Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA NATAL 2017

Yes 52:7-10; Ibr 1:1-6; Yoh 1:1-18;

PENGANTAR
    Kita merayakan Hari Raya Natal di tengah keadaan dan suasana masyarakat dunia dewasa ini, yang sangat maju dalam keberhasilan mem-permudah sarana-sarana komunikasi untuk saling berhubungan. Berkat adanya alat-alat modern saling berkomunikasi kini makin mudah. Di tengah suasana dan iklim pergaulan dan hubungan antar manusia, yang sangat komunikatif ini, peristiwa Natal adalah suatu komunikasi ilahi, yang tiada bandingannya! Marilah kita dalam merayakan Pesta Natal ini bersama-sama berusaha memahami makna Natal ini sebagai perwujudan hubungan, relasi, komunuikasi Allah dengan kita manusia di dunia ini.

HOMILI
    Dalam bacaan kedua (Ibr 1:1-6) terungkaplah, bahwa komunikasi Allah dengan umat manusia ciptaan-Nya, telah dimulai sejak Perjanjian Lama (PL). Tetapi komunikasi ilahi dalam PL yang hanya berlangsung lewat para nabi itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Pribadi kedua Tritunggal, satu-satunya Putera Allah Bapa, Sabda Abadi, mau memasuki daging kita menjadi manusia. Allah sepenuhnya, manusia sepenuhnya! Memang suatu rahasia, namun memang kenyataan yang tak akan dapat terpahami sepenuhnya! "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yoh 1:14a).

    Menghadapi peristiwa di Betlehem itu kita hanya dapat bersyukur sebulat hati, dan dengan rendah hati kita harus bertekad untuk makin memperdalam dan meyakini kepercayaan iman kita. Bagi Yesus kelahiran-Nya di Betlehem merupakan tindakan awal atau permulaan kasih-Nya, tetapi yang akan diteruskan-Nya terus menerus sepanjang hidup-Nya yang pendek di dunia ini. Dalam diri Yesus Allah menjadi manusia, dan kita manusia ini dijadikan sahabat-sahabat Yesus putera-Nya. Karena itu marilah kita semua memelihara dan melaksanakan persahabatan Yesus dengan kita ini. Apabila kita memenuhi apa yang diharapkan Allah dari kita ini, maka kita seperti Yesus akan ikut merasakan kebahagiaan Bapa-Nya di surga. Sementara itu, solidaritas di antara manusia yang hidup bersama sebagai saudara dan sahabat di dunia ini, itulah pesan Natal yang harus kita laksanakan selama hidup di dunia, menurut teladan Yesus sendiri.

    Inilah suatu peristiwa, suatu kenyataan yang belum pernah terjadi dan memang tidak dapat dipahami. Kata-kata alkitabiah itu bukanlah sekadar suatu gaya sastra, atau suatu ungkapan simbolis belaka, melainkan suatu kenyataan, yang disaksikan dan dialami oleh Yohanes sendiri, yang berkata : "Kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran" (Yoh 1:14b).

    Ternyata Allah bukan mengasihi kita dari jauh! Pesan Natal ialah bahwa Allah hadir secara baru di antara kita. Bukankah di dalam hidup kita, kita selalu mencari dan menginginkan kehadiran orang yang kita kasihi, yang kita perhatikan? Memang sukar untuk menghayati kasih dari jauh! Baik surat, foto, gambar, barang-barang peringatan, bahkan telpon, semua itu tidak cukup memenuhi keinginan kita! Kita ingin merasakan kehadiran orang yang menjadi perhatian dan sasaran hati kita. Nah, kita sungguh dika-sihi Allah, maka peristiwa Natal dua puluh abad lalu secara nyata telah memperkenalkan dan membawa Putera-Nya di tengah-tengah kita semua!

    Dalam setiap perayaan Ekaristi selalu dibuktikan : "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang, yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16). Demikianlah ternyata hidup Kristus, seperti dalam Ekaristi, selalu diarahkan kepada orang-orang lain, kepada sesama. Maka dengan demikian Gereja, yakni kita semua, juga harus berbagi hidup kita dengan sesama. Dengan kata lain, Gereja harus selalu rela menjadi pahala, pemberian, anugerah, pertolongan kepada siapapun juga. Dalam merayakan Ekaristi kita bukan hanya menerima hidup Kristus. Dalam Ekaristi kita juga harus memandang pahala begitu berharga, yaitu pahala Allah yang kita sembah sebagai Allah Tritunggal. Seperti Yesus Kristus sendiri, berbuat baik kepada sesama adalah penyembahan dan kebaktian kita yang paling asli dan murni kepada Allah Tritunggal, yang dalam tiga Pribadi selalu saling berkomunikasi.

    Apa pesan Natal bagi kita khususnya sekarang ini?

    Komunikasi Allah secara manusiawi seutuhnya dengan kita. Suatu komunikasi persaudaraan murni antar sesama justru dewasa, di tengah pelbagai ketegangan, sangat urgen dan dibutuhkan. Komunikasi manusiawi sejati hanyalah mungkin, bila ada hubungan persaudaraan. Komunikasi persaudaraan Allah dalam diri Yesus dengan kita manusia, itulah pegangan hidup kita untuk bertindak secara benar dan otentik. Tidak ada komunikasi sejati antara kita, apabila kita masing-masing masih mementingkan diri sendiri, menganggap diri lebih penting dari pada orang lain. Sikap ini tidak dilakukan oleh Yesus. Ia justru mendekati siapapun juga, yang justru dipandang rendah oleh orang lain.

    Sabda Allah yang menyapa setiap orang secara langsung, tidak dapat diganti dengan hp/sms, e-mail, blackberry, facebook, twitter atau alat apapun yang paling canggih. Alat itu membuat sabda Allah justru menjadi bisu, sebab hubungan dengan alat itu bukan merupakan hubungan pribadi, komunikasi diri yang seutuhnya. Tetapi sabda Allah juga dapat berupa terungkap lewat perbuatan! Dengan mengasihi dan berbuat baik terhadap sesama itulah komunikasi manusiawi sejati. Itulah juga komunikasi ilahi yang dimanusiawikan oleh Yesus, yang kira rayakan Hari Kelahiran-Nya sekarang ini.

    Kesungguhan atau kesejatian Gereja akan dinilai dan dihargai oleh dunia bukan karena kehebatan bangunan ataupun penampakannya yang tampak serba agung, melainkan apabila Gereja, yaitu kita semua, tampil sebagai pewarta dan pelaku kasih Allah seperti dilakukan oleh Yesus Kristus. Natal adalah ajakan bagi kita untuk menyertai jalan hidup Yesus sebagai bayi di Betlehem sampai kematian-Nya di Golgota sebagai kemenangan-Nya yang mulia. Komunikasi kasih ilahi dalam diri Bayi Yesus di Betlehem, harus menjadi komunikasi kasih sungguh manusiawi antar kita!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/