Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PRAPASKAH II/2018

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18; Rom 8:31b-34; Mrk 9:2-10;

PENGANTAR
    Dalam Kitab Suci gunung atau bukit mempunyai arti yang mendalam. Disebut misalnya : Moria, Sinai, Nebo, Karmel, Horeb, Bukit kebahagiaan, Tabor, Sion, Bukit Zaitun, Kalvari, Golgota. Gunung-gunung itu dipakai untuk menggambarkan pertemuan Allah dengan umat-Nya. Demikianlah gunung atau bukit mempunyai makna alkitabiah yang mendalam. Juga Perjanjian Lama (Bac. I) dan Perjanjian Baru (Injil Mrk) hari ini memuat dua peristiwa penting dalam sejarah keselamatan kita oleh Tuhan. Marilah bacaan-bacaan hari ini kita baca dengan seksama dan dengan hati terbuka.

HOMILI
    Kitab Suci menyebut dua gunung: Moria dan Tabor, di mana kepada kita diperlihatkan rencana dan hubungan antara Allah dan Putera-Nya Yesus sebagai Penyelamat kita.

    Pertama di dalam Bac. I (Perj. Lama) : Kepercayaan dan semangat pengorbanan Abraham, yang diminta untuk mengorbankan anaknya (Kej 22:1-19). Buknkah tuntutan Allah itu bagi pemikiran kita merupakan batu sandungan luarbiasa? Allah yang bagaimanakah sifat-Nya sebagai Allah, yang minta seorang ayah membunuh anaknya? Tetapi karena Abrahama begitu percaya akan Allah dan begitu bersedia memenuhi perintah-Nya, anaknya akhirnya diselematkan!Abraham yang begitu mendalam dan kokoh kepercayaannya, mampu menghadapi tuntutan dan ujian hidup yang begitu berat.

    Kedua di dalam Injil (Perj. Baru) : Apa yang terjadi di gunung Moria juga bergema di gunung Tabor dan kemudian juga di bukit Kalvari. Gunung Moria, Tabor dan Kalvari memiliki makna rohani yang sangat berharga. Mengapa? Karena di puncak-puncak itu kita melihat dan bertemu dengan Allah, yang tidak pernah meninggalkan kita, apabila kita mengalami penderitaan, kekecewaan, kehinaan dan kematian.Allah selalu bersama dengan kita, baik di hari terang maupun malam gelap, dalam kegembiraan maupun dalam kesusahan!

    Gunung-gunung itu memberi pelajaran kepada kita : Hanya apabila kita mau dan bersedia meninggalkann apa yang paling kita cintai dan sukai dalam hidup kita sekarang ini, dan mempersembahkannya kembali kepada Allah, sebab Ia adalah Pemberi segalanya yang baik dan selalu dapat kita harapkan, meskipun kita tidak selalu tahu bagaimana Allah berbuat baik kepada kita. Hanya dengan bersikap demikian kita selalu dapat hidup sambil setiap kali dapat bangkit kembali, dapat sembuh dari aneka penyakit, dan melihat terang yang memberi harapan. Dan dengan demikian kita setiap kali dapat memulai hidup baru.

    Kita tidak dapat menggambarkan apa yang terjadi dalam transfigurasi yang dialami Yesus di gunung Tabor (Mrk 9:2-10; Mat 17:1-9; Luk 9:28-36). Yesus berubah rupa, pakaian-Nya sangat putih berkilau-kilauan. Tampak juga Musa sebagai tokoh pembebas Israel dari perbudakan di Mesir, dan Elia sebagai nabi terbesar. Kiranya di atas gunung Tabor itu Yesus membutuhkan peneguhan pribadi-Nya dalam penampilan hidup-Nya. Sesudah memberitahukan bahwa Ia akan banyak menderita dan dibunuh, namun akan bangkit lagi, maka Yessus di puncak gunung membutuhkan peneguhan hidup-Nya. Seperti sebelumnya Ia telah mau turun ke sungai Yordan untuk dibaptis, Yesus juga berani pergi ke Yerusalem untuk melaksanakan panggilan-Nya. Apa yang dilakukan Yesus itu harus juga kita lakukan. Kita harus mengikuti Yesus naik gunung, agar dapat melihat sedikit kehadiran Allah di dunia kita, di dalam hidup kita.

    Ceritera Injil Markus juga mengingatkan kita, bahwa kita ini tidak cukup hanya memandang dan memikirkan kehadiran Allah, melainkan juga selalu bersedia mendengarkan kata-kata Yesus, dan kemudian turun kembali memasuki hidup kita sehari-hari. Peristiwa yang dialami Yesus di gunung Tabnor mendorong kita juga untuk melihat kembali pengalaman-pengalaman kita di gunung hidup kita masing-masing. Apakah pengalaman itu dapat menyinari aneka bayangan dan kegelapan hidup kita? Apakah pengalaman di puncak gunung hidup kita itu mampu memberikan keyakinan, kekuatan, keberanian dan harapan sepanjang perjalanan hidup kita? Seperti ketiga rasul, yaitu Petrus,Yakobus dan Yohanes, di gunung hidup kita, apakah kita juga mendengar suara : "Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!"?

    Sabda Allah memanggil kita untuk selalu tetap setia dan taat akan keyakinan iman kita (bukan pengetahuan iman)! Sebab kita ini hidup di bawah, di daratan, berada dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungan dengan orang banyak dalam masyarakat. Kita kerapkali tidak dapat melihat kemuliaan Kristus, tetapi justru kehinaan Kristus yang hadir dalam orang-orang tertindas dalam masyarakat!

    Yesus harus dan telah mengalami berada di puncak dua gunung/bukit: Tabor dan Golgota. Kita pun, bila ingin menjadi murid-Nya yang sejati, harus bersedia mempunyai pengalaman di kedua gunung itu juga, agar dapat sungguh melihat kemuliaan Allah. Transfigurasi atau perubahan rupa Yesus menegaskan kepada kita, bahwa kehidupan mulia yang dianugerahkan Allah kepada kita, harus disertai kematian dahulu. Tidak ada jalan lain!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/