Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA IV/A/2017

Zef 2:3; 3:12-13 1 Kor 1:26-31 Mat 5:1-12a

PENGANTAR
    Intisari ajaran Yesus oleh Matius dirangkumkan dalam Injilnya Bab 5-7, yang dituangkan dalam naskahnya yang berjudul "Khotbah di bukit". Untuk Hari Minggu ini Gereja mengingatkan kita akan sabda-Nya yang disebut "Ucapan Bahagia" (Mat 5:1-12a). Marilah kita dalam perayaan Ekaristi ini membuka hati kita untuk mendengarkan sabda-Nya serta didorong untuk melaksanakannya.

HOMILI
    Apa yang dihadapi Yesus dalam masyarakat zaman-Nya, seperti terungkap dalam "Ucapan Bahagia" dalam Injil Mat.5:1-12a, sekarang ini di zaman kita pun tetap ada, tetap aktual, relevan, bahkan dapat dikatakan lebih sulit dan berbelit-belit. Sebab justru disebabkan oleh timbulnya aneka ragam kemajuan di zaman kita ini.

    Yesus pada waktu itu sangat prihatin dengan keadaan warga sesama-Nya dalam masyarakat. Keprihatinan Yesus dahulu itu juga merupakan keprihatinan kita sebagai umat kristiani di zaman kita dewasa ini. Sebagai ringkasan masalah-masalah yang dihadapi Yesus, seperti terungkap dalam ucapan-ucapan bahagia itu dapat kita lihat sebagai kelaparan dan kehausan orang-orang sekarang ini juga, yaitu kelaparan dan kehausan akan suatu keadaan atau suatu kebenaran, yang dalam bahasa alkitabiah di Indonesia lazim disebut sebagai keadilan.

    Yesus bukan datang untuk memuliakan diri-Nya sendiri. Ia sungguh haus dan lapar untuk memuliakan Bapa-Nya, agar Allah Bapa-Nya dihormati dan diluhurkan oleh segenap umat manusia, ciptaan-Nya. Memang seharusnya dalam suatu masyarakat Allah sungguh dimuliakan oleh warga-wagranya, yaitiu apabila mereka hidup bersama sebagai saudara-saudari secara adil sebagai manusia sesame, yang sama martabatnya. Terbukti sejak awal hidup-Nya di Betlehem, di Nasaret, dan di mana pun juga, sampai dalam keadaan-Nya ketika tergantung di salib di Kalvari, Yesus sebagai manusia tidak pernah berkeinginan lain daripada berusaha untuk melaksanakan keadilan atau kebenaran yang dikehendaki Allah Bapa-Nya. Hal ini terbukti dalam hidup, kata dan perbuatan Yesus sendiri!

    Dengan demikian, dalam masyarakat itu sekarang pun, segala hubungan timbal-balik antar insan harus juga mencerminkan keadaan keadilan yang baru (atau disebut "kebenaran", atau "apa yang benar") seperti diajarkan dan dilakukan Yesus sendiri. Menurut pandangan Yesus, persembahan atau korban ritual apapun bentuknya, apabila tidak sekaligus disertai dengan keadilan, tidak akan mempunyai nilai sedikit pun! Keadilan yang baru, atau disebut sebagai kebenaran, ialah kebenaran Allah yang penuh kasih dan rahim. Menurut keadilan dunia orang bersalah harus dihukum, sedangkan menurut keadilan ilahi atau menurut kebenaran, orang itu dapat diampuni dan diselamatkan. Karena itu menurut keadilan atau kebenaran ilahi, Yesus tampil bukan untuk menghukum, melainkan untuk mempersembahkan diri sendiri sebagai korban sepenuhnya untuk menyelamatkan kita, yang dianggap-Nya sebagai saudara-saudari-Nya sendiri! Demi kemuliaan Bapa, Yesus telah memberikan diri seutuhnya, agar dapat terciptalah keadilan sejati di dunia kita ini. Inilah yang dalam bahasa alkitabiah, yang dalam bahasa Indonesia disebut keadilan (Asli Yunani: dikaiosune; Inggris: righteousness; Belanda: gerechtigdheid; Indonesia: maksudnya: yang adil ialah apa yang benar (kebenaran), artinya menurut kehendak Allah, yang adalah kasih!).

    Maka kita semua sebagai murid-murid-Nya sebagai Gereja Kristus, dalam dan melalui hidup kita, dapat dan harus memperlihatkan kepada masyarakat, bahwa kelaparan dan kehausan kita sebagai umat kristiani adalah pelaksanaan keadilan alkitabiah sejati, yakni memperhatikan dan berbelas kasih kepada sesama. Kita sungguh bahagia apabila sesama kita tidak menderita, melainkan juga ikut bahagia. Kebahagiaan kristiani bukan sepihak, individualistis, egoistis, melainkan solider dan bersama.

    Berkat baptis, kita semua memasuki keluarga besar Allah. Masing-masing dan bersama-sama, menurut anugerah yang kita terima dari Tuhan, dapat dan harus saling memperhatikan dan menolong. Apabila kita sungguh sadar akan status kita sebagai orang yang sudah dibaptis, artinya sadar bersatu dengan Yesus Kristus, maka kita akan ikut merasa bahagia apabila kita rela dan gembira ambil bagian dalam apa yang dilakukan Kristus sendiri. Seperti dialami oleh Yesus sendiri, yaitu hidup miskin, berdukacita, bersikap lemah lembut, prihatin mengalami ketdakbenaran atau ketidakadilan dalam masyarakat, bahkan mengalami sendiri penganianyaan karena kebenaran, kita pun dapat ikut bahagia bahkan bangga! Kita diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam kehidupan Kristus sendiri! Ini bukan hanya dalam hal keberanian dan kesediaan-Nya untuk menderita, melainkan juga dan terutama kelak dalam mengalami "penerimaan upah" di surga, yaitu hidup bahagia bersama Dia dan Allah Bapa untuk selamanya. Marilah kita mendengarkan dan memahami sabda Allah dalam Injil Matius hari ini dengan hati sejuk, tenang, terbuka, realistis, bukan hanya dengan perasaan maupun secara sentimental.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/