Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA TAHUN 2018

Why 11:19a; 12:1.3-6a, 10ab; 1 Kor 15:20-26; Luk 1:39-56;

PENGANTAR
    Memperhatikan pentingnya ajaran iman kita bahwa Santa Perawan Maria diangkat ke surga, maka perayaan hari raya ini, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 15 Agustus, maka Gereja menempatkannya pada Hari Minggu, di mana umat sebanyak mungkin dapat ikut merayakannya. Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Maria adalah seorang perempuan dan sebagai satu-satunya, yang telah dikandung tanpa noda. Sebab ia dipilih Allah untuk ditugaskan menjadi Ibunda Yesus Kristus sebagai Almasih untuk menyelamatkan umat manusia. Umat manusia yang berdosa diselamatkan oleh Kristus, dan sesudah diselamatkan oleh Yesus puterannya, manusia itu di dampinginya juga masuk ke surga. Maria adalah orang pertama yang seperti Yesus telah diangkat ke surga.

HOMILI
    Ajaran dogmatis Gereja tentang S.P. Maria diangkat ke surga telah diumumkan oleh Paus Pius XII, yang pada tahun 1950 sebagai ajaran dogmatis iman kita ini. Ajaran yang secara resmi diumumkan oleh Paus tersebut bukanlah suatu ajaran baru, sebab sudah berabad-abad diperingati dan diteruskan dalam tradisi Gereja. Paus Pius XII berkata : "Adalah suatu kebenaran iman yang diwahyukan oleh Allah, bahwa Maria sebagai Bunda Allah, yang selalu perawan, sesudah menempuh hidupnya di dunia telah diangkat ke kemuliaan surgawi". Dan Konsili Vatikan II dalam dokumennya tentang Gereja meneguhkan lagi ajaran dogmatis tentang Maria tersebut : "Perawan tak bernoda [yaitu Maria], yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaam di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan diatas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut" (LG 59).

    Ajaran dogmatis tentang Maria yang diangkat ke surga itu diterangkan dan diperdalam dalam iman umat lewat ungkapan-ungkapan atau lagu-lagu liturgis. Maria yang naik ke surga menjadi teladan hidup bagi kita sebagai umat kristiani. Misalnya sebagai teladan : Maria adalah "Virgo", Perawan namun sekaligus ia adalah juga "Mater", Ibunda. Maria disebut "Mater Gaudiosa", Bunda bergembira, tetapi juga sebagai "Mater dolorosa", Bunda sedih. Kita diajak untuk melihat Maria, yang begitu erat hubungannya dengan Kristus, sebagai teladan seorang beriman, yang dapat gembira, memang seringkali sedih atau berduka namun tenang dan mulia di dalam hidupnya. Kita mengenal patung Pieta Bunda Maria, yang sangat terkenal di Basilika St. Petrus di Roma, sebagai seorang ibu yang memangku puteranya dalam kematian-Nya. Di situ Maria menjadi lambang tumpuan bagi kita, umat beriman yang juga akan mati seperti Yesus. Tetapi, dan inilah makna perayaan Maria diangkat ke sorga!, Maria adalah teladan bahwa kita pun seperti dia sendiri juga dapat diangkat ke surga. Maka ibaratnya, dalam perjalanan hidup kita melalui samudera luas, seringkali mengalami ombak besar atau badai hebat, namun kita tidak perlu khawatir, sebab kita didampingi oleh Maria sebagai "Stella Maris", Bintang Laut. Bintang itu akan selalu tampak dan menunjukkan arah menuju pelabuhan terakhir hidup kita: yaitu surga. Kita pun akan ikut naik ke surga, asal kita sungguh mau dan berani mengikuti teladan iman dan harapan seperti Maria.

    Dengan merayakan Hari Raya Maria diangkat ke sorga dalam kemuliaannya kita diingatkan kembali, bahwa dunia ini bukanlah tanah air kita yang definitif! Kita juga diingatkan supaya perhatian kita bukan hanya ditujukan kepada kebahagiaan di dunia sekarang ini, tetapi juga kepada kebahagiaan kita kelak di surga, seperti diperoleh dan dialami oleh Bunda Maria. Kehadiran atau hidup kita sekarang adalah sementara. Kita memang harus berusaha sebanyak dan sebaik mungkin untuk dapat hidup dengan baik dan membahagiakan. Namun jangan sampai kita, di satu pihak hanya mencari apa yang membahagiakan kita sekarang, tetapi juga jangan kehilangan kejernihan hati dan harapan, apabila mengalami beribu-ribu kesukaran hidup. Justru apabila kesedihan, penderitaan dan kekecewaan tampak dalam cakrawala hidup kita, semoga cahaya Bunda Maria di surga akan bersinar lebih cemerlang. Maria dalam kerendahan hati dan dalam iman sungguh bahagia dipilih menjadi Bunda Penebus. Namun dalam perjalanan hidupnya ketika masih hidup di dunia ini, Maria selalu menyertai Yesus puteranya. Maria menyaksikan keagungan Yesus dalam sikap, perkataan, perbuatan,antara lain mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya. Namun Maria sudah mengalami tantangan, godaan, ejekan atau kritik terhadap ajaran dan perbuatan Yesus. Bahkan Maria juga mengalami sendiri segenap penderitaan dan hukuman mati yang terlaksana di Golgota : kematian Yesus di salib. Namun berkat iman dan harapan-nya yang benar dan teguh, Maria akhirnya dapat mengikuti jejak Yesus Kristus, yaitu diangkat ke surga.

    Maria adalah Bunda Tuhan Yesus Kristus, ia adalah juga Bunda kita. Bukan hanya dahulu Maria selalu menyertai hidup Yesus, sekarang pun Maria selalu menyertai hidup kita juga, yang berusaha menghayati hidup kita menurut ajaran dan teladan Yesus puteranya. Maria adalah tanda harapan yang murni bagi segenap umat yang percaya dan melakukan apa yang dilakukan puteranya itu.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/