hidup Maria terungkap dalam Kidung Magnificat. Dalam Magnificat itu terungkaplah pujian Maria kepada Allah, yang datang untuk menyelamatkan manusia. Tuhan menyayangi orang kecil, sehingga orang kecil menjadi besar di mata orang banyak! Jangan ditafsirkan seolah-olah akan terjadi perubahan besar: orang miskin menjadi kaya, dan orang kaya menjadi melarat. Isi Magnificat lebih mendalam. Magnificat mewartakan kemuliaan dan keagungan Allah, sebab justru Ia tidak segan mendekati orang kecil. Kebesaran kasih-Nyalah yang merupakan keagungan Tuhan.

Mengapa? Karena orang-orang yang sederhana, yang kecil, orang-orang yang nyaris dikenal sesama, - mereka itulah yang lebih dekat ingat dan bergaul dengan Tuhan! Sedangkan orang-orang yang serba bercukupan tergoda untuk lebih dekat dan lebih ingat akan miliknya, walaupun sebenarnya segala miliknya adalah pemberian Allah. Isi Kidung Magnificat  yang diucapkan Maria itu dahulu dalam Perjanjian Lama juga diungkapkan oleh Hana (1Sam 2:1-10), sebagai kenangan akan perlindungan dan pendampingan-Nya terhadap bangsa Israel yang ditindas dan dibuang. Tuhan sungguh membela orang-orang yang dikasihi-Nya melawan orang-orang besar yang menindas mereka.

Magnificat juga mengajarkan kepada kita, bahwa penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan, aib dan ketidakberuntungan bukanlah suatu hukuman untuk kesalahan atau kelemahan. Hukuman juga tidak diturunkan kepada keturunan, yang tidak bersalah. Seolah-olah dosa adalah turun temurun, sehingga hukumannya pun turun temurun. Kidung Magnificat tidak mengikuti pandangan semacam itu! Bila demikian, apa pesan yang terdapat dalam Kidung Magnificat itu?

Pesan Magnificat ialah, bahwa orang-orang yang beruntungan hidupnya, serba kecukupan kebutuhannya dan tak berkekurangan apapun, janganlah bertolak-belakang dari titik tolak Allah sendiri. Allah yang serba sempurna, serba kuasa, serba cukup justru mendekati dan menolong orang yang berkekurangan. Maka siapapun yang tidak berkekurangan hendaknya berbuat seperti dilakukan Tuhan sendiri. Yakni beru-saha jangan sampai orang kecil tetap kecil saja, bahkan makin terpelosok ke dalam kekurangannya! Itulah yang diungkapkan dalam ay. 52-53 ini: “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala baik kepada orang-orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”. Dengan demikian Magnificat mengajak semua orang yang merasa beruntung agar diberkati Tuhan dengan penggunaan kelebihan mereka, yaitu bukan untuk menikmatinya sendiri, melainkan untuk memungkinkan sesamanya ikut merasakannya, sehingga mereka juga dapat hidup dengan bahagia. Kidung  Magnificat sungguh bukan menawarkan suatu teologi (ajaran agama), yang menjung-kirbalikan nasib manusia, melainkan menunjukkan suatu pegangan untuk meluruskan pandangan sikap hidup kita yang benar dan adil.

Kesimpulan: Maria Bunda Yesus mengungkapkan keyakinan imannya dan sikap dasar hidupnya. Ia sungguh orang yanag “mendengarkan firman Allah dan memeliharanya”. Maka ia diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya. Kita pun dapat dan akan mengalaminya, apabila kita hidup menurut teladannya. Amin.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/