Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU PALMA 2018

Yer 31:31-34; Ibr 5:7-9; Yoh 12:20-33;

PENGANTAR
    Penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus merupakan inti-sari renungan, yang dihidangkan kepada segenap umat kristiani selama Pekan Suci, yang dimulai pada Hari Minggu Palma ini. Marilah kita dengarkan kisah tentang saat-saat penentu terakhir hidup Yesus di dunia ini. Penderitaan Yesus harus memasuki dan menembus hati kita, yang sering mati rasa di dalam hidup kita. Selama Pekan Suci kita dapat melihat dan mengenal siapakah Yesus sebenarnya, dan juga siapakah orang-orang yang menganiaya Dia. Tetapi kita bukan hanya mengenal orang-orang sezaman dengan Yesus, tetapi juga orang-orang sezaman dengan kita, yang membenci, memusuhi, menekan, menghina dan menganiaya sesamanya. Apakah kita termasuk juga dalam kelompok mereka itu?

HOMILI
    Dari kisah penderitaan Yesus kita dapat menggambarkan kesedihan-Nya, yang merasa ditinggalkan teman-teman dan murid-murid Nya. Nasib Yesus tergantung pada salib. Yesus dikhianati Yudas Iskariot. Ketika ditanya oleh Pilatus Yesus tidak menjawabnya. Dan sebaliknya Pilatus tampak tidak berusaha menolong Dia. Bahkan murid-muird-Nya sendiri yang semula meninggalkan keluarga dan teman-teman untuk mengikuti Yesus, pada saat itu juga meninggalkan Dia.

    Peristiwa yang berlangsung dalam kisah Injil Markus ialah, bahwa Yesus dan murid-murid pergi dari ruang perjamuan malam terakhir menuju ke Getsemani. Sesudah diadili oleh Pilatus, Ia dibawa ke Golgota. Dan sesudah disalib Ia dibawa ke tempat makam. Ternyata dari deretan peristiwa tersebut, Yesus telah mengubah atau mencungkirbalikkan tatakerja dunia kita, dan mengganti urutan nilai-nilai duniawi! Ia mengajarkan kepada kita, bahwa otoritas dan pimpinan yang benar adalah pelayanan dengan dedikasi dan kemurahan hati kepada orang lain. Kebesaran yang sejati ialah justru kerendahan hati. Dan dalam kerendahan hati terungkaplah kasih yang sejati.

    Ada suatu pelajaran lain yang sangat perlu kita pelajari dari kisah panjang sengsara Markus ini. Yaitu tampil seorang perempuan yang meminyaki kepala Yesus dengan minyak narwastu murni yang sangat mahal harganya. Perempuan itu dikritik pedas oleh banyak orang. Apakah pelajaran perempuan itu bagi kita? Murid-murid Yesus yang laki-laki tidak setia kepada Guru mereka, malahan meninggalkan-Nya. Sedangkan si perempuan yang tak terkenal itu justru membuktikan kesetiaan, keberanian dan kasihnya yang murni kepada Yesus. Isi pelajaran itu ialah, bahwa hidup kita harus kita buat bagikan buli-buli berisi minyak murni, yang berharga bagi Tuhan dan bagi sesama kita! Hidup kita jangan hanya kita hayati untuk kepentingan kita sendiri. Kita harus rela memberikan apa yang berharga dan apapun bentuknya, untuk mewujudkan kasih kita yang sejati kepada sesama.

    Paus Yohanes Paulus II, yang sekarang adalah Santo, ketika masih menjabat sebagai Paus, dalam melaksanakan upacara Jumat Suci di Roma mengucapkan kata-kata penuh makna ini :

"Apabila bukan Sang Penebus yang diadili, siapakah dapat memahami penderitaan orang-orang yang di adili secara tidak adil?"

"Apabila bukan Sang Raja yang dicucimaki dan dihina, siapakah dapat menanggapi dan merasakan keinginan dan kebutuhan jutaan orang yang hidup tanpa harapan dan tidak dihargai?"

"Apabila bukan Putera Allah yang disalib, siapakah dapat memahami dan ikut merasakan kesedihan dan kesepian kehidupan sekian banyak orang yang hidup di tengah kemiskinan tanpa harapan?"

    Betapa kita ini bersyukur dalam hati, bangga dan bergembira, bahwa kita semua ini memiliki seorang Penyelamat, yang sungguh memahami dan memperhatikan kondisi hidup kita! Ia selalu bersama kita, ambil bagian dalam kesedihan, kesukaran dan penderitaan kita! Maka bersediakah dan sanggupkah kita membalas kasih Penyelamat itu, khususnya juga terhadap sesama kita tanpa pandang bulu?

    Sebagai penutup, dalam Bacaan II St. Paulus memberi nasihat kepada jemaat di Filipi, tetapi juga kepada kita, agar kita mau mengosongkan diri kita dan berani mengambil rupa diri sebagai seorang hamba. Mengapa? Sebab itulah sikap dasar hidup dan perbuatan, yang dilakukan oleh Yesus Kristus sendiri, yaitu Tuhan kita!

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/