Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA KENAIKAN TUHAN A/2014

Kis 1:1-11  Ef 1:17-23  Mat 28:16-20

PENGANTAR
     Pada Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga hari ini, dalam Bacaan Pertama kita mendengar ucapan malaikat dari surga: Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri menatap ke langit? Yesus yang terangkat ke surga meninggalkan kamu ini akan kembali dengan cara yang sama seperti kamu lihat Dia naik ke surga”. Marilah dalam perayaan Ekaristi pada Hari Raya ini kita merenungkan bersama apakah sebenarnya yang disebut Surga bagi kita.

HOMILI
     Dalam bahasa liturgi diucapkan: “Kemuliaan kepada Allah di surga, dan damai di bumi kepada orang yang berkenan pada-Nya”. Tanpa tahu dengan tepat, pada  umumnya bagi kita “surga” adalah tempat kediaman ilahi, seperti terungkap dalam bahasa liturgi tersebut. Tetapi makin maju pengetahuan manusia di bidang ilmu pengetahuan teknik/fisika, pengertian tentang surga makin sulit dipahami dan diterima. Surga lebih dilihat dengan pandangan dan perhitungan sistem planet dan surya. Maka bisa dimengerti mengapa ada seorang astronaut/antariksawan Rusia, sesudah mengelilingi angkasa luas berkata: “Aku telah mengelilingi angkasa luas cukup lama, tetapi tidak menjumpai Allah di mana pun!”.

     Bila kita sebagai orang beriman kristiani berdoa: “Bapa kami yang ada di surga”, perlulah kita ini mengetahui apa sebenarnya “surga” itu. Kita harus selalu ingat, bahwa Kitab Suci menyesuaikan bahasa yang dipakainya dengan bahasa yang berlaku. Untuk bidang ilmiah atau alamiah pun digunakan istilah atau kata atau bahasa umum, misalnya: “Matahari terbitdan matahari terbenam. Tetapi Kitab Suci sungguh tahu dan mengajarkan, bahwa Allah berada di surga, di dunia, di bumi dan di tempat lain. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa Allahlah yang menciptakan surga dan dunia, namun tidak mungkin bahwa semua itu membatasi kehadiran-Nya  hanya di tempat itu saja.  Maka apabila Kitab Suci mengatakan, bahwa Allah “ada di surga”, maksudnya ialah bahwa Allah memang jauh di luar jangkauan kita, atau bahwa surga memang berada di luar jangkauan bumi kita.

     Sebagai umat Allah, kita umat beriman kristiani yakin, bahwa surga sebagai tempat kediaman Allah lebih kita anggap atau kita pahami sebagai suatu status keberadaan (status  essendi,  a state of being), bukan sebagai suatu tempat tinggal. Kita sadar bahwa tidak mungkinlah, bahwa Allah sungguh-sungguh ada “di atas” atau “di bawah”. Tetapi kita juga tidak beranggapan, bahwa surga memang tidak ada. Kita hanya mau menegaskan, bahwa kita ini memang tidak mempunyai suatu gambaran atau pengertian guna merumuskan bentuk kehadiran Allah secara tepat dan benar. – Apabila kita bertanya kepada seseorang yang buta sejak kelahirannya tentang warna-warna yang berlainan, seperti warna putih, hitam, merah atau hijau dan sebagainya,  jelaslah bahwa si buta itu tidak mampu menjawabnya. Mengapa? Karena kita manusia  hanya dapat membedakan warna melalui mata atau pengelihatan kita! Dengan demikian kita tidak dapat mengerti atau menerangkan apa arti surga atau hidup kekal, yang tidak berada di suatu ruang atau waktu kita di bumi yang dapat kita lihat.

     Maka dengan menunjuk hal-hal pertimbangan yang telah kita sebut itu, timbullah pertanyaan ini: Apakah artinya: “Yesus naik ke surga? Dan jawaban pertanyaan  itu terdapat dalam Syahadat (“Credo”):  “Ia naik ke surga duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa”. Dikatakan bahwa Kristus naik ke surga, dan Ia duduk di sebelah kanan Bapa, artinya bahwa Yesus Kristus, yang adalah manusia juga seperti kita, memasuki ‘dunia’ Allah. Dengan kata lain Ia diangkat menjadi Tuhan dan menguasai segala sesuatu, seperti ditegaskan oleh Paulus dalam Bacaan Kedua:  “Allah… yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan Allah dalam surga. Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan Allah kepada jemaat sebagai kepala dari segala yang ada”.

     Dengan demikian bagi kita ungkapan “naik ke surga”atau “masuk ke firdaus” berarti pergi kepada dan bersatu dengan Kristus (Flp 1:23). Surga kita tak lain tak bukan adalah berada bersama Kristus yang telah bangkit. Dengan demikian Kristus yang telah bangkit dan kita yang juga akan bangkit, menurut istilah yang dipakai oleh Paulus, merupakan suatu ”tubuh” untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang pun sebelum kita dipanggil Tuhan,  persatuan kita dengan Kristus yang utuh dan kekal sesudah kita bangkit kelak, sudah dapat kita alami, walaupun masih secara sakramental, yakni dalam penerimaan ekaristi. Ekaristi merupakan kepastian dan antisipasi persatuan kita dengan Kristus di surga.

     Mari kita mendengarkan dan memahami kata-kata malaikat ini: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri menatap ke langit?” Kita diajak hidup secara realistis. Jangan hanya memikirkan masa kelak, tetapi lebih melihat masa kini sambil ingat akan Yesus, yang bukan hanya kelak, tetapi sekarang pun hadir di tengah-tengah kita dan hadir dalam diri kita masing-masing. Marilah kita  selalu mendengarkan sabda-Nya dan melaksanakan perutusan/misi yang diberikan kepada kita, yaitu untuk dengan  rela, giat dan sungguh-sungguh mewartakan kabar gembira kepada semua orang. Yesus memang telah naik ke surga, namun Ia tidak meninggalkan dunia di mana kita hidup. Ia berada dalam status yang lain, namun tetap tinggal bersama dengan kita. Dalam status selalu bersatu dengan Allah dalam Yesus Kristus, - itulah surga di mana Yesus dan kita semua akan berada.
         

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/