Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA NATAL C 2018

MISA FAJAR

Yes 62:11-12; Tit 3:4-7; Luk 2:15-20;

PENGANTAR
    Untuk merayakan Hari Raya Natal, Gereja menyediakan tiga rumusan untuk perayaan Ekaristi :

1. Untuk Malam Natal.

2. Untuk Fajar.

3. Untuk siang/sore.

Pagi hari ini kita mengikuti perayaan Natal Fajar. Dan dalam misa kudus ini kita akan mendengarkan Injil Lukas 2:15-20. Sangat menarik, bahwa Kabar Gembira tentang kelahiran Yesus Penebus pertama-tama ditujukan kepada gembala-gembala, sebagai "orang-orang kecil", sederhana. Dan agar kita dapat merayakan Natal dengan sukacita sejati, marilah kita nanti merenungkan pesan Injil Lukas kepada kita.

HOMILI
    Dalam teks singkat dan sederhana Lukas menyampaikan tiga ciri khas pribadi Yesus yang dilahirkan sebagai Penyelamat/Penebus. Pertama : Yesus datang untuk menebus umat manusia, yang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Kedua: di dalam Kitab Suci Yesus disebut sebagai "Ia Yang Diurapi". Artinya, kodrat-Nya sebagai manusia diurapi dengan minyak ilahi sebagai imam, nabi dan raja. Ketiga : Kepada Yesus sebagai Raja diserahkan kepada-Nya segenap kuasa di dunia maupun di surga.

    Dalam perayaan Ekaristi di malam Natal, Lukas mewartakan tanda kelahiran Yesus kepada gembala-gembala : "Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan" (Luk 2:12). Ternyata tanda yang sangat sederhana dan sangat rendah nilainya itu merupakan suatu tanda kebesaran dan keagungan Yesus sebagai Penebus. Ternyata apa yang lemah menjadi tanda kekuatan dan kuasa. Yang rendah dan miskin ternyata menjadi tanda kekayaan luar biasa. Kalau kita mau berpikir sebagai orang yang sungguh percaya kepada Allah, kita harus juga bersedia menggunakan ukuran penilaian yang berbeda dari ukuran manusia. Artinya bukan hanya berpikir hanya menurut perhitungan melulu demi kepentingan manusiawi belaka. Peristiwa Betlehem adalah fakta nyata namun misterius sekaligus.

    Peristiwa kelahiran Yesus di Betlehem justru menampilkan keagungan dan kemuliaan Allah! Apa yang bagi kita manusia tidak mungkin, yaitu untuk menyelamatkan diri sendiri, ternyata dapat dilaksanakan oleh Allah, yang sungguh tak terbatas belaskasih-Nya. Kesediaan Allah menjadi manusia telah memulihkan kembali hubungan antara surga dan dunia, antara Allah dan manusia yang semula terpisah. Hilangnya damai dan kebahagiaan yang disebabkan oleh dosa, telah diganti dengan anugerah rahmat kasih Allah. Itulah yang dinyanyikan oleh para malaikat : "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Luk 2:14).

    Kedatangan Almasih sebagai Penyelamat diberitahukan kepada gembala-gembala. Maka mereka itu pergi mencari apa yang diberitahukan kepada mereka.Akhirnya mereka menemukan Maria,Yusuf dan Bayi yang baru dilahirkan di dalam palungan. Mereka terkejut serta kagum, dan penuh rasa syukur sungguh bergembira menemukan Penyalamat, yang lahir dalam kesederhanaan luarbiasa. Gembala-gembala itu mengatakankan kepada Maria dan Yusuf "apa yang dikatakan kepada mereka tentang Anak itu" (Luk 2:17). Dalam situasi itu Maria hanya diam, dan "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19). Sesudah itu gembala-gembala itu pulang ke rumah masing-masing untuk seperti sebelumnya menghayati hidup mereka sehari-hari.

  Pelajaran apa yang dapat kita peroleh dari gembala-gembala itu?

   Seperti disaksikan oleh gembala-gembala, ternyata bahwa di dunia ini menemukan Tuhan sebagai Penyelamat bukan berarti langsung menemukan perubahan keadaan hidup sehari-hari yang langsung serba tampak, melainkan merupakan suatu perubahan batin atau transformasi hati dari dalam! Kelahiran Yesus di Betlehem menunjukkan kepada kita adanya suatu perbedaan atau transformasi fundamental di dalam sikap dan penghayatan hidup kita. Kenyataannya Yesus lahir secara tersembunyi, namun akhirnya dikenal masyarakat. Yesus datang sebagai orang kecil dan sangat sederhana, namun akhirnya menjadi terkenal dan dihormati orang. Ia lahir dari dua orang yang sangat biasa dan sederhana, yaitu Maria dan Yusuf, namun Ia menjadi Penyelamat segenap umat manusia!

   Apa kesimpulan kita? Kita dalam merayakan Hari Raya Natal, menurut Injil Lukas kita harus makin menyadari, bahwa Allah sungguh mengasihi kita manusia. Yesus Putera-Nya rela meninggalkan keluhuran dan keagungan ilahi-Nya, dan sanggup menjadi manusia yang lemah dan berkekurangan. Dan itu dilaksanakan-Nya untuk membebaskan umat manusia, yaitu kita semua dari dosa kita.

   Dengan demikian peristiwa Natal merupakan suatu undangan, agar kita sungguh rela meninggalkan pandangan dan rasa diri sebagai pribadi yang agung, berkuasa, bangga akan kemampuan-kemampuan kita. Seperti Yesus kita harus sungguh mengasihi sesama kita, terutama mereka yang sulit hidupnya dan tak memiliki harapan. Perayaan Natal mengajak kita untuk bergembira, namun bukan hanya bagi diri kita sendiri, tetapi lebih-lebih untuk menggembirakan hati sesama kita. Kegembiraan Natal itu bukan terutama berupa kegembiraan atau sukacita profan dan materiil, melainkan sukacita murni rohani, karena Yesus telah membuktikan kesungguhan atau kemurnian kasih-Nya dalam kerelaan-Nya lahir di Betlehem. Dan itupun dalam kondisi yang lebih rendah dari pada kondisi tempat kelahiran orang yang paling miskin. Namun justru di situlah, marilah kita bersukacita atas kasih Allah kepada kita yang tak mengenal batas. Dengan latar belakang ini saya ucapan : Selamat Hari Raya Natal!

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/