Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA III/C/2013

Neh 8:3-5a.6-7.9-11  1 Kor12:12-30  Luk 1:1-4;4:14-21

PENGANTAR
          Dalam Injil hari ini Lukas mengatakan bahwa Yesus di rumah ibadat mem-bacakan ramalan Nabi Yesaya berikut ini: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku”. Yesus mengakui bahwa Dialah orang yang dimaksud-kan oleh Yesaya. Jadi Yesus tampil sebagai Almasih untuk memberitakan pembebasan bagi orang miskin, orang tawanan, orang buta, orang tertindas. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pelaksana pewartaan keselamatan yang diramalkan oleh Yesaya. Namun, ternyata dalam Injil hari ini juga ditegaskan, bahwa orang-orang sekampung dengan Yesus di Nasaret tidak mau menerima Dia, bahkan akan membunuh-Nya. Marilah kita berusaha menangkap pesan yang ingin disampaikan Injil kepada kita pada hari ini.

HOMILI
          Ternyata apa yang disampaikan Yesus di Nasaret kepada orang-orang sekampung-Nya tidak mereka terima. Tujuan kehadiran dan tugas-Nya, yaitu pembebasan semua orang dari segala beban dan penderitaan ditolak. Dari cerita tentang penampilan dan pelayanan Yesus dalam Injil Lukas itu, kita mendapat gambaran tentang Yesus sebagai pewarta yang gagal, tidak dianggap dan tak diterima kehadiran-Nya. Penduduk Nasaret menolak mendengarkan dan menerima isi pokok pewaartaan Yesus, yakni pembebasan, kemerdekaan dan rekonsiliasi. Mengapa? Karena mereka mempunyai pandangan dan sikap dasar yang bertentangan dengan pewartaan yang disampaikan oleh Nabi Yesaya dan diterus-kan dan akan dilaksanakan oleh Yesus sebagai Dia Yang Diurapi alias Almasih.

          Nah, inilah pesan Injil hari ini kepada kita. Kita harus selalu mau dan bersedia mendengarkan dan menjawab sabda Allah! Seperti kita dengar dalam Bacaan I (Kitab Nehemia), Imam Ezra membaca KitabTaurat, dan umat Israel yang baru kembali dari pembuangan mendengarkannya penuh perhatian. Dan mereka berseru: Amin! Amin! Itulah juga yang harus kita alami dan lakukan dalam setiap perayaan liturgi. Ucapan “Aminadalah tanggapan atau jawaban kita kepada sabda Tuhan! Khususnya ucapan Amin pada akhir setiap Doa Agung Ekaristi, kita sebenarnya mengakui kehadiran riil atau nyata Kristus, Sabda Allah, yang hidup dalam Ekaristi.

         Tetapi Kristus, Almasih kita, bukan hanya hadir di Gereja, dan di dalam perayaan Ekaristi. Kristus selalu hadir di segenap medan hidup dan karya kita, apapun bentuknya dan di manapun tempatnya. Bila kita menghadapi kegembiraan dan sukacita hidup,  maupun bila kita mengalami tantangan hidup yang berupa bencana atau penderitaan yang pahit, Kristus selalu hadir untuk menyapa kita untuk mewartakan kabar baik dan membebaskan kita semua tanpa perbedaan dari segala bentuk penderitaan.

            Bila ada perbedaan dalam hasil atau buah kedatangan dan kehadiran Kristus di hadapan semua orang, perbedaan itu terletak dalam sikap setiap orang masing-masing. Kenyataan penolakan yang dialami Yesus di Nasaret, yang menyatakan diri sebagai utusan Allah untuk melaksanakan apa yang sudah diramalkan oleh Nabi Yesaya, - kenyataan itu sekarangpun masih bisa terjadi! Apa sebabnya? Karena gambaran, pandangan, sikap setiap orang  tidak sama. Almasih digambarkan sebagai orang duniawi, sebagai tokoh, figur, sosok, pribadi yang berasal dari golongan “orang-orang besar”. Orang-orang yang terkenal, tersohor, pandai berpidato dan serba mampu, - itulah ukuran atau kriteria yang biasanya dipakai orang, baik sekarang maupun duapuluh abad yang lalu dalam sikap mereka untuk mengakui kepantasan seseorang menjadi pemimpin. Tetapi ternyata Yesus cuma orang biasa, orang Nasaret, orang sekampung, anak Yusuf dan Maria.    

          Pesan Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa kita adalah orang yang percaya. Atas dasar iman, kita harus tahu dan mau melihat dan bersikap menghadapi segala sesuatu, bukan hanya atas pertimbangan duniawi/jasmani, melainkan juga dengan pertimbangan rohani, yaitu dengan iman. Keselamatan kita bukan hanya untuk selama kita hidup di dunia ini, tetapi juga dan terutama untuk hidup kita kelak, yang bukan sementara melainkan kekal. – Kita ingin bukan seperti orang-orang Nasaret dahulu yang menolak Yesus, melainkan mau menerima-Nya sebagai Penyelamat atau Almasih dengan menerima baptis. Kita diingatkan agar kita jangan hidup dan berbuat melawan baptis kita sendiri, yaitu bila kita resmi mengaku diri kristiani sebagai pengikut Kristus, namun justru menolak Dia, karena kita tidak hidup, bersikap, berpikir dan berbuat menurut ajaran dan teladan-Nya

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/