Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA A/2014

Sir 10:1-8  1 Ptr 2:13-17  Mat 22:15-21

PENGANTAR
    Hari ini kita mengenangkan dengan rasa penuh syukur dan sukacita, bahwa 69 tahun lalu Indonesia mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kita semua tahu, entah dari pengalaman pribadi, entah melalui catatan sejarah, bahwa kemerdekaan kita itu harus diperjuangkan selama beberapa tahun dan kemudian juga sekarang ini, kemerdekaan itu harus diberi isi bagi bangsa kita. Marilah kita pada hari ini pertama-tama bersyukur kepada Tuhan atas kemerdekaan sebagai anugerah-Nya. Tetapi sekaligus kita berterima kasih atas perjuangan para pahlawan kita, namun juga merenungkan bagaimana kita sekarang ini harus mengisi dan memberikan arti kepada kemerdekaan bangsa kita ini.

HOMILI
    Dalam bacaan-bacaan KitabSuci hari raya ini kemerdekaan dikaitkan dengan pengabdian kita kepada Allah dan rakyat. Yesus merumuskannya secara singkat: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah"(Mat.22:21). Petrus dalam suratnya menulis : ”Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” (I Ptr. 2:16).

    Dalam merayakan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia kita mengenangkan dengan rasa terima kasih kepada mereka yang memperjuangkan kemerdekaan bagi kita, banyak dengan mengorbankan nyawanya! Jangan sampai rasa syukur kita hanya berbentuk kata-kata dan sambutan yang indah. Apabila kita menghargai kemerdekaan bangsa kita, maka rasa syukur kita  harus dihayati secara jujur dan nyata seperti dikatakan Santo Petrus dalam suratnya.

    Kita dapat bertanya kepada diri kita : “Benarkah kita sungguh didorong hati nurani  murni untuk mencintai bangsa kita?” Bukan soal perasaan, tetapi tindakan nyata! Apakah yang kita buat bagi sesama  kita sebangsa kita di tempat hidup dan bekerja, masing-masing sesuai dengan keadaan hidup dan tugas panggilannya?

     Injil hari ini memberi contoh. Yesus ditanyai apakah diperbolehkan membayar pajak. Jawaban Yesus jelas. Berikan kepada kaisar apa yang wajib kita berikan. Isi jabawan Yesus bisa diperluas, misalnya berkaitan dengan keadaan ekonomi negara kita.  Masing-masing orang ada kewajibannya dalam hal ini. Salah satu tanda bukti bahwa kita menghargai kemerdekaan secara kongkret, ialah bagaimana cara kita mengusahakan kesejahteraan bangsa.

    Apa yang kita kerjakan ada dampak sosialnya.  Kalau saya tidak jujur dalam hal ini dan mengutamakan kepentingan dan keinginan saya sendiri, maka maka Tuhan  sebenarnya cinta saya akan sesama saya sungguh  tidak banyak artinya. Bagaimanakah suara hati kita, kalau harta Negara dan bangsa  disalahgunakan,  sebagaimana misalnya kita kenal dalam praktek korupsi? Orang memperkaya diri dengan uang yang dimaksud untuk kepentingan dan kesejahteraan umum. Kita semua harus berani melihat sejauh mana kita selalu jujur dalam hal ini, meskipun dalam hal yang mungkin kecil saja.

    Kita ingat kembali akan Pilpres tanggal 9 Juli lalu. Bagian terbesar dari bangsa kita memenuhi kewajibannya sebagai warga negara untuk memilih Presiden baru. Ini sungguh peristiwa yang patut kita syukuri : begitu banyak orang merasa terlibat  dalam rasa tanggungjawab terhadap bangsa dan tanahairnya. Suatu tanda  bahwa  orang yang ambil bagian dalam Pemilu dia menghargai makna demokrasi.  Demokrasi merupakan suatu ungkapan harapan warga negara yang   mencintai negaranya.  Pemilu  membangun warga negara supaya menjadi sadar akan tanggungjawabnya untuk ikut  membangun kesejahteraan bangsanya. Harapan masih kuat di dalam hati rakyat memiliki Negara yang adil dan makmur. Untuk sementara siapa akan memimpin Negara Republik Indonesia untuk lima tahun mendatang,kita masih harus menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi.

    Apa yang harus kita usahakan bersama untuk masa depan? Apabila nama “Negara Kesatuan Republik Indonesia”  (NKRI) mau kita beri arti yang benar, maka sangat jelaslah kita harus menutupi segala jurang yang sekarang masih kerap memisahkan warga negara yang satu dengan yang lain atau kelompok yang satu dengan yang lain di bidang apapun. Di bidang ekonomi tentu tidak semua orang harus sama kuatnya. Tetapi perlukah bahwa dalam Negara kita yang begitu besar kekayaan alamnya, masih begitu banyak orang yang melarat, belum mempunyai  tempat  kediaman yang wajar,  dan belum dapat menjamin kesehatan  serta memberikan pendidikan baik yang dibutuhkan anak-anaknya? Jurang ini tetap masih terasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Dan meskipun bangsa kita mengikuti Falsafat, mengapa di bidang agama  ada orang-orang yang mau memaksakan keyakinannya sendiri kepada orang lain? Bagaimana bisa dibenarkan bahwa orang lain karena ancaman atau kekerasan mau dipaksan bertindak melawan hati nuraninya? Di mana letak  kesatuan Republik kita apa bila kemerdekaan beragama dan kebebasan hati nurani mau diinjak-injak? Kita semua harus  ikut memperjuangkan kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semoga bangsa kita terus  bertekad  untuk hidup rukun dengan prinsip saling  menghormati  dan bergotong royong, sebagaimana masih dihayati di banyak desa dan kampung di negara kita tercinta ini.

    Banyak perubahan kita harapkan. Program perubahan mental perlu kita dukung dengan rela ikut berpola pikir baru. Ini pesan Injil hari ini juga. Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kita berikan kepada-Nya. Itu bukan saja ibadat, tetapi berusaha mewujudkan penghargaan terhadap setiap orang. Allah yang mengasihi kta semua, menyuruh kita mengikuti teladan-Nya dengan membantu, menghargai dan mencintai sesama. Sebagai murid Yesus kita mau membaharui niat kita untuk mengusahakan kesatuan Negara kita, di mana segenap warganya hidup dan bertindak atas dasar prinsip saling mengormati dan mencintai, juga di kota-kota besar.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

buku Katekese terbaru dari Mgr. FX. Hadisumarta. O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/