Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA ST. PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH, 1 Januari 2019

Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21;

PENGANTAR
    Selamat Tahun Baru! Hari ini kita merayakan Tahun Baru 2019. Tahun 2018 telah kita lewati dan kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa kita masih tetap dilindungi dan diberi kesempatan untuk meneruskan perjalanan hidup kita sebagai manusia, yang sangat dihargai oleh Tuhan, sebagai makhluk ciptaan yang sangat dikasihi-Nya.
Gereja mengajak kita memasuki tahun baru dengan merayakan hari raya St. Perawan Maria Bunda Allah. Mengapa? Karena Gereja ingin membekali kita sebagai orang beriman, agar dalam menempuh hidup kita selama tahun baru ini, kita menghayatinya menurut teladan Bunda Maria, yang selalu mendengarkan sabda Allah dan"menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya".

HOMILI
    Hari ini di dunia pada tingkat internasional juga disebut Hari Perdamaian Seluruh Dunia. Dan dalam amanatnya kepada masyarakat luas Paus Benedictus XVI dahulu menyampaikan seruannya : "Jikalau kamu mau memupuk perdamaian, lindungilah ciptaan".

    Pada kesempatan pergantian tahun kita sekarang ini, marilah kita menengok ke belakang selama setahun yang lampau. Kita masing-masing pasti mengalami banyak peristiwa dan pengalaman yang menggembirakan dan memberikan harapan dan rasa damai, tetapi juga pengalaman pahit, rasa kecewa tanpa harapan dan penuh rasa ketidakpastian. Itu kita alami dalam lingkungan keluarga kita masing-masing, maupun di dalam masyarakat, yang ikut mempengaruhi iklim dan suasana hidup kita.

    Injil hari ini mengajak kita untuk melihat, memikirkan dan menilai pengalaman kita selama tahun lalu itu dengan cara dan sikap dasar yang dimiliki Santa Maria. Pengalaman hidup Maria, meskipun Bunda Allah, ternyata bukan merupakan suatu rentetan kebahagiaan seperti yang kita gambarkan dan harapkan bagi hidup kita sendiri. Sejak situasi dan kondisi penerimaan tawaran menjadi Ibu Penyelamat, perjalanannya ke Betlehem untuk melahirkan puteranya di Betlehem, pengungsiannya ke negara asing untuk menyelamatkan puteranya. Selanjutnya pengalamannya dengan puteranya yang sebagai anak hilang di Yerusalem. Dan menghadapi reaksi Yesus sebagai anak, ketika Maria mengungkapkan rasa cemasnya atas nasib Yesus ketika Ia hilang. Tetapi terutama bila kita memikirkan bagaimana Maria mengikuti karya pewartaan Yesus puteranya di depan umum, dan menyaksikan reaksi masyarakat, yang menentang, menolak, menghina, mengancam dan akhirnya mengakhiri hidup Yesus puteranya di salib. Dari pengalaman Maria itulah kita sungguh dapat belajar bagaimana kita harus menghadapi apa saja yang kita alami dalam perjalanan hidup kita.

    Kita tentu memiliki harapan, agar tahun baru ini merupakan tahun yang diberkati Tuhan. Kita merindukan tahun yang lebih baik dari pada tahun lampau, baik untuk keluarga, untuk pekerjaan atau karya kita,dan untuk seluruh masyarakat kita. Memang adalah benar, masuk akal dan layak, bahwa kita membuat rencana tentang cita-cita kebahagiaan yang ingin kita peroleh. Namun sekaligus, seperti kerapkali kita alami sendiri selama tahun yang lewat, kita dapat menjumpai pengalaman yang sebaliknya.

    Pengalaman Bunda Maria yang adalah Bunda Allah dapat kita lihat dan kita terima sebagai suatu pelajaran yang sangat berguna bagi kita. Adakah penilaian dan penghormatan lebih tinggi daripada yang terima oleh Maria, yakni dipilih menjadi Bunda Allah? Namun ternyata tuntutan mulia yang diminta Allah dari Maria sangat berat dan tinggi! Kehidupan pahit yang harus ditempuhnya menuntut sikap mempersembahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Rendah hati dan ketulusan hati, tanpa perhitungan dan tanpa pamrih, penyerahan diri total kepada Tuhan, itulah pelajaran hidup yang harus kita miliki seperti Bunda Maria dalam memasuki Tahun Baru.

    Mari kita memasuki Tahun Baru 2019 ini dengan penuh iman, harapandan kasih, disertai kegembiraan sekaligus tekad dan keberanian untuk menerima apapun yang baik maupun tidak baik selama tahun baru ini menurut teladan Bunda Maria. Dan Yesus Emanuel akan menyertai kita selalu! Selamat Tahun Baru.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/